Mohon tunggu...
Taufik Uieks
Taufik Uieks Mohon Tunggu... penulis buku dan suka jalan-jalan kemana saja

Hidup adalah sebuah perjalanan..Nikmati saja..

Selanjutnya

Tutup

Wisata Artikel Utama

Si Pitung dan Ambulan Delman Abad 19

9 Juli 2016   08:08 Diperbarui: 9 Juli 2016   17:18 23 10 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Si Pitung dan Ambulan Delman Abad 19
Dokumentasi pribadi

Blusukan di kawasan Marunada,Cilincing, Jakarta Utara memang mengasyikan. Jalan-jalan yang sempit serta aroma laut Teluk Jakarta yang khas selalu membuat jiwa dan raga bergembira. Bergembira dalam kesederhanaan suasana dan pengembaraan dalam kazanah sejara bercampur legenda yang menghanyutkan.

Bus rombongan Plesiran TempoDoeloe kali ini di parkir di tempat sederhana yang cukup luas. Latarbelakangnya juga hebat – deretan "apartemen mewah" “Rumah Susun Marunda yang kondang berkat liputan media tetang Gubernur Ahok. Dari sini, kita beramai-ramai jalan kaki di jalan kecil yang hanya bisa dilewati sepeda motor.

 

img-4966-57804ffd517a612c048b4570.png
img-4966-57804ffd517a612c048b4570.png
Lima menit kemudian: Aha. Ini día rupanya rumah Si Pitung !  Jawara Betawi yang kondang dan selama ini lebih dikenal melalui film-film layar lebar era 70 dan 80an abad lampau.” 

Begitulah bisikan hati ketika melihat tanda Dinas museum dansejarah DKI Jakarta serta pintu gerbang dengan tulisan Rumah Si PitungPuluhan derap kaki memasuki halaman yang luas dengan beberapa bangunan. 

Bangunan pertama adalah yang menjadi pusat atraksi yaitu rumah Si Pitung, sedangkan bangunan bertingkat di belakangnya adalah Cafe Schout yang siang itu tutup. Mungkin karena bulan puasa dan juga tidak terlalu banyak pengunjung di siang yang cerah tanpa awan itu.

Rumah si Pitung sendiri merupakan bangunan tradisional dari kayu dan merupakan rumah panggung .  Saya naik dari tangga di bagian belakang yang ternyata merupakan beranda rumah. Ada perabotan berupa tempat duduk model kuno yang antik dan masih terawat. 

Di meja bundarnya bahkan ada beberapa toples berisi penganan tradisional Betawi. Tapi jangan coba-coba dimakan! Karena itu hanya tiruan saja.  Di pojok serambi, ada juga manekin berpakaian khas Betawi lengkap dengan peci hitam. Lucu manekinnya tidak memiliki wajah alias polos saja.

Saya masuk ke dalam rumah dan sampai di ruang tamu. Sebuah lampu gantung antik ada di langit-langit, kursi rotan dan meja bundar yang dirapatkan di dinding. Sementara sebuah lukisan bergambar sepasang pengantin Betawi terpampang manis di dinding. Judulnya pengantin musiman dan merupakan lukisan tahun 1967. 

Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi
Di ruang tengah juga dipajang empat buah tulisan yang menceritakan secara singkat riwayat hidup Si Pitung. Diceritakan bahwa si Pitung dilahirkanpada 1866 di Kampung Cikoneng, ayah nya berasal dari Cikoneng dan ibunya dari Rawa Belong. Dikisahkan karena ibu si Pitung menolak dimadu akhirnya Pitung Kecil tinggal bersama sang ibu dan menggembala kambing sang kakek. Nasib kemudian membawanya mengembara dan berguru pada Haji Naipin di Kemayoran . 

Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi
Bosan dengan membaca riwayat si Pitung, saya meneruskan menjelajah ke bagian lain rumah ini. Ruang selanjutnya adalah kamar tidur yang memamerkan tempat tidur tempo doeloe lengkap dengan kelambunya. Ruang keluarga merangkap ruang makan juga asyik untuk dilihat. Ada permainan congklak yang diletakkan begitu saja dilantai seakan-akan habis dimainkan .

Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi
Ruang paling belakang adalah dapur yang biasa-biasa saja dan kemudian beranda belakang yang menghadap ke bagian depan kompleks rumah ini. Berdasarkan info lanjutan ternyata rumah ini sesungguhnya milik haji Syaifuddin di mana ada dua versi. Pertama HajSyaifuddin yang pernah dirampok SPitung dan versi kedua mereka berteman.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN