Mohon tunggu...
Cahya Wulandari
Cahya Wulandari Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa Pendidikan Sejarah UPI

Saya merupakan salah satu mahasiswi pendidikan sejarah dari Universitas Pendidikan Indonesia yang sedang melakukan Kuliah Kerja Nyata gelombang 2 dengan tema Literasi dan Rekognisi MBKM.

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama

Gambar Saja Tak Cukup

22 September 2021   19:51 Diperbarui: 22 September 2021   19:54 40 2 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Gambar Saja Tak Cukup
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Literasi merupakan isu yang kerap disorot dalam menilai tingkat pendidikan suatu negara, termasuk Indonesia. Pada tahun 2018, lembaga Organisation for Economic Co-operation and Development atau OECD mengadakan kegiatan Programme for International Student Assessment atau PISA. 

Melalui PISA ini, Indonesia menyadari bahwa tingkat literasi Indonesia masihlah jauh dari harapan bahkan hal ini terjadi setelah gerakan literasi nasional dicanangkan. 

Rendahnya tingkat literasi peserta didik yang mengikuti kegiatan PISA sangatlah tidak sebanding dengan persentase melek aksara bangsa Indonesia di seluruh usia yang berkisar pada angka 95,7%. 

Hal ini menandakan bahwa melek aksara saja tidak cukup untuk menunjang pembudayaan literasi di masyarakat. Pada dasarnya pembudayaan literasi adalah hal yang tidak mudah, namun harus segera dilaksanakan untuk menunjang masa depan Indonesia yang jauh lebih cerah. Berbagai cara telah pemerintah lakukan untuk mendongkrak posisi Indonesia pada pelaksanaan PISA selanjutnya. Gerakan literasi digalakan mulai dari tingkat nasional, provinsi, kota/kabupaten hingga lingkungan terkecil di keluarga. 

Hal ini jugalah yang menjadi pertimbangan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI menghapus Ujian Nasional (UN) sebagai indikator pencapaian peserta didik dan menggantikannya dengan sistem Asesmen Komptensi Minimum (AKM) yang mengikuti indikator-indikator dari penyelenggaraan PISA. Hal ini merupakan upaya untuk meningkatkan, menanamkan, mengevaluasi, dan memperbaiki budaya literasi masyarakat Indonesia.

Sebagaimana diungkapkan di atas, pembudayaan literasi merupakan hal yang sulit untuk dilakukan sehingga seluruh pihak harus terlibat dalam pelaksanaannya. 

Hal ini jugalah yang membawa Universitas Pendidikan Indonesia sebagai salah satu perguruan tinggi yang menaruh perhatian tinggi pada pendidikan untuk melakukan gerakan-gerakan pembudayaan literasi, termasuk salah satunya adalah kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Literasi dan Rekognisi MBKM 2021. 

Kegiatan KKN ini selain mengangkat tema literasi juga mendorong mahasiwa untuk mengikuti kegiatan MBKM yang diadakan oleh pusat. Adapun dalam hal ini, penulis merupakan salah satu mahasiswa yang ikut terlibat dalam pelaksanaan KKN Literasi dan Rekognisi MBKM 2021 dengan fokus kegiatan pada pembudayaan literasi baca tulis, numerasi, sains, dan digital. 

Berdasarkan pengamatan penulis selama melakukan kegiatan KKN di Kelas 5 SDN 008 Moh Toha Bandung, budaya literasi masih belum mampu ditanamkan sejauh ini. Terdapat beberapa alasan mengapa penanaman budaya literasi menemui hambatan di kelas ini, yaitu:

  • Pembelajaran daring kurang efektif
  • Meskipun sejatinya pembelajaran daring sama saja dengan pembelajaran luring, namun pentingnya aspek human touch sebagai makhluk sosial menjadi hal yang tak dapat dipungkiri. Pembelajaran daring dinilai masih kurang efektif untuk menjadi salah satu cara mendidik peserta didik dengan optimal. Meskipun begitu karena keadaan yang masih belum memungkinkan untuk diadakan kegiatan PTM pada awal kegiatan KKN sehingga pembelajaran masih harus dilakukan secara daring. Pembelajaran daring yang diterapkan oleh guru mitra pada kelas 5 adalah melalui metode penugasan berbentuk rangkuman. Meskipun secara sederhana hal tersebut mampu untuk meningkatkan kegiatan literasi peserta didik dalam waktu singkat, namun hal tersebut tidak berdampak panjang untuk membudayakan literasi tersebut.
  • Semangat membaca tidak terfasilitasi
  • Setelah melakukan beberapa penyesuaian, penulis menyimpulkan bahwa peserta didik memiliki minat membaca yang tinggi, namun tidak terfalitasi melalui pembelajaran daring sehingga peserta didik tidak mampu mengakses buku-buku perpustakaan. Apabila peserta didik mengakses buku-buku daring permasalahannya adalah kuota internet yang terbatas yang dimiliki oleh orang tua atau wali peserta didik karena mayoritas peserta didik masih menggunakan telepon genggam milik orang tua atau walinya. Selain itu, untuk membeli buku fisik bagi peserta didik juga terbentur oleh kondisi perekonomian keluarga yang harus bertahan pada masa pandemi ini. Adapun pada pembelajaran daring ini, guru pun tidak memberi tugas yang mampu memfasilitasi minat membaca peserta didik, misalkan melalui pembelajaran synchronus tatap maya, penyediaan media pembelajaran yang menarik, maupun penugasan-penugasan yang mampu meningkatkan kemampuan literasi peserta didik.

Melihat hal tersebut, penulis berinisiasi untuk membuat program pembelajaran yang pada dasarnya merupakan upaya untuk menanamkan kemampuan literasi peserta didik. 

Terlebih menurut pengamatan penulis, buku-buku pegangan milik siswa sudah mencantumkan berbagai gambar yang menarik. Namun, adanya gambar saja tidak cukup untuk menekankan budaya literasi membaca pada peserta didik. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...
Lihat Konten Ilmu Sosbud & Agama Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud & Agama Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan