Mohon tunggu...
Taufan Satyadharma
Taufan Satyadharma Mohon Tunggu... Pencari makna

ABNORMAL | gelandangan

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Essai | Manusia (Sok) Adil dan Beradab!

7 Maret 2019   11:11 Diperbarui: 7 Maret 2019   11:25 0 1 0 Mohon Tunggu...
Essai | Manusia (Sok) Adil dan Beradab!
dokpri

Siapa yang dapat mengartikan "ke-manusia-an"? sebelum kita memasuki adil serta beradab. Manusia yang nengerti kalau dirinya manusia saja sangat sulit ditemukan zaman now. Apalagi ditambahi imbuhan "ke -- an". Semakin dimengerti-mengertikanlah arti dari segala kesalahpahaman. Tapi untungnya, masyarakat sudah nyaman dengan kegagalpahaman ini.

Manusia yang merasa memiliki hak atas keegoisan mereka. Manusia yang merasa adil. Manusia yang merasa beradab. Begitukah? Manusia yang merasa paling manusia.

Apakah kemanusiaan sama seperti manusia. Jadi dalam sila "kemanusiaan yang adil dan beradab" yang diharapkan itu manusianya ataukah rasa kemanusiaannya saja. Saya sedikit curiga dengan kata "kemanusiaan" yang mendeskripsikan suatu sifat seperti manusia, seakan sifat manusia itu baik dan penyayang atau kadang kala disebut manusiawi.

 Lalu apakah sifat manusiawi lebih mulia daripada hewani atau hayati? Hewan selalu menjadi korban prasangka atas segala tindak kriminalitas yang katanya "sangat tidak manusiawi" dan lebih seperti perilaku hewan. Aneh gak sih? Hewan yang hanya punya naluri tanpa akal aja selalu disalah-salahin. Apa salah mereka jika naluri dan insting mereka memang seperti itu?

Lantas apakah dengan mengkambinghitamkan perilaku hewan lalu akan menjadikanmu mengerti akan sikap kemanusiaanmu? Apakah itu adil dan beradab? Atau jangan-jangan sila adil dan beradab tersebut hanya ditujukan kepada manusia-manusiaan saja, tidak menganggap segala makhluk bahkan materi yang terdapat di bumi rumah pancasila.

Jargon "khilafah" sudah basi di hati pancasila karena segala syarat dan ketentuan mendasar untuk menjadi khilafah sudah berada di dua sila pertama. Jadi yang teriak-teriak di monas sampai mengadakan kumpulan fans wirosableng mungkin kurang mendalami hakikat dari sila-sila pancasila. Tapi, untung negara ini sangat menjunjung tinggi 'HAK', jadi monggo-monggo saja.

Karena sangat sulit menjadi manusia, maka digantilah menjadi kemanusiaan yang memungkinkan kita yang bukan manusia untuk menjadi adil dan beradab. Karena manusia itu pun sejatinya tidak pernah bisa adil terhadap siapapun dan menjadi beradab sangatlah tergantung situasi.

Prediksi dari perakit pancasila sangatlah tepat manusia menjadi kemanusiaan yang adil dan beradab. Menghindarkan manusia itu sendiri dari kegagalpahaman untuk menjadi manusia yang adil dan beradab karena itu sangatlah mustahil. Untung mereka tidak mengerti kalau mereka tidak mengerti.

Bayangkan saja dengan keadaan Indonesia saat ini kalau manusia itu mengerti, dan mengerti kalau mereka mengerti. Sudah pasti terjadi kemunafikan dimana-mana. Pembohongan publik, manipulasi pencitraan, manifestasi kekuasaan. Karena mereka mengerti tapi berpura-pura menjadi adil dan beradab.

Lalu jika manusia yang mengerti dan mengerti kalau dia tidak mengerti. Ini keadaan paling aman. Manusia yang enggan untuk mengambil resiko. Manusia yang selalu terima dengan segala keadaan. Dan jika manusia itu tidak mengerti, dan tidak mengerti kalau dia mengerti. Dia hanya akan menjadi pengikut arus.

Dan yang terakhir jika manusia itu sudah tidak mengerti, dan tidak mengerti kalau dia tidak mengerti. Ini adalah tipikal manusia zaman now, termasuk saya di dalamnya. Yang mengaku paling beradab dan adil akan tetapi dia tidak mengerti apa itu adab atau keadilan. Orang yang mengaku mengerti kebenaran tapi tidak tahu hakikat kebenaran.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x