Mohon tunggu...
TauRa
TauRa Mohon Tunggu... Rabbani Motivator, Penulis Buku Motivasi "The New You" dan Pembicara Publik

Rabbani Motivator, Leadership and Sales Expert and Motivational Public Speaker. Instagram : @taura_man Twitter : Taufik_rachman Youtube : Taura_Official email : taura_man2000@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan Artikel Utama

Uniknya Politik "Cepat Kaget Gampang Kagum" Masyarakat Kita

18 September 2020   22:13 Diperbarui: 19 September 2020   13:09 435 42 5 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Uniknya Politik "Cepat Kaget Gampang Kagum" Masyarakat Kita
ilustrasi mengagumi pemimpin. (sumber: KOMPAS/DIDIE SW)

Banyak orang (tentu tidak semua), tanpa dia sadari sebenarnya memiliki mental "cepat kaget gampang kagum" ini. Pemilihan ranah politik sebagai judul hanyalah salah satu contoh dari sekian banyak contoh yang bisa kita lihat dan rasakan di tengah masyarakat kita.

Ketika di sebuah kota di bangun sebuah Mall baru dan terbesar, maka semua orang dengan cepat mengatakan..."Uih, luar biasa ya Mall nya, ayuk kita ke sana!" Cepat kagum. Ada lagi yang mengatakan, "Oh ya, udah selesai diresmikan kah Mall-nya? Ayoo kita kesana..!" Gampang Kaget.

Contoh lain, ketika si A, tetangga kita meninggal, ada yang langsung mengatakan.."Ih, gak nyangka ya, cepet banget meninggalnya.." Kaget. Padahal di waktu dia mengatakan "gak nyangka", sesungguhnya dia sedang menyangka yang tidak disangkanya, bingung kan? 

Lalu ada lagi yang mengatakan, "Kagum saya dengan kebaikan bapak ini, dia pernah berbagi beras ke warga, meski dia tidak pernah terlihat ke Masjid.." Kagum plus gosip dan begitu selanjutnya. 

Singkatnya, mental cepat kaget dan gampang kagum seperti bola kaki (alternatif selain bola salju) yang terus berputar dan bisa jadi suatu hari mengenai kita.

Jika mental itu hanya berputar di area kehidupan sehari-hari, mungkin masih bisa "ditoleransi", apalagi jika tidak ada kepentingan umum yang melekat di dalamnya. Tetapi akan menjadi riskan, ketika mental ini melekat pada sendi-sendi politik atau yang berkaitan dengannya.

Ketika melihat seorang tokoh yang di anggap melakukan sesuatu yang hebat (padahal mungkin tidak sehebat yang terlihat), maka pengagumnya mulai selalu menyisir semua kebaikannya, padahal dia sendiri tidak pernah mengikuti keseharian tokoh yang dikaguminya itu, (Gampang kagum). Si pengagum selalu menceritakan di berbagai media yang dipunyainya tentang kehebatan tokohnya itu dan begitu seterusnya.

Ada lagi ketika seseorang melakukan kesalahan (padahal setiap kita bisa salah dan pasti pernah salah), maka seluruh orang selain pengagumnya terus menyuarakan.."Tidak nyangka ya..", "Sangat disayangkan sikap itu..", "Saya kaget sekali mendengar berita itu.." dan lain sebagainya (Cepat kaget). Seolah-olah, yang mengatakan lebih baik dari yang dikatakan, padahal sama sekali belum tentu.

Dan mengapa ini menjadi penting? Karena opini yang dilontarkan bisa menggiring opini orang lain ke arah yang belum tentu benar. Apalagi jika hal itu terkait politik, maka semua elemen masyarakat seolah-olah adalah "ahli" di bidang "opini politik" dan bersiap menuangkan isi kepalanya ke orang lain.

"Banyak orang yang ketika berbicara selalu melebihi apa yang diketahuinya" (TauRa)

Ketika kita sudah bicara melebihi apa yang kita tahu, maka disitu mulai terjadi pergeseran nilai. Pada tulisan sebelumnya saya sudah membahas tingkatan orang berilmu yang mesti kita pahami, kalau kita paham, tentu kita akan lebih berhati-hati dalam berargumen. Lalu apakah salah kalau saya berargumen? Tentu saja tidak, selama argumentasi itu tidak melebihi apa yang kau ketahui.

Lalu, jika ada yang bertanya, emangnya kenapa kalau saya berargumen melebihi pengetahuan saya? Silakan saja di jawab sendiri. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x