Mohon tunggu...
Taufiq Rahman
Taufiq Rahman Mohon Tunggu... profesional

Menyukai sunyi dan estetika masa lalu | Pecinta Kopi | mantan engineer dan titik titik...

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Aku Kehabisan Kopi

30 September 2020   09:34 Diperbarui: 30 September 2020   10:05 91 23 7 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Aku Kehabisan Kopi
coffee-5f73eeb2097f3635ab7db382.jpg

Tiba-tiba saya terhenyak, jarum jam sudah hampir menunjukkan angka 23.40 dan saya, ternyata, masih saja ada di kantor. Menyibukkan diri di depan laptop. Sudah sejam lebih, ya, hampir sejam lebih. Itu waktu yang cukup lama saya habiskan hanya untuk membuat beberapa larik kalimat.

Saya benar-benar kehabisan ide dan inspirasi semalam! Tidak ada cerita, tidak ada ide, bahkan tidak ada kalimat yang bisa kubuat sebegitu mudah seperti hari-hari sebelumnya.

Seperti sudah pernah saya tulis di artikel saya yang lain; saya (memang) terlalu terobsesi bekerja dengan prinsip "do everything on your to-do list" - mengerjakan pekerjaan yang sesuai dengan daftar. Memang sudah menjadi kebiasaan saya selama belasan tahun bahwa sebelum saya memutuskan pulang sekedar untuk merebahkan tubuh, saya selalu dan harus menuliskan jenis pekerjaan apa yang harus saya kerjakan untuk esok hari.

Kelihatannya sangat ideal dan tampak seperti seperti itulah seharusnya orang merencanakan pekerjaan. Namun, sebenarnya tidak. Yang benar seharusnya "Do the important stuff first" - saya harus mengerjakan pekerjaan berdasarkan prioritas. Begitu..

Sejak pagi setelah absen di aplikasi teams, saya sibuk mengumpulkan dan memverifikasi bukti-bukti implementasi HSE (Health, Safety and Environmental), lalu membuat laporan-laporan proyek, membuat proyeksi dan WBS (Work Breakdown Structure), melakukan review contract, rapat dengan zoom, mengurusi usaha jualbeli online saya, membuat draft surat-surat penting, dan lain-lain.

Yang paling sulit adalah membuat draft surat-surat penting. Kelihatannya sepele, tetapi sebenarnya tidak. Ini adalah draft surat tidak biasa karena terkait dengan kontrak, klaim dan debit note sekian juta dollar, dan bahkan bisa mengakibatkan tindakan litigasi yang mahal harganya - misalnya dibawa ke pengadilan. Sudah setahun lebih saya mengurusi perkara ini namun tidak kunjung selesai - dan naga-naganya tidak bakal selesai dalam waktu dekat.

Semua daftar dan jenis pekerjaan yang harus saya selesaikan kemarin sudah saya buat sehari sebelumnya termasuk pekerjaan untuk Kompasiana; memeriksa lini masa dan memposting satu buah artikel. Tetapi, sial, saya merasa keteteran kemarin. Beberapa pekerjaan tidak selesai, meski saya sudah bekerja hingga jam 22.00 lebih - dan baru keluar dari kantor jam 23.40. Malam sudah hampir dini hari!

Mengapa pekerjaan saya tidak lekas selesai? Jawabannya: karena saya tidak bekerja berdasarkan daftar prioritas!

Itulah kelemahan saya..

Jam 22.30 malam. Saya mungkin sudah lelah dan ingin pulang. Tetapi, ups, artikel untuk Kompasiana ternyata belum rampung! Saya lalu mengurungkan niat untuk pulang dan memaksakan diri untuk merampungkan artikel tersebut. Tetapi, alamak, saya benar-benar kehilangan ide, buntu, macet, dan kehabisan inspirasi. Beberapa kalimat berhasil saya buat, tetapi, akhirnya saya hapus. Saya membuat lagi, menghapusnya lagi. Begitu seterusnya, dan seterusnya..

Pada titik dimana tangan, mata, dan otak sudah tidak lagi bisa diajak bekerja dan merespon dengan baik, maka, saya akhirnya menyadari bahwa memaksakan diri harus membuat dan memposting artikel malam itu juga pasti bisa saya sebut sebagai upaya sia-sia. Bahkan, sampai kopi di depan meja saya sudah habis pun, saya pasti tidak akan berhasil!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x