Tareq Albana
Tareq Albana Mahasiswa

Pejuang Literasi || Mahasiswa Universitas Al-Azhar, Mesir. Jurusan Islamic Theology || Bekerja sebagai Reporter dan Penyiar Radio PPI Dunia.

Selanjutnya

Tutup

Muda Artikel Utama

Perayaan Valentine, Antara Hari Kasih Sayang dan Fenomena Seks Bebas

15 Februari 2018   00:26 Diperbarui: 15 Februari 2018   10:23 2833 7 3
Perayaan Valentine, Antara Hari Kasih Sayang dan Fenomena Seks Bebas
Sumber: https://contentbuket.com

Bismillahirrahmanirrahim

Sudah umum diketahui orang bahwa setiap tanggal 14 Februari adalah Hari Kasih Sayang, biasanya dikenal dengan nama Valentine. Mengenai sejarah awal dimulai perayaan ini masih banyak perbedaan dikalangan pakar sejarah, namun yang paling masyhur ialah kematian seorang yang bernama Santo Valentine di tangan Kaisar Claudius memerintah Roma pada tahun 200 an Masehi, karena dianggap menentang kebijakan Kaisar tersebut.

Mungkin banyak versi mengenai sejarah valentine, namun agak nya itu bukan hal yang akan bahas dalam tulisan kali ini. Saya selalu mengamati keadaan sosial saat perayaan valentine ini, khususnya di Indonesia. Pada saat akan memasuki  bulan Februari, semua pihak mulai dari kecil hingga dewasa tanpa membedakan agama ikut memeriahkan perayaan ini, begitu juga  pemberitaan di media bahkan semarak hari valentine juga  terasa di pusat perbelanjaan dan hotel.

Para pemuda dan pemudi pun bersiap-siap untuk memberikan cokelat kepada pasangannya, mulai dari cokelat murah 5000-an hingga cokelat yang berharga ratusan ribu rupiah. Pada nantinya cokelat itu akan diberikan kepada pasangan ditambah dengan sedikit kata-kata romantis yang bakal bikin pasangannya mabuk kepayang akibat cinta. Hal ini sering kita temui di dalam film-film Hollywood ataupun drama lainnya.

Momen valentine yang dimanfaatkan sebagai pengekspresian rasa sayang sebenarnya adalah hal yang wajar saja jika dilakukan oleh orang yang meyakininya. Namun apakah benar perayaan valentine di Indonesia hanya sebatas memberi atau menerima cokelat saja? 

Saya tidak meyakini sepenuhnya bahwa perayaan valentine hanya sebatas pemberian cokelat dan ungkapan rasa cinta saja, namun saya meyakini bahwa perayaan Valentine lebih dari itu. Sudah jamak diketahui  bahwa momen valentine juga dimanfaatkan oleh sebagian remaja untuk pesta seks di banyak tempat.

Survei yang dilakukan oleh Tim Riset Kaltim Post di Kota Samarinda. Hasilnya mencengangkan, dari 35 koresponden yang ditanyakan, ada sebanyak 6 koresponden yang menyatakan bahwa mereka sudah terbiasa  melakukan hubungan intim saat valentine.  Bahkan salah satu responden yang berusia 18 tahun mengaku bahwa berhubungan badan di hari valentine merupakan sebuah kewajiban bersama pasangannya.

Dari pengakuan para responden bahwa valentine merupakan  momen yang tepat untuk berhubungan badan, karena terbawa suasana romantis yang berlangsung di tempat-tempat tertentu yang sudah di  dekorasi bak valentine.

Mencengangkan bukan?  itu baru satu survei di Kalimantan yang baru saya kemukakan, bagaimana dengan survei yang dilakukan di Pulau Jawa yang notabene penduduknya lebih banyak lagi, Saya yakin hasilnya akan lebih mencengangkan. Itulah fenomena yang terjadi di saat hari valentine, seks bebas merajalela di kalangan remaja yang belum seharusnya melakukan hal itu. Belum lagi dengan maraknya minuman keras dan obat-obat terlarang yang beredar.

Survei lain yang dilakukan oleh Women's Crisis Center (WCC) yang mengungkapkan bahwa hubungan seksual pra-nikah meningkat pada saat valentine. Di mana pada saat valentine banyak pasangan yang berdua-duaan di tempat yang sepi lalu laki-laki memulai modus dengan mempertanyakan cinta pasangannya dan meminta perempuan untuk melakukan hubungan seksual sebagai bukti rasa cinta mereka.

"Namun setelah berhubungan badan terjadi, sang cowok tidak mau bertanggung jawab dengan berbagai dalih" ungkap Yeni Roslaini, Direktur Eksekutif WCC

Itu sebagian data yang saya kemukakan dalam kasus-kasus seks bebas yang meningkat saat perayaan hari valentine. Dan hal ini mencoreng masa depan remaja di mana mereka adalah aset bangsa Indonesia.

Sebagai bangsa dengan kebudayaan timur yang beradab dan menjunjung tinggi etika dan moral, perayaan Valentine malah menyebabkan kerusakan moral anak bangsa ini. Maraknya seks bebas pada saat valentine bukan sepenuhnya disalahkan kepada remaja saja, namun lingkungan dan pelaku usaha  yang cenderung tidak selektif sehingga menawarkan berbagai paket valentine kepada remaja yang belum cukup umur, juga patut disalahkan dalam fenomena tercela ini.

Seperti yang kita lihat pada pelaku bisnis perhotelan misalnya, sebagian besar hotel mengadakan promo besar-besaran pada perayaan valentine, tak jarang pihak hotel tidak mempermasalahkan pasangan yang datang membooking kamar hotel tanpa surat nikah ataupun KTP. Tentu saja hal ini membuka peluang bagi remaja untuk melakukan seks bebas ataupun penyimpangan lainnya. Sehingga pengunjung hotel seakan membludak dengan kemudahan yang ditawarkan.

Tidak hanya perhotelan saja, penjualan kondom pun juga meningkat di hari valentine, hal ini diungkapkan berdasarkan wawancara dengan berbagai penjaga minimarket dan apoteker di Makassar yang mengakui bahwa penjualan kondom dan tisu magic meningkat saat perayaan Valentine, diantaranya ada remaja dibawah umur yang bahkan juga datang untuk membeli kondom.

Saya yakin, agama apapun yang ada di Indonesia tidak ada yang membolehkan seks bebas, oleh karena itu seks bebas digolongkan sebagai penyakit masyarakat oleh pemerintah, bahkan pelakunya bisa dikenakan pasal dan harus mendekam di penjara.

Lalu bagaimana cara kita menyikapi fenomena tercela ini? Perayaan valentine yang seharusnya menebarkan kasih sayang malah hanya akan menambah bencana bagi bangsa ini. Di sini diperlukan pemnanaman nilai moral yang kuat kepada generasi muda oleh keluarga, lingkungan dan pemerintah dalam mengurangi ini.

Juga hal ini bisa dikurangi dengan menghukum pelaku usaha yang membiarkan remaja di bawah umur menikmati layanan valentine mereka. Hal ini akan mempersempit ruang dan gerak remaja saat perayaan valentine sehingga mereka mengurungkan niat bejat dan hina tersebut. Seperti menghukum pengelola Hotel dan minimarket yang bebas menjual kondom kepada remaja.

Peran pemerintah juga sangat penting dalam mengurangi seks bebas saat valentine dengan menerjukan kepolisian untuk merazia hotel-hotel dan tempat hiburan malam yang telah dicurigai sebagai tempat pelampiasan nafsu remaja di bawah umur ini. Itulah berbagai upaya dan solusi yang ditawarkan dalam mengurangi  kasus seks bebas dan kekerasan seksual yang marak saat valentine. Hal inilah yang membuat Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menyarankan agar tidak merayakan valentine karena efek dan penyimpangan yang dilakukan saat valentine yang dikhawatirkan akan semakin menjadi-jadi,

Walaupun ada sebagian orang yang menyatakan bahwa valentine adalah perayaan resmi agama tertentu, namun bagi saya jika perayaan valentine hanya akan menambah kasus seks bebas di Indonesia, ada baiknya kita melarang remaja untuk merayakan valentine dan cukup merayakannya bersama keluarga saja. Jangan buat citra valentine semakin jelek

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2