Mohon tunggu...
Taufan Satyadharma
Taufan Satyadharma Mohon Tunggu... Akuntan - Pencari makna

ABNORMAL | gelandangan

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Kefasikan Kabar Berita

9 Januari 2020   16:35 Diperbarui: 9 Januari 2020   16:41 61 1 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Kefasikan Kabar Berita
pixabay

Orang-orang seperti setengah hati menyerahkan diri dalam niat "hidup dan matiku hanya untuk beribadah kepadaMu". Padahal, ibadah itu sendiri merupakan suatu bentuk penyerahan diri. Dari syahadatnya, sholatnya, zakat, puasa, hajinya merupakan pratap manusia merelakan dirinya di hadapan Sang Khaliq. Namun, kenapa semua itu ibarat menghempas begitu saja ke udara. Esensi tidak lagi menjadi penting, terkecuali hanya laku.

Pernahkah kita berhenti sejenak untuk belajar niteni waktu disaat Tuhan menyerukan ibadah-ibadah tersebut. Kenapa sholat diperintah pertama kali sebelum 1,5 Hijriah? Zakat dan puasa pada tahun ke-2 Hijriah, dan haji pada tahun ke-9 Hijriah? Tentu ada sesuatu yang dimaksudkan dari susunan dan rentang waktu yang berbeda.

Sedangkan Rasul sendiri diutus bukan untuk mengajarkan Islam, tetapi untuk mengajarkan akhlak yang mulia. Segala bentuk peribadatan adalah jalan untuk membentuk karakter dan akhlak. Dimana sembahyang diibaratkan sebagai saka untuk menjadi penopang dengan setidaknya 5 ikrar yang terkandung dalam sehari. Zakat bukan untuk berbagi atau memberi, tapi tentang kesadaran untuk mengembalikan apa yang telah diberikan oleh Allah. Begitu pula, amalan abadah yang lain mestinya memiliki isyarat-isyarat makna yang tersirat.

Benar jika Tuhan hanya memberikan hidayah kepada siapa yang Ia kehendaki. Tapi, apabila kita mendengar, membaca, atau melihat panggilan-panggilan kerinduanNya, masihkah kita menutup penglihatan atau pendengaran kita?

Alasan niat seringkali menjadi topik lama, yang merupakan sebuah bentuk pembelaan manusia dari rasa malasnya. Namun, itu bukan berarti kita lantas membedakannya, atau menjauhinya. Karena dari merekalah kita dapat belajar dimensi perbedaan, baik itu iman atau taqwa yang berhubungan dengan aktualisasi diri dalam kehidupan sehari-hari. Atau, jika saja kita membedakan atau menjauhkan diri, adakah rasa ujub yang tertanam di dalam diri?

Kata tidak sadar menjadi kata. Kalimat berdiri tanpa mengetahui bahwa dirinya adalah rangkaian kata menuju makna. Hingga akhirnya, makna pun kehilangan dirinya untuk menjadi sebuah makna. Lalu bagaimana huruf-huruf dapat tercipta tanpa adanya sebuah alat? Siapakah yang menciptakan alat hingga dapat menarasikan sebuah pemikiran? Dan darimana pemikiran itu datang? Apakah kamu atau Dia?

Kita tidak pernah memahami bahwa semua ilmu datang layaknya sebuah kabar berita. Semua menyampaikan bukan tentang kebenaran utama, melainkan hanya kebenaran apa yang dianggapnya benar. Karena tidak ada sama sekali kebenaran sejati, melainkan hanya sebatas kesementaraan. Hanya trend, atau semacam kebutuhan yang mesti dikonsumsi setiap harinya.

Ini sebuah zaman pencerahan atau kefasikan? Yang katanya hidup dan matinya hanya untuk Allah, tapi realisasi lakunya tidak mengindikasikan lafadz yang tumbuh dari hati. "Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa berita, maka  periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu."

Lalu apakah bisa sesuatu yang disangka pencerahan, justru sebuah kefasikan? Atau apa yang disangka kefasikan justru sebuah pencerahan? Memang, Tuhan Maha Membolak-balikkan sesuatu dan sangat mungkin untuk memtutarbalikkan pencerahan dan kefasikan. Sementara manusia hanya sanggup menyangka-menyangka, bahkan terlalu asyik jika sangkaannya diterima oleh banyak orang. Wallahu 'alam.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan