TAUFIQ RAHMAN
TAUFIQ RAHMAN

Tinggal di Surabaya, bekerja di Jakarta. Senang menulis dan berbagi kisah inspirasi, agar orang lain bisa bermimpi dan berbuat lebih.

Selanjutnya

Tutup

Jakarta

Catatan Mudik (5) Bagian Terakhir: Secangkir Kopi untuk Teteh

11 Agustus 2017   14:19 Diperbarui: 11 Agustus 2017   14:25 452 0 0

Ini kisah tentang si teteh.

Aku selalu merasa tak tega ketika melihat banyak orang bahkan bapak-bapak berumur, yang genit menggoda si teteh. Namun, tak satu kesempatanpun aku melihat si teteh marah. Yang aku amati malah sebaliknya. Ia bahkan hampir selalu membalas dengan senyum paling manis yang ia punyai kepada banyak pelanggan yang menggodanya itu. Meski si teteh tak pernah memoles pipinya dengan bedak atau mengecat bibir tipisnya dengan gincu, tapi senyumnya tetap manis.  

Kadang-kadang banyak orang suka jahil dengan menjentikkan jari atau memegang tangannya agak lama sambil terus memegang bungkus rokok. Tapi, ya itu tadi.. si teteh tak pernah marah. 

Namun sungguh sayang, sejak beberapa hari terakhir, aku tidak melihatnya lagi.

Dari yang aku dengar, aku bisa tahu bahwa pelanggan-pelanggan yang kerap menggodanya setiap hari itu, begitu mengangeninya. Mereka pasti kangen melihat wajah si teteh dan berharap si teteh kembali melayani mereka menyuguhkan sarapan, menyeduhkan kopi, atau sekedar membukakan bungkus dan menjulurkan sebatang rokok filter. Jika si teteh membantu menyulutkan korek, maka ....suit.. suit....  Kalimat-kalimat nakal lalu menghambur keluar.

"Kemana dia ya bu?" tanyaku ke mpok Nuri, pemilik warung tempat si teteh bekerja selama ini. Warung mpok Nuri terletak di pojokan gang kecil, sekira 5 menit jalan kaki dari kosan saya. Jika ada 2 motor lewat, maka salah satu motor harus rela berhenti. Namun, meski kecil, banyak tukang-tukang yang bekerja di proyek pembangunan gedung pencakar langit mampir di warung itu. Aku pikir, mungkin karena si teteh lah, yang menjadi magnet sehingga warung bercat biru kusam itu selalu ramai.

Namun, sejak si teteh tidak ada, aku lihat warung mpok Nuri agak menyepi.....

"Sebelum pulang mudik kemarin, si teteh bilang, ia pamit tidak balik lagi ke Jakarta, pak, " kata mpok Nuri sambil tetap melayani pembeli. "Katanya, ia mau sekolah di balai kerja apa gitu. Saya tidak tahu. Katanya, Ia ingin bekerja di Taiwan......"

"Oooooohhhh....." hanya itu kalimat yang keluar dari mulutku. Aku menyodorkan uang dan segera bergegas pulang.  

Sepanjang jalan, cerita-cerita yang pernah keluar dari mulut si teteh seperti terdengar lagi. Aku sama sekali tak mengira, jika si teteh harus menjadi TKI. Semoga kamu berhasil ya teteh...harapku dalam hati.  

Sejak si teteh bercerita kepadaku tentang keadaannya yang sebenarnya, entah kenapa aku tiba-tiba merasa iba dan menyayangkan nasibnya. Dia mengaku, sekarang dia-lah yang harus menjadi tumpuan keluarga. Dengan ijazah diploma dua-nya, aku lihat ia tampak terseok-seok hidup di Jakarta. Sayang sekali, dengan pendidikan yang lumayan dan paras yang cantik, ia rela menjadi pembantu warung.

"Tidak apa-apa Pak. Hanya sementara kok. Daripada menganggur dan menjadi beban di rumah....." katamu waktu itu.

Teteh... aku harus angkat secangkir kopi untuk jawabanmu!

Dan sekarang, setelah aku mendengar dari mulut mpok Nuri, aku harus angkat secangkir kopi sekali lagi! Meski baru rencana, kamu sudah memberikan contoh kepada kami bagaimana kita harus ikut sedikit meringankan beban Pemerintah Daerah Jakarta. Ketika ia megap-megap hidup di Jakarta, yang aku dengar dari mpok Nuri, ia tak pernah sekalipun mengomel-ngomel atau menghujat Pemerintah, yang kata orang-orang gagal menyediakan lapangan pekerjaan.

Sekali lagi, meski baru rencana, kamu sudah sedikit meringankan tugas pak Djarot yang pusing harus memikirkan dampak urbanisasi yang menggila. Tak perlu menyodorkan kepada saya angka statistik atau tabel atau grafik untuk menunjukkan betapa peningnya sang Gubernur. Jika pembaca mempunyai waktu senggang, mari aku ajak berkeliling Jakarta menyusuri gang-gang yang sempit di belakang gedung-gedung megah, di bantaran sungai, di bawah tol/rel kereta api. Atau coba datanglah ke tempat-tempat prostitusi murahan di Jakarta malam hari. Di sana, kamu akan mengerti betapa berat beban Pemerintah Daerah Jakarta.

Satu hal lagi, dan ini yang paling saya kuatirkan dan menjadi PR besar pakdhe Jokowi, bahwa orang-orang atau sekelompok orang dengan beban hidup yang berat, yang tak mendapatkan pekerjaan dan rumah yang layak, dan tak mendapatkan cipratan remah-remah kecil kue gurih pembangunan, sangat mudah dihasut dan disulut oleh berita-berita pelintiran dan simpang siur.

Teteh Nini, kamu sangat berani dan kuat. Keputusan yang kamu ambil amat berbeda dibandingkan dengan jawaban dari hampir 40 orang yang sempat aku tanyai di sepanjang Jalan Pantura, pada saat mudik kemarin. Tidak satupun dari mereka yang mengatakan tidak akan kembali ke Jakarta. Hampir seperempatnya mengatakan akan membawa serta kerabat atau teman jika pulang kembali ke Jakarta. Semua, ya semua, 40 orang itu mengatakan akan pulang kembali ke kampung halaman tahun depan dengan naik motor kembali.

Hanya satu hal yang ingin aku tulis, di bagian akhir catatan perjalanan jurnalistik saya, bahwa saya ternyata masih bisa menemukan kisah tentang usaha seorang rakyat kecil dalam memberikan sedikit kontribusinya meringankan beban berat Pemerintah Daerah Jakarta.

Ke Jakarta aku.... Kan kembaliiiii. Walaupun apaaaaa yang kan terjadi.....