Mohon tunggu...
Seneng Utami
Seneng Utami Mohon Tunggu... Perantau

setiap kata- kata punya nyawa

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Aku Sudah Terlanjur Menjadi Satu dengan Kata-kata

10 Mei 2019   18:25 Diperbarui: 10 Mei 2019   18:38 0 8 4 Mohon Tunggu...

Ruangan berukuran 3 x 1 meter ini satu- satunya tempat persembunyianku. Dan aku telah menempatinya lebih dari 500 hari. Empat dinding dengan dua pintu yang berukuran sama, beratapkan dinding pula, tanpa jendela. Ruangan ini pernah aku menatanya dengan sangat rapi, beda sekali dengan saat ini. Entah rapi atau tidak, aura di dalam ruangan ini masih sama saja. Yaitu amburadul. Sama amburadulnya dengan jalan pikiranku. Yang rasa- rasanya butuh diperbaharui.

Seperti yang kamu tahu, aku hanyalah pekerja biasa. Yang terbiasa bekerja ikut orang. Begitu juga dengan ruangan berukuran 3 x 1 meter ini adalah milik orang asing dan bukan milik orang tuaku. Tak terasa aku di tanah ini sudah melewati hari lebih dari 800 hari. Yang tadinya kudatangi dengan melewati samudra dan benua. 

Tentunya kamu sendiri bisa membayangkannya keadaanku kira- kira bagaimana hidup di perantauan itu. Oh ya, bagaimana kah dengan kabar di rumahku yang sebenarnya? Kudapati rambut ubanku sudah bertambah banyak dari yang sebelumnya, lekukan keriput di mukaku juga tergambar jelas manakala aku tersenyum atau tertawa. Bahkan dengan mengerutkan dahi saja aku sudah terlihat jelas telah menua. Sungguh aku tak mampu untuk mengira- ngira penuaan orang tuaku seperti apa. Harapanku semoga mereka selalu dalam keadaan baik- baik saja.

Dalam keadaan jauh dari orang tua, keluarga dan bangsa, kutahu dunia tidak selebar ruangan ini. Dunia amat sangat luas. Namun sering kali pikiranku terasa dibentengi menjadi selebar ruangan ini. Lebih seringnya antara pikiran dan hatiku suka beradu argumentasi. 

Logikaku mengatakan semestinya aku harus segera keluar dari tempat ini supaya aku bisa lebih leluasa menikmati hidup, dalam hatiku mengatakan bahwa aku harus bersabar dan mau bertahan untuk tetap bekerja. Inilah yang dinamakan dengan perjuangan hidup. Uhm, apakah sampai segitunya aku berjuang. 

Dalam hatiku sejujurnya ingin bisa seperti orang- orang kebanyakan umumnya yang selain bekerja mereka juga punya waktu untuk keluarganya, untuk temannya, dan untuk mengembangkan kreatifitasnya. Loh, aku kan juga tetap bisa kok berkreatifitas seperti mereka. Tergantung dari bagaimana caraku untuk menyiasatinya. Ya, kan?

Karena aku bekerja ikut orang, maka kebebasanku dibatasi. Sedangkan hidupku seolah- olah hanya untuk bekerja. Setiap harinya aku melakukan sesuatu yang hampir sama. Bekerja mulai jam tujuh pagi hingga selesai, sementara selesainya kurang lebih jam sembilan atau jam sepuluh malam keatas tergantung banyak dan tidaknya apa yang harus aku kerjakan. Itu semuanya aku kerjakan tanpa jeda atau istirahat.

Aku merenung dan tahu betul kenapa aku harus tetap bergerak melanjutkan hari, sebab sekali berhenti bisa jadi aku mati. Sejelek apapun ruangan 3 x 1 meter ini tetap saja tempat ini satu- satunya tempat yang bisa aku tinggali dengan layak dan aman. Tadinya aku sempat berpikir, kenapa ruangan ini terpisah dari rumah yang bukan rumah milik orang tuaku, dan aku mau menempatinya. Jelas memang keberadaanku di sini untuk bekerja bukan untuk tidur, ini saja sudah termasuk beruntung dibandingkan dua tahun yang lalu tidurku hanya di lantai bersebelahan dengan meja makan tanpa dinding yang menghalangi.

Terimakasih untuk ruangan 3 x 1 meter ini. Dari tempat ini aku berhasil menyembunyikan muka dan segenap ragaku dari semua hal yang membuat aku pernah merasa malu. Termasuk malu dari sudah berhasilnya beberapa temanku di sekolah dulu. 

Benak hatiku mengatakan tidak apa- apa aku dulu pendiam, pemalu, terlihat tidak punya yang penting saat ini dalam keheningan berada di ruangan 3 x 1 meter,  aku terus berjuang mengupayakan nasibku agar suatu hari nanti bisa berubah. Biarlah aku tahan dulu rasa yang berhamburan di dada ini yang masih serba amburadul dengan penuh kelapangan.

Di ruangan yang terlalu jauh untuk kau jangkau ini, aku senang masih bisa memberimu sedikit kabar. Bahwasanya aku dalam keadaan serba baik. Membaca dan menulis tetap menjadi tempat penghiburanku, yang apabila aku sudah terlanjur menjadi satu dengan kata- kata. Aku pun tidak sendiri rupanya.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x