Mohon tunggu...
Tareq Kemal Maulana
Tareq Kemal Maulana Mohon Tunggu... Mahasiswa - Aku Anak Indonesia

Seorang Mahasiswa

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama

Pengintegrasian Iman dan Ilmu Seiring Perkembangan Zaman

7 Desember 2021   19:10 Diperbarui: 7 Desember 2021   19:19 175 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Kehidupan tak hanya berkaitan dengan hal yang kita lihat saja, yang tidak terlihat pun juga harus di perhatikan. Ilmu tak hanya melulu tentang agama tetapi juga pengetahuan umum, seperti sosial, eksakta, fenomena, dan penelitian. Maka pengintegrasian iman dengan ilmu di harapkan tercipta perkembangan yang tak hanya moral dan akhlak tetapi juga keilmuan dan penemuan yang berdampingan, dan berkesesuaian serta tidak berlebihan.

Allah SWT. Berfirman pada seluruh makhluk-Nya untuk menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya, mengumpulkan amal kebaikan, dan menjadikan diri sebagai manusia yang memiliki dedikasi penuh atas perbuatan baik. Nilai-nilai Islam inilah yang harus di integrasikan dengan kehidupan dalam keseharian, baik interaksi sosial, dan kegiatan lainnya. Pengintegrasian nilai agama merupakan wujud keimanan manusia terhadap implementasi ajaran agama islam terkait menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

PEMBAHASAN

Menjalankan kehidupan sebagai beragama didalam keberagamaan merupakan salah satu dasar dari ajaran agama Islam, dimana secara terperinci poin-poin dari setiap aspek permasalahan dari ujung rambut hingga ujung kaki pun banyak sekali di atur dalam agama Islam di kitab suci Al-Qur'an. Keberagamaan ini pun tak lepas dari ilmu pengetahuan umum, dimana manusia harus bisa mengintegrasikan nya dalam keseharian agar seimbang antara kehidupan dan keagamaan. Pada dewasa ini keduanya, ilmu agama dan ilmu sains di belah dengan tempatnya masing-masing, terpisah antara satu dengan lainnya, baik dari segi objek formal-material, metode penelitian, kriteria kebenaran, dan juga peran yang dimainkan. Pemikiran tersebut merupakan "Dikhotomi ilmu" dimana ilmu pengetahuan dan agama di pisah dan di kotak-kotakan. Implikasi dari paradigma ini dimana pengembangan pendidikan Islam lebih berputar pada pemikiran akhirat saja, sedangkan masalah dunia dikesampingkan, serta menekankan pada pendalaman al-'ulum al-diniyah(ilmu-ilmu keagamaan) yang menjadi jalan pintas untuk menuju kebahagiaan akhirat, sementara ilmu pengetahuan umum terpisah dari agama. Demikian pula pendekatan yang dipakai lebih bersifat normatif, doktrin, dan absolut. Sedangkan pada paradigma mekanis memiliki pandangan bahwa kehidupan terdiri dari berbagai aspek. Dalam hal ini agama adalah salah satu aspek, dan pengetahuan umum adalah aspek yang lain. Dalam konteks ajaran Islam, paradigma organis memandang bahwa aktivitas kependidikan merupakan suatu sistem yang terdiri dari komponen-komponen yang hidup terorganisir menuju tujuan tertentu, yaitu terwujudnya hidup yang religius dan dijiwai oleh ajaran dan nilai-nilai agama. Paradigma organis saat ini diusahakan melalui pendidikan tinggi, melalui kajian-kajian ilmiah, menggantikan paradigma lama yang dikotomis sehingga dapat memberi solusi bagi masalah penyempitan makna Islam menjadi hanya agama. Dengan adanya paradigma organis di harapkan para akademisi mampu memperluas dogma ini didalam khalayak muslim, agar kehidupan beragama dapat berjalan dengan seimbang menghadapi perkembangan sosial dan ilmu pengetahuan.

Jika masa modern menekankan spesialisasi, maka saat pasca modern justru menekankan integralisme yang dapat menghilangkan sekat-sekat pembatas tak hanya dalam makna ekternal teritorial, melainkan juga dalam arti yang lebih luas seperti hilangnya batas-batas keilmuan yang selama ini dipertahankan secara ketat. Dalam konteks ini, pembahasan dan pengembangan ilmu tidak mungkin berdiri sendiri, tetapi selalu terkait dengan persoalan-persoalan lain, termasuk agama. Hal ini berarti diskusi mengenai integrasi ilmu yang berkait dengan agama merupakan sesuatu yang tidak bisa dielakkan. Dua sumber utama ajaran Islam ini Diinterpretasikan dengan berbagai metode oleh para ulama sehingga tersusunlah ilmu-ilmu agama yang dikenal hingga kini, seperti Tafsir, Hadis, Fikih, Kalam, dan Tasawuf. Baik ilmu eksakta maupun sosial kebudayaan yang ada selama ini secara esensial naik mengalami pasang surut dalam ruang lingkup pemikiran manusia sebagai makhluk hidup yang tampak. Dengan adanya bentuk persepsi yang menghubungkan kedua wilayah keilmuan dengan dimensi yang berbeda ini tidak mempengaruhi kuasa Tuhan (sekularisme) atau mengucilkan manusia sehingga tereliminasi dari dirinya sendiri, dari masyarakat sekitar, dan lingkungan sekitarnya. Begitu pula sebaliknya, manusia memang mempunyai peran besar dalam menentukan hasil, tetapi harus juga dikaitkan dengan hal-hal yang bersifat ketuhanan.

Maka pengintegrasian ilmu dan iman dapat menjadi bentuk keseimbangan kehidupan bila kita bisa menjalankannya secara berdampingan, sehingga tercipta kehidupan yang tertata dengan bijak dan harmonis berkesesuaian seiring berkembangnya zaman. Manusia sebagai makhluk ciptaan Yang Maha Kuasa, dengan akal dan pikiran, serta bentuk fisik yang cukup baik yang pada dasarnya mempunyai fitrah berupa keyakinan akan adanya zat yang lebih kuat dan maha kuasa yang kita sebut dengan Tuhan. Oleh karena itu pengertian iman kepada Allah adalah membenarkan dengan hati bahwa Allah itu benar-benar ada dengan segala sifat keagungan dan kesempurnaan-Nya, kemudian pengakuan itu diikrarkan dengan lisan, serta dibuktikan dengan amal perbuatan secara nyata. Dan Rasul-Nya tanpa adanya keraguan di dalam hati, dan berjihad di jalan ALLAH dengan segenap harta, jiwa, dan raga, serta pada akhir ayat dapat di maknai bahwa adanya sekelompok yang beriman tanpa bukti nyata, sesungguhnya mereka adalah golongan yang berdusta dan tidak memahami secara utuh apa itu iman.

Pengertian iman secara istilah ialah kepercayaan yang meresap ke dalam hati, dengan penuh keyakinan, tidak memendam keraguan sedikit pun, serta memberi pengaruh bagi pandangan hidup, tingkah laku dan perbuatan sehari-hari. Iman sebenarnya merupakan jalan untuk memudahkan akal pikiran manusia, dengan cara menerima dan menjalankan seluruh ketentuan Allah pada setiap perbuatan, baik yang kelihatan atau tidak terlihat yang di tetapkan maupun yang dinaikkan. Iman dalam arti sebagai jalan memudahkan akal pikiran manusia, yaitu dimana akal pikiran manusia harus memiliki pembaharuan, dimana hal itu terkait bukan hanya tentang agama atau ilmu agama, tetapi juga menerima pembaharuan ilmu pengetahuan umum maupun ilmu pengetahuan secara empiris. Sebagaimana penjelasan sebelumnya bisa dikatakan iman tak pula dapat dilepaskan dari ilmu, iman dapat menjadi kesatuan yang utuh lagi bila manusia sebagai hamba-Nya bisa mewujudkannya dengan ilmu agama yang dimilikinya, tak hanya ilmu agama tetapi ilmu pengetahuan lainnya pun juga, demikian ilmu dari implementasi iman dapat kita sebut dengan taqwa (perbuatan sebagai bentuk keimanan), maka iman perlu juga di integrasikan pula dengan taqwa. Dengan demikian, Integrasi dapat dimaknai sebagai proses memadukan satu konsep tertentu dengan sebuah konsep lain, sehingga menjadi suatu kesinambungan dan tidak bisa dipisahkan atau proses pembauran hingga menjadi satu kesatuan yang utuh dan bulat. Iman juga menuntut kita untuk giat menggapai hidayah, mendekatkan diri kepada-Nya, dan beraktivitas selayaknya apa yang di lakukan para kekasih-Nya. Taqwa juga terkandung perintah kepada manusia agar mereka senantiasa melakukan aktivitas-aktivitas yang baik yang membawa kepada kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat, seperti: bersikap adil dalam bertindak dan berbuat, suka membantu orang-orang yang membutuhkan secara moral ataupun material, mau mengembangkan potensi diri atau intelektualitas dini mencapai kehidupan yang baik dan bermanfaat. Berdasarkan kajian di atas, maka dapat dipahami bahwa iman dan takwa adalah merupakan dua konsep yang harus dimiliki setiap muslim. Sedangkan taqwa merupakan karakteristik yang akan membawa umat Islam pada kepatuhan terhadap Tuhan agar menjalankan segala perintah, menjauhi larangan serta berusaha menjadi manusia yang memiliki kepribadian dan budi pekerti yang luhur.

Adapun Imtaq bisa disebut juga dengan iman dan taqwa, pada dasarnya keduanya merupakan gambaran karakteristik nilai-nilai keagamaan yang harus dimiliki oleh setiap muslim. Demikian Imtaq dan iptek membuat keduanya menjadi satu kesatuan yang utuh dalam menjalankan keberagamaan. konsep pengintegrasian imtaq dan iptek ini dapat dipandang dari sisi perpaduan antara dimensi agama dan ilmu pengetahuan menjadi satu kesatuan yang utuh. Seperti yang telah dipaparkan mengenai relasi iman dan taqwa dengan ilmu pengetahuan yang begitu koheren, sehingga ilmu juga salah satu komponen penting dalam menjalankan kehidupan beragama. Ilmu pengetahuan merupakan seluruh usaha sadar untuk meneliti, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Ilmu pengetahuan sangatlah luas, dan seharusnya dengan bertambahnya ilmu maka bertambah pula keimanan kita kepada Allah karena segala sumber ilmu itu dari Allah. Oleh karena itu, ilmu pengetahuan merupakan salah satu dari pengetahuan manusia yang harus benar-benar dihargai. Sebagaimana mestinya pula manusia sebagai penuntut dan pengemban ilmu pengetahuan harus bisa menempatkan diri dengan ilmu pengetahuan yaitu menyertakan keimanan dalam menyikapinya. Islam sebenarnya tidak memandang ilmu agama dan ilmu pengetahuan terpisah, karena keduanya berasal dari sumber yang satu, yaitu Allah SWT. agama merupakan ajaran (doktrin) yang sumbernya dari Tuhan, sehingga kebenaran timbul mengikuti proses wahyu yang diturunkan oleh Tuhan melalui perantara malaikat-Nya, adapun ketika wahyu itu sudah turun, maka manusia dapat mencari kebenaran dari utusan-Nya mengenai agama dengan mempelajari sumber utama dari agama yang dimaksud, dalam hal ini Kitab Suci, ( Al Qur'an, Sunnah dan Ijtihad). Dapat dipahami bahwa ilmu pengetahuan memiliki metode yang berbeda dalam mencari dan membuktikan kebenaran suatu fenomena. Secara historis pendikotomian keilmuan ini sudah pernah terjadi terhadap ilmu pengetahuan umum dan ilmu agama. Ilmuwan menganggap bahwa kebenaran versi agama adalah kebenaran imajiner dan itu tidak lebih dari sekedar mimpi, Sebaliknya, kaum agamawan menyebut kebenaran sains adalah kebenaran emosional, tidak komprehensif karena hanya bersifat materi dan tidak dapat mengantarkan pada kebahagiaan hakiki. tujuan pendidikan Islam yang hanya diorientasikan kepada kehidupan akhirat semata dan cenderung bersifat defensive, telah diidentikkan dengan Barat, dan dianggap sebagai ancaman yang dapat mencemarkan agama Islam. Hal ini pula yang menjadi salah satu sebab munculnya dikhotomi ilmu dalam pendidikan Islam: ilmu dunia (Barat) dan ilmu akhirat (Islam). Maka demikian dapat di tarik garis bahwa pendikotomian ini merupakan tanda kejatuhan umat Islam secara tak langsung.

Dikotomi ilmu ini yang mengakibatkan kemunduran dari perkembangan Islam dimana sebenarnya keduanya tidak bisa dilepaskan, dan hal inilah yang sudah berlangsung sejak abad ke-16 hingga abad ke-17 yang dikenal sebagai abad Stagnasi pemikiran Islam. Maka dari itulah perlu pengintegrasian diantara ilmu pengetahuan dan ilmu agama, karena dengan bersatu di antara keduanya akan menjadi momentum kemajuan yang tak hanya di rasakan oleh satu pihak tapi semua pihak jika keduanya berjalan beriringan. Berikut bagaimana ilmu dapat membantu atau berdampingan dengan kehidupan beragama: a) Kritis dan realistis yang dibentuk oleh ilmu sangat berguna untuk mengelupaskan sisi-sisi ilusionis agama, bukan untuk menghancurkan agama, melainkan untuk menemukan hal-hal yang lebih esensial dari agama. b) Kemampuan logis dan kehati-hatian mengambil kesimpulan yang dipupuk dalam
dunia ilmiah menjadikan kita mampu menilai secara kritis segala bentuk tafsir baru yang semakin hari semakin rumit dan membingungkan. c) Lewat temuan-temuan barunya, ilmu dapat merangsang agama untuk senantiasa tanggap memikirkan ulang keyakinan-keyakinannya secara baru, dan menerima pembaharuan serta kemajuan dengan begitu menghindarkan agama itu sendiri dari bahaya stagnasi dan kekakuan. d) Temuan-temuan ilmu pengetahuan dan teknologi pun dapat memberi peluang-peluang baru bagi agama untuk makin mewujudkan idealisme-idealismenya secara konkret, terutama yang menyangkut sosial kemanusiaan secara umum. Sebab tak menutup kemungkinan ilmu agama yang begitu khusyuk dan damai bisa menciptakan keharmonisan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.

Berikut bagaimana cara agama berdampingan dengan ilmu pengetahuan, antara lain: a) Agama dapat selalu mengingatkan bahwa ilmu bukanlah satu-satunya jalan menuju kebenaran dan makna terdalam kehidupan manusia. b) agama dapat juga selalu mengingatkan ilmu dan teknologi untuk senantiasa membela nilai kehidupan dan kemanusiaan bahkan di atas kemajuan pengetahuan itu sendiri. Dengan adanya nilai agama maka batasan-batasan keilmuan tidak terlalap oleh nafsu dan tetap pada garis sehingga terjaga apa yang mungkin di timbulkan dari keserakahan ilmu tersebut. Dengan ini ilmu Agama diejawantahkan bahwa manusia dengan iman dan taqwa dapat mengelola bumi jauh lebih bijaksana, sedangkan sains akan beriringan membawa keimanan dan ketaqwaan dalam kemajuan. Hingga demikian Agama Islam sangatlah terbuka dengan update namun didalam ajarannya ada batasan- batasan berarti, dimana batas ini guna melindungi serta melindungi seluruh wujud kerugian baik secara individual ataupun kepada sekitar dalam bermacam aspek. Quraish Shihab dalam Pengetahuan Al- Quran memaparkan bahwa teknologi serta hasil-hasilnya sebagai perlengkapan untuk menegaskan manusia kepada Allah, dan menegaskan kalau manusia merupakan khalifah yang kepadanya tunduk seluruh yang terdapat di alam raya ini.

KESIMPULAN

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud & Agama Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud & Agama Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan