Mohon tunggu...
Taufiq Rahman
Taufiq Rahman Mohon Tunggu... profesional

Menulis karena ingin berbagi

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

"L' Altra Par", Media Sosial, dan Hilangnya Koeksistensi sebagai Manusia

18 Februari 2020   10:40 Diperbarui: 19 Februari 2020   23:55 712 13 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
"L' Altra Par", Media Sosial, dan Hilangnya Koeksistensi sebagai Manusia
ilustrasi menghindari kebisingan media sosial. (sumber: myella via kompas.com)

Saya tertarik melihat film animasi L' Altra Par, yang dibagikan di kanal You Tube, yang link-nya dikirimkan oleh teman saya. Kemarin.

L' Altra Par adalah film Mesir pendek, yang hanya berlangsung 3 menit, yang dibuat oleh oleh pemuda 20 tahun, yang memenangkan penghargaan kategori film pendek terbaik di festival film Venice. 

Film tersebut jadi menarik, setidaknya bagi saya, karena film itu mengusung tema menarik -tema yang tentang kehidupan asli kita hari ini. Yang menggambarkan bagaimana dan seperti apa kebanyakan dari kita hari ini. L' Altra Par berkisah tentang meningkatnya introvert sosial manusia.

L' Altra Par tidak hanya memberitahu seperti apa kita hari ini, tetapi juga menyindir.

Dan, konten film pendek itulah yang lantas membuat saya tertarik untuk menuliskan artikel ini untuk menceritakan dan menegaskan bahwa apa yang dikisahkan oleh film pendek L' Altra Par itu adalah benar adanya. It's really our live.

L' Altra Par, bagi saya, juga seperti menggenapi apa yang ada dalam pikiran Giri Lumakto, yang pernah dituangkan melalui tulisannya yang diberinya judul "Narasi Manusia-manusia Notifikasi", yang pernah diposting dan jadikan artikel utama oleh Kompasiana, pada 2 Oktober 2018.

Hal yang ingin saya sampaikan, bahwa L' Altra Par dan tulisan Giri dalam "Narasi Manusia-manusia Notifikasi" itu, sejatinya, menurut saya, adalah setema karena keduanya sama-sama menyuguhkan cerita bagaimana orang (kebanyakan dalam tanda kutip) rela mengisolasi diri mereka sendiri dalam tempurung teknologi dan kesadaran betapa kita ternyata telah kehilangan koeksistensi kita sebagai manusia.

Baca: Narasi Manusia-manusia Notifikasi

Buktinya, tema apa saja yang sudah kita baca, lalu kita perdebatkan dan pertukarkan? Apakah hari ini kita tetap bisa merawat rasa teposeliro sebagai warisan sangat luhur para pendahulu kita? Apakah keinginan hidup kita untuk berdampingan secara damai dan rukun dengan mereka yang berbeda atau bertentangan pandangan politiknya kian membaik hari ini?

Saya sebenarnya bersepakat sebelumnya adanya anggapan sebagian orang bahwa media sosial telah membawa banyak dampak positif bagi kehidupan manusia.

Tetapi, barangkali, jika kita melihat dan mencermati fakta yang terjadi hari ini, bahwa banyak manusia telah (rela) mengisolasi diri mereka dalam jeruji teknologi dan mulai hilangnya koeksistensi sebagai manusia, seperti yang dikisahkan oleh film L' Altra Par, adalah juga benar adanya.

Bukti dan fakta bahwa revolusi cara bersosialisasi itu juga telah mendatangkan polusi yang dampaknya tidak ringan juga muskil dibantah. 

Buktinya, polusi ODE atau Online Disinhibition Effect, yang dipopulerkan oleh Suler, yang didefinisikan sebagai kecenderungan orang untuk merasa bebas menumpahkan semua ekspresi dan emosi kepada yang lainnya ketimbang pada saat mereka bertemu langsung, kini sedang mewabah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN