Mohon tunggu...
Taufiq Rahman
Taufiq Rahman Mohon Tunggu... profesional

Menyukai sunyi dan estetika masa lalu | Pecinta Kopi | mantan engineer dan titik titik...

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama FEATURED

Karena Jakarta Menyimpan Kisah Pahit dan Manis

23 Juni 2020   14:12 Diperbarui: 22 Juni 2021   07:25 418 28 9 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Karena Jakarta Menyimpan Kisah Pahit dan Manis
Monumen Nasional, ikon DKI Jakarta (Foto: KOMPAS.com/Vitorio Mantalean)

Tak terasa, DKI Jakarta ternyata sudah merayakan hari ulang tahun (HUT) ke-493-nya pada Senin (22/6/20), kemarin. Saya pun baru ngeh setelah membaca tweet Pak Ahok yang memberi ucapan HUT Jakarta, dengan gambar latar salah satu karyanya yang gagah: Simpang Susun Semanggi.

Lantas, apakah melalui tulisan ini saya ingin mengulas ucapan HUT Jakarta dari Koh Ahok itu? Atau membahas karya nan megah Simpang Susun Semanggi itu?

Tidak. Sama sekali tidak. Melalui tulisan pendek ini saya hanya ingin menuliskan dan membagikan kepada pembaca K bagaimana wajah Jakarta seperti yang saya lihat. Tetapi, sekali lagi, ini adalah versi saya. Versi Anda bisa saja jauh lebih menarik.

Saya sudah tinggal di Jakarta selama kurang lebih 7 tahun. Jakarta, bagi saya, adalah kota yang eksklusif.

Gedung-gedung pencakar langit berdiri menjulang, lancar, dan macet lalu lintasnya selalu menghiasi jalan-jalan pada setiap harinya, beserta kisah para artis dan pemimpi yang mendeklarasikan Jakarta sebagai puncak dari segala peradaban manusia dan kampung di Indonesia.

Persaingan, kontestasi, kekerasan, dan kejahatan yang terjadi setiap hari di Jakarta seringkali ikut menyesaki pemberitaan-pemberitaan dan topik perbincangan. Di koran dan televisi.

Jika ingin tahu bagaimana wajah kejahatan di kota ini, cobalah sekali waktu membaca koran lampu merah. Di sana, Anda bisa temui cerita copet yang digebuki massa, cerita selingkuh, cerita orang bunuh diri, atau cerita driver ojol yang pulang dengan luka-luka karena dibegal. Motor yang belum lunas dibawa kabur penjahat!

Cerita bagaimana Kang Maman yang lulusan perguruan tinggi bertahan hidup di Jakarta juga menjadi cerita yang menarik perhatian saya. Segala macam pekerjaan sudah dia jalani: menjadi kuli proyek, penyapu jalanan, pesuruh kantor, staf logistik, sampai akhirnya takdir terbaik menghampirinya: menjadi tukang gambar dan estimator.

Gaji pertama yang dia dapat sebagai kuli proyek pembangunan gedung adalah sebesar Rp 720 ribu per dua minggu. "Saya tinggal di bedeng, Mas, untuk mengirit ongkos," katanya mengisahkan.

Anda sebaiknya tak usah bertanya berapa jumlah orang di Jakarta yang serupa dengan Kang Maman. Saya juga tak akan kesulitan menunjukkan Anda di mana banyak warga miskin tinggal dan menyambung hidup.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x