Mohon tunggu...
Taufiq Sudjana
Taufiq Sudjana Mohon Tunggu... Menulis adalah kegiatan lain di sela pekerjaan di sebuah sekolah swasta di Kota Bogor.

Bacalah dengan Nama Tuhanmu, dan ... menulislah dengan basmalah!

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama Pilihan

Blended Learning, Angin Segar juga Pesona yang Menyesakkan

11 Mei 2021   09:53 Diperbarui: 11 Mei 2021   09:59 270 6 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Blended Learning, Angin Segar juga Pesona yang Menyesakkan
Ilustrasi Blended Learning (Sumber: mditack.co.id)

Akhir-akhir ini istilah blended learning menjadi topik perbincangan yang cukup hangat dibicarakan. Sepintas lalu, blended learning membawa pesona tersendiri bagi dunia pendidikan, terutama setelah setahun pandemi Covid-19 melanda dunia.

Pesona blended learning, seolah membawa angin segar dalam menghadapi proses Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Bahkan dinilai menjadi salah satu alternatif pembelajaran yang sedang dipersiapkan menghadapi era baru pasca pandemi.

Lantas, bagaimana dengan kesiapan dunia pendidikan di Indonesia, lebih khusus lagi kesiapan sekolah-sekolah untuk beradaptasi dengan metode yang memesona ini?

Cukup Menyesakkan

Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Agama (Balitbang Kemenag) merilis laporan hasil Survei Pelaksanaan Belajar dari Rumah pada Masa Covid-19 di Madrasah dan Sekolah. Survei yang dilaksanakan secara daring pada Mei 2020 itu memfokuskan responden siswa dan orang tua.

Dari survei itu diperoleh responden siswa 32.579 orang dan orang tua sejumlah 18.280 orang. Hasil survei tentang kesulitan yang paling dihadapi dalam pembelajaran dari rumah selama Covid-19 diperoleh data 17% menyatakan bahwa orang tua tidak terbiasa mendampingi anak belajar di rumah. 21% orang tua menyatakan keterbatasan biaya, dan yang paling besar persentase tentang keluhan sarana prasarana yang terbatas sebesar 35%.

Grafik Kesulitan yang Dihadapi Orang Tua dalam Pembelajaran dari Rumah-dokpri
Grafik Kesulitan yang Dihadapi Orang Tua dalam Pembelajaran dari Rumah-dokpri
Dari responden siswa diperoleh data tentang kesulitan yang paling dihadapi dalam pembelajaran dari rumah sebanyak 22% karena keterbatasan pembiayaan, 28% disebabkan sarana prasarana yang terbatas, 33% tidak terbiasa belajar di luar kelas, dan 14% menjawab alasan lainnya, sementara mereka yang menyatakan keterbatasan dukungan orang tua sebanyak 3%.

Mengenai media yang paling sering digunakan anak untuk belajar dari rumah diperoleh hasil terbesar 73% penggunaan handphone. Sementara yang menggunakan perangkat laptop/komputer hanya 8%. Sisanya, 9% menggunakan Lembar Kerja Siswa (LKS), 7% buku, dan 3% televisi. Radio dan surat kabar tidak ada yang menyebut penggunaannya dalam pembelajaran dari rumah (0%).

Kesediaan waktu khusus orang tua dalam mendampingi anak dalam pembelajaran di rumah diperoleh hasil 66% orang tua selalu mendampingi anaknya, 33% menyatakan kadang-kadang, dan 1% menyatakan tidak pernah.

Sementara dari survei kegiatan belajar mengajar jarak jauh di tengah pandemi Corona (COVID-19) yang dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) diperoleh hasil 87% aktivitas guru hanya sekedar memberikan soal dan tidak memanfaatkan teknologi di era digital ini. Aktivitas dengan buku teks posisinya hanya 40%. Selain itu, Kemdikbud melalui Plt. Pusdatin Kemendikbud menyebut rata-rata siswa tidak bisa memahami pelajaran dalam kondisi kegiatan belajar jarak jauh. Siswa juga tidak berkonsentrasi secara penuh jika belajar di rumah.

Potensi learning loss atau kehilangan kompetensi belajar siswa akibat pembelajaran jarak jauh (PJJ) pun diperoleh dari hasil survei Kemdikbud. Terdapat 20% sekolah secara nasional menyatakan sebagian siswa tidak memenuhi kompetensi. 20% inilah yang diduga mengalami learning loss, kata Plt Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan (Kabalitbangbuk) Kemendikbud.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN