Mohon tunggu...
Seneng Utami
Seneng Utami Mohon Tunggu... Perantau

setiap kata- kata punya nyawa

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Memperhatikan Keadaan Ruang Publik, Saat Pekerja Migran di Hong Kong Sedang Libur

28 Mei 2019   00:09 Diperbarui: 28 Mei 2019   00:33 150 3 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Memperhatikan Keadaan Ruang Publik, Saat Pekerja Migran di Hong Kong Sedang Libur
Keceriaan teman- teman saya yang sedang berkumpul bersama di Taman Lai Chi Kok | Dokumentasi Pribadi

Tahun ini diperkirakan jumlah pekerja buruh migran di Hong Kong mencapai 390.000 pekerja, baik dari Indonesia, Filipina ataupun negara lain seperti Bangladesh. Pekerja buruh migran tersebut bekerja di rumah majikan rata- rata per harinya bekerja selama 14- 16 jam, dengan upah minimum sebesar HK$4520 per bulannya. Dan jika dikalkulasi upah per jamnya kurang lebih bisa dikatakan hanya sebesar HK$10 saja. 

Jika dibandingkan dengan upah minimum orang lokal (Hong Kong) gaji pekerja migran ini terbilang sangat sedikit. Pada kenyataannya memang pemerintah Hong Kong sendiri yang mengatur gaji ini, pemerintah Hong Kong juga yang mempermudah proses penyediaan layanan jasa dari pekerja migran dengan biaya tidak mahal, sehingga walaupun majikan aslinya hidup serba pas- pasan, mereka masih bisa mengambil pekerja untuk dipekerjakan di rumahnya.

Keberadaan pekerja migran ini sangat menguntungkan warga Hong Kong dan berpengaruh besar pada pendapatan orang Hong Kong, bagaimana tidak mereka(majikan) tiap harinya hanya fokus mencari uang di tempat kerjanya tanpa melakukan pekerjaan rumah atau mengurus anak, semua pekerjaan diserahkan kepada pekerjanya. Dari mulai pagi hingga malam, pekerja migran bekerja di rumah majikan seolah harus siap setiap waktu. Entah enak atau tidak ini menjadi bagian dari resikonya  yang bekerja ikut orang.

Ketentuannya pekerja migran di Hong Kong ini mendapatkan hari libur minimal satu minggu sekali. Dan apabila dihari libur tetap  bekerja maka majikan berkewajiban untuk mengganti uang. Kebanyakan para pekerja migran di Hong Kong mendapatkan hari libur di Hari Minggu, ada juga yang mendapatkan libur di Hari Saptu ataupun di hari biasa. Namun tepat di Hari Minggu saja lah yang terkesan paling ramai (hampir terlihat ramai di berbagai tempat di Hong Kong).

Berikut ini merupakan beberapa tempat yang paling banyak dikunjungi ketika para pekerja migran sedang libur, diantaranya; Victoria Park/Causeway Bay (kebanyakan orang Indonesia berkumpul di sini), di bawah Gedung HSBC di Central (pekerja yang berasal dari Filipin), di jembatan Mong Kok, antara pasar North Point, pasar Mong Kok dan pasar Sam Sui Po terkesan sama- sama ramai sebab di sini merupakan pusat perbelanjaan bagi pekerja migran dengan harga miring, akan banyak dijumpai juga para pekerja migran yang berlibur di berbagai taman- taman yang besar seperti Taman Lai Chi Kok (Mei Foo), Taman Koowlon (Tsim Tsa Sui), taman di Yuen Long dan berbagai tempat umum di Hong Kong yang sekiranya bisa dibuat untuk bersantai.

Di hari libur biasanya jalan- jalan menjadi ramai hingga jalannya berdesak- desakan, orang Hong Kong sendiri suka keluar rumah di hari libur. Diantara sudut jalan yang super ramai sekali antara lain; Causeway Bay, Central, Tsim Tsa Sui, dan Sam Sui Po. Di sini, ada yang menarik apabila kita mau mengintip sedikit pemandangan yang ada manakala para pekerja migran menghabiskan waktu liburnya. 

Bisa dibayangkan ya, walaupun sejumlah 390.000 pekerja migran tidak keluar semua di hari libur yang sama, pada dasarnya negara Hong Kong ini sangat kecil tidak heran apabila mereka sedang libur justru kebanyakan dari mereka akan berkumpul didaerah kesukaannya masing- masing membentuk kesatuan.

Gambar diambil dari jembatan Hong Kong Central Public Library di Causeway Bay | Dokumentasi Pribadi
Gambar diambil dari jembatan Hong Kong Central Public Library di Causeway Bay | Dokumentasi Pribadi

lapangan rumput Victoria Park | Dokumentasi Pribadi
lapangan rumput Victoria Park | Dokumentasi Pribadi

Pada umumnya berkumpulnya mereka itu terjadi dengan sendirinya, yang tadinya hanya satu kelompok kemudian kelompok- kelompok yang lainnya mengikuti. Satu kelompok bisa jadi masih ada hubungannya dengan persaudaraan, barangkali satu desa atau dari tempat yang sama di Indonesiannya, mungkin juga karena pemikiran yang sama (same self interest). Di Causeway Bay, duduk berjejernya mereka mempunyai kegiatan yang berbeda- beda. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x