Mohon tunggu...
Tareq Albana
Tareq Albana Mohon Tunggu... Mahasiswa

Pejuang Literasi || Mahasiswa Universitas Al-Azhar, Mesir. Jurusan Islamic Theology || Bekerja sebagai Reporter dan Penyiar Radio PPI Dunia.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Gara-gara Air, Aku Bersyukur Hidup di Indonesia

23 Maret 2017   01:25 Diperbarui: 23 Maret 2017   19:33 0 6 4 Mohon Tunggu...
Gara-gara Air, Aku Bersyukur Hidup di Indonesia
Ilustrasi/Kompasiana (Shutterstock)

Pernahkah kamu merasa beruntung hidup di Indonesia

Pernahkah kamu menyadari kalau air di Indonesia ini ternyata begitu nikmat?

Negara Indonesia merupakan negara dengan populasi penduduk yang terbanyak nomor 4 di dunia, memilki 17.000 pulau yang indah, memiliki ratusan bahasa daerah, pesona alamnya luar biasa, ekonominya terkuat 20 besar di dunia, belum lagi dengan ribuan prestasi lainnya yang tidak bisa penulis sebutkan satu per satu.

Apa lagi yang kurang dari negeri kita ini? Negeri yang sering disebut oleh para pujangga sebagai “surganya dunia” sampai-sampai mendapat predikat most beautiful island untuk Pulau Bali.

Sudah segitunya kenikmatan yang kita miliki sebagai bangsa Indonesia, sudah seharusnya kita punya rasa confident atau rasa kepercayaan yang tinggi di publik internasional. Tidak ada alasan bagi kita untuk merasa rendah diri dan menganggap negara lain lebih terhormat dari kita.

Salah satu kenikmatan negeri kita yang paling penulis rasakan adalah air. Air yang dimiliki bangsa Indonesia merupakan air yang sangat nikmat, jernih, dan sehat. Walaupun kita memiliki 270 Juta lebih penduduk, air yang kita miliki masih berlimpah seolah tak ingin berhenti. Saya benar-benar baru menyadari bahwa Indonesia memiliki air yang sangat nikmat ketika saya merantau ke negara Mesir. Pengalaman merantau ke negera inilah yang membuat saya sadar bahwa Indonesia memang “surganya dunia”.

Pengalaman ini ketika saya pertama kali pergi ke negara Mesir dalam rangka studi sarjana strata 1 (S1).

Ketika pertama kali sampai di Kota Kairo, saya merasa sangat kehausan karena memang ketika itu bertepatan dengan musim panas. Jadi, saya pergi ke dapur lalu mengambil air mentah lalu memasaknya. Ketika air itu mulai mendidih, saya melihat air itu warnanya berubah menjadi putih seperti diberi kaporit atau cairan pemutih baju. Bau airnya sangat menyengat sehingga membuat saya muntah.

Lalu senior yang melihat saya menjadi tertawa terbahak-bahak melihat saya lemas sehabis muntah karena meminum air yang sudah dimasak. Beliau mengatakan bahwa seluruh air di negara Mesir memang diberi cairan penjernih air karena air di negara Mesir ini aslinya keruh dan berbau busuk. Mungkin karena Mesir berada di daerah padang pasir, jadi sumber mata airnya hanya diambil dari Sungai Nil dan dialirkan ke seluruh penjuru Mesir. Jadi, selama air itu mengalir ke pelosok pelosok negeri yang jauh, air yang awalnya jernih menjadi keruh. Oleh karena itulah ada stasiun penjernihan air dan di sanalah air ini diberi zat penjernih yang baunya sangat menyengat.

Ketika itu saya paham bahwa air putih di Mesir memang harus diberi cairan zat pemutih supaya airnya berwarna jernih. Oleh karena itu, rata-rata masyarakat Mesir memiliki penjernih air (water purifier) di setiap rumah mereka supaya menghilangkan bau menyengat dari zat penjernih air yang keluar dari stasiun penjernihan.

Yang gawatnya lagi, zat penjernih ini ternyata tidaklah sehat karena zat ini tidak langsung hilang ketika masuk ke tubuh, namun akan mengendap sekian lama sehingga akan menyebabkan keroposan tulang atau osteoporosis. Mengerikan bukan? Bandingkan dengan Indonesia yang airnya tidak hanya enak namun juga menyehatkan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2