Mohon tunggu...
Tareq Albana
Tareq Albana Mohon Tunggu... Mahasiswa

Pejuang Literasi || Mahasiswa Universitas Al-Azhar, Mesir. Jurusan Islamic Theology || Bekerja sebagai Reporter dan Penyiar Radio PPI Dunia.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

4 Pelajaran Penting dari Kisah Isra Miraj yang Jarang Diketahui

3 April 2019   16:02 Diperbarui: 4 April 2019   06:09 0 7 0 Mohon Tunggu...
4 Pelajaran Penting dari Kisah Isra Miraj yang Jarang Diketahui
Pict: bersamadakwah.net

Bismillahirrahmanirrahim.

Batin Baginda Rasulullah SAW merana durja saat menyaksikan dua orang yang paling beliau cintai, paman tersayang yang sudah dianggap sebagai ayah, Abu Thalib, dan istri tercinta Khadijah Binti Khuwaylid meninggal di dalam waktu yang sangat berdekatan di tahun ke 10 Kenabian.

Hal yang membuat Rasullah semakin sedih karena Abu Thalib meninggal sebelum mengucapkan syahadat sebagai saksi atas pembenaran dakwah beliau dan pengesaan kepada Allah SWT.

Selama beliau berdakwah, Abu Thalib adalah orang yang memberikan beliau ketenangan selama berada di luar rumah. Kaum musyrikin tidak ada yang mengganggu kehidupannya. Bahkan untuk sekadar menyentuh Nabi pun orang Qurays tidak berani karena hal itu akan membuat Abu Thalib marah dan tidak segan-segan membunuh orang yang menyentuh Nabi Muhammad tersebut.

Setelah kepergian Abu Thalib, Rasulullah dan pengikutnya mulai kembali diteror dan diganggu oleh kaum Musyrikin Makkah. Batin beliau pun semakin terpuruk tatkala melihat siksaan kaum Qurasy semakin menjadi-jadi.

Belum hilang kesedihan atas kepergian paman tersayang, 3 hari setelahnya Rasulullah kembali diuji oleh Allah dengan kepergian istri tercinta, Khadijah Binti Khuwaylid, cinta pertama Rasulullah dan ibu dari anak-anak beliau ke pangkuan Allah SWT.

Jiwa Rasulullah terguncang dengan cobaan yang datang bertubi-tubi ini. Khadijah adalah orang yang memberikan beliau ketenangan di dalam rumah di saat beliau mengemban misi dakwah, di tengah cobaan dan tekanan Kaum Qurays. Bahkan Khadijah adalah orang yang menghibur Rasulullah saat beliau menerima wahyu pertama dari Jibril yang membuat Nabi Muhammad sangat ketakutan.

Kepergian Khadijah membuat Rasulullah tidak memiliki sandaran dan ketenangan, baik didalam rumah dan di luar rumah dengan kepergian dua orang tercinta ini.

Rasulullah yang sedang bersedih ini pun masih memikirkan keadaan umatnya dan mulai berpikir untuk mencari tempat dakwah yang baru, demi menyelamatkan pengikutnya dari siksaan kaum Qurays.

Beliau kemudian pergi ke Thaif dengan segunung harapan agar kaum Thaif mau menerima beliau. Namun nahas, setibanya di sana beliau malah disoraki bahkan dilempari dengan batu oleh anak-anak kaum Thaif sehingga membuat beliau terluka. Batin beliau pun semakin sedih, belum hilang gelombang cobaan ini, sekarang umat beliau pun terancam di Mekkah.

Di tengah kesedihan itu beliau berpikir bahwa Allah murka kepadanya sehingga memberikan cobaan yang tiada hentinya ini. Beliau pun senantiasa melantukan untaian doa dan memohon ampun. Beliau bahkan rela menerima takdir dan cobaan ini dengan lapang dada, sehingga beliau berdoa:

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
KONTEN MENARIK LAINNYA
x