Tatia Traveller
Tatia Traveller

Penulis buku Cara Mencegah Selingkuh dan Cerai, Cegah dan Deteksi Kanker Serviks, Bahaya Alkohol dan Cara Mencegah Kecanduannya, Love and Shock, Hidangan Fav Mediterania. Sosiolog, dan pemerhati the whole universe. Menetap di Yunani sejak 2003. Saat ini sedang senang menulis tentang kesehatan, mind and body.http://www.tatiatravels.com

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Bunglon di Dalam Parpol

20 April 2017   19:48 Diperbarui: 20 April 2017   19:50 914 1 5

Pilkada DKI sudah selesai dan hasilnya kita sama-sama sudah menyaksikan kemenangan Anis-Sandi.

Dua partai Islam  besar yang sejak lama mendominasi hingar-bingar dunia politik Indonesia PPP dan NU. Sebelum terbentuk PAN yang dipelopori Amin Rais PPP yang berlambang ka'bah cukup mendominasi di tahun 80-an. Sama halnya di duniA Arab, maka Partai Islam di Indonesia pun mudah dipecah-belah. Atau bahkan memecah-belah dirinya sendiri seperti plankton  atau sel-sel hidup dalam mikrobia.

Dalam pilkada DKI 2017 yang baru saja berlalu; NU dan terutama NU yang berhaluan "kiri" sangat gencar mendukung AHOK. Hingga NU menerbitkan buku khusus untuk membela Ahok untuk kasus Surah Al Maidah. Sudah sejak zaman dahulu bahwa anggota NU sangat mudah ditarik untuk mendukung jika ada imbalan. Baik dalam bentuk uang, jabatan atau pun kemudahan lainnya. Namun tidak semua NU; sebab ada NU garis "kanan" yang tetap berjuang untuk membela yang hak dan bathil dan tidak tergoyahkan dengan iming-iming harta, jabatan dsb.

Sudah hampir 14 tahun saya menetap di Yunani. Saya juga amati dunia politik di Yunani dan Eropa. Sangat langka seorang politikus yang pindah partai ke partai lawannya. Hanya di Indonesia yang sering terjadi. Paling banyak bunglon-bunglon di Parpol Indonesia. Jika ada pun di Perancis. UK. Italia  atau Yunani biasanya tokoh politik itu membentuk partai baru. Justru Machiavelism itu yang banyak terajdi di Indonesia.

Demikian juga dengan PPP ada dua kubu dalam tubuh partai ini. Kelompok Haji Lulung yang antipati terhadap Ahok dan yang kelompok Romi plus Djan Faridz yang mendulung Ahok. Jika saja banyak tim investigasi dan spy seperti agent 007 di Indonesia maka semua sepak-terjang para politikus akan mudah dilacak. Anggota KPK Novel Baswedan  yang disiram air keras konon  PC atau laptopnya diperiksa polisi. Jika saya boleh berpendapat di Indonesia masih mirip Orde Baru. Masih kaum militer dan polisi yang digunakan untuk mencapai segala upaya keinginan para politikus yang tidak puas dengan gaji dan masih tetap haus dengan kekuasaan dan masih tetap korupsi di dalam berbagai kesempatan.

Saya baru baca status konon Ahok akan diangkat jadi Menteri Dalam Negeri. Otomatis jabatan ini lebih tinggi dari jabatan Gubernur. Jika ternyata Ahok diangkat Jokowi jadi Mendagri tentunya dalam tubuh PDIP akan bergejolak. Karena kita sama-sama tahu Ahok juga termasuk nomaden; senang pindah-pindah partai.  Banyak senior-senior di PDIP yang tentunya akan kecewa. Sama halnya kecewanya Boy Sadikin hingga dia menjadi tim suksesi Anis-Sandi. Jokowi pribadi saya anggap tidak akan terlintas dipikirannya untuk mengangat Ahok jadi Mendagri. Kecuali atas desakan Megawati dan petinggi PDIP. Tapi saya yakin PDIP tidak akan segegabah itu meminta Jokowi mengangkat Ahok jadi Mendagri. Karena Mendagri yang dibutuhkan PDIP adalah Menteri yang bisa membantu PDIP sebagai partai pemenang pemilu yang masih ingin tetap berkuasa di masa datang. Megawati masih punya ambisi agar putrinya bisa tetap menjadi Menteri atau bahkan jadi WAPRES.

Paris, 20 April 2017