Mohon tunggu...
Taufiq Rahman
Taufiq Rahman Mohon Tunggu... profesional

Menyukai sunyi dan estetika masa lalu | Pecinta Kopi | mantan engineer dan titik titik...

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup Pilihan

Menikmati Jakarta, Mengakrabi Trotoar

30 Oktober 2020   15:31 Diperbarui: 30 Oktober 2020   17:15 65 30 6 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Menikmati Jakarta, Mengakrabi Trotoar
Sumber foto: ANTARA FOTO - Akbar Nugroho Gumay

ILMUWAN dari Universitas Stanford Amerika Serikat boleh saja mengatakan bahwa orang Indonesia adalah orang paling malas sedunia dalam urusan jalan kaki. Kata mereka, seperti yang diterbitkan di jurnal Nature, orang-orang Indonesia itu cuma melangkah sejauh 3.513 kali setiap harinya. Bandingkan dengan orang-orang Hongkong yang, katanya, orang paling rajin berjalan kaki sedunia. Mereka berjalan kaki sejauh 6.880 langkah setiap hari.

Apakah 'tuduhan' ilmuwan di atas itu benar adanya? Jawabnya, paling tidak menurut pendapat saya; bisa benar bisa juga tidak. Apa yang mereka sampaikan hanyalah analisa dari hasil penelitian menggunakan Argus Tracking - aplikasi kesehatan atau pemantau aktifitas. Bisa jadi, orang-orang Indonesia yang tinggal di pelosok-pelosok, yang tidak dapat dipantau dengan Argus, yang faktanya, banyak dari mereka yang  berjalan kaki berkilo-kilo meter setiap hari, menjadi tidak terwakili.

Kembali lagi ke soal tuduhan itu... Saya sebenarnya merasa tidak terima jika saya dituduh malas berjalan kaki. Mengapa? Karena saya menyukai jalan kaki. Tidak sekali atau dua kali, tetapi saya telah berpuluh-puluh kali, beratus-ratus kali berjalan kaki, berangkat dan pulang dari kostel ke kantor saya di Mega Kuningan, Jakarta Selatan.

Sebagaimana pernah saya kisahkan, pada sekitar awal tahun 2013, setelah saya lelah berpindah-pindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain sampai lebih dari 15 kali, saya akhirnya memilih Jakarta sebagai kota terakhir perjalanan (karir) saya.

Beberapa hari sebelum saya tiba di Jakarta, saya mendadak kebingungan menjawab pertanyaan; akan tinggal di mana di kota ini? Ada beberapa opsi yang sempat saya pikirkan waktu itu; membeli rumah, sewa apartemen, atau nge-kos.

Dan, setelah beberapa hari saya menimbang-nimbang beberapa hal, saya pun akhirnya memutuskan memilih kos: lebih tepatnya kostel (kos dan hotel). Saya sengaja menulis 'kostel' karena memang seperti itulah yang saya baca di kartu nama dan kuitansinya. Siapapun bisa menyewa harian, mingguan, dan bulanan.

Kostel yang saya sewa terletak di bilangan Karet, Setiabudi, Jakarta Selatan. Sedangkan kantor saya beralamat di Mega Kuningan, Jakarta Selatan. Jika saya lihat di Google-map, jarak dari kostel sampai kantor saya itu tidak kurang dari 2,2 km dengan berjalan kaki. Sekali jalan.

Nah, karena saya pulang dan pergi ke kantor selalu dengan berjalan kaki, maka setiap hari, saya berjalan tidak kurang dari 4,4 km.

Meski (mungkin) bagi sebagian orang jarak 4,2 km itu bisa disebut 'agak jauh' jika harus ditempuh dengan berjalan kaki, tetapi (jujur saja), selama hampir 7 tahun 10 bulan saya tinggal di Jakarta, mulai Januari 2013 sampai Oktober 2020, saya selalu konsisten berjalan kaki pulang dan pergi ke kantor. Selama saya tinggal di Jakarta, sekali lagi, belum pernah sekalipun saya menggunakan mobil dari kostel ke kantor. Bagaimana dengan motor? Hampir sama. Hanya sesekali saja - mungkin 2 atau 3 kali saja dalam sebulan, saya menggunakan motor dari kostel ke kantor.

Beberapa teman saya, kadang-kadang, mengatakan saya adalah orang yang "aneh" karena mau saja "menyiksa diri", bersusah-payah, berjalan kaki berkilo-kilo meter setiap hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun dan membuat nganggur begitu saja mobil putih hatchback terparkir di halaman kostel.

Barangkali ada yang bertanya; bagaimana jika saya ingin bertemu dengan klien penting, atau principle, atau rapat di tempat yang agak jauh? Jawabannya: saya tetap berjalan kaki pergi ke kantor saya. Nah, setelah sampai kantor, saya baru menggunakan mobil kantor atau grab.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN