Mohon tunggu...
Tarmidinsyah Abubakar
Tarmidinsyah Abubakar Mohon Tunggu... Pemerhati Politik dan Sosial Berdomisili di Aceh

Penulis adalah Pemerhati Politik dan Sosial Berdomisili di Aceh

Selanjutnya

Tutup

Politik

Tanpa Memahami Demokrasi yang Benar, Politisi di Daerah Cenderung Bermental Penjilat di Indonesia

7 Mei 2021   04:09 Diperbarui: 7 Mei 2021   04:12 120 4 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tanpa Memahami Demokrasi yang Benar, Politisi di Daerah Cenderung Bermental Penjilat di Indonesia
Gambar : pexels


Oleh : Tarmidinsyah Abubakar

Memimpin partai politik membutuhkan ilmu karena ilmu politik itu ilmu yang paling kompleks diwarnai segala bidang ilmu lainnya. Oleh karena itulah maka pemimpin politik menentukan kehidupan rakyat dalam negara maupun di daerahnya. Apalagi pimpinan partai politik di pusat yang otoriter  tentu menjadi pengendali kehidupan rakyat di seluruh daerah dalam negerinya.

Kalau pimpinan dipusat mengutamakan ilmu politik, lalu apakah mereka di daerah tidak memerlukannya?

Baik sebelum menjawabnya kita akan membahas tujuan politik masyarakat daerah atau untuk apa masyarakat daerah harus berpolitik dalam perspektif pembangunan rakyat suatu bangsa? Jawabannya adalah untuk mencapai kedaulatan rakyat secara nasional, termasuk diseluruh wilayah baik yang terkecil sekalipun seperti lorong dan kampung.

Pertanyaannya, apakah kedaulatan rakyat secara nasional dapat dicapai jika masyarakat daerah lemah dalam politik? Jawabannya adalah "tidak". Kenapa? Karena masyarakat tidak secara dominan memahami hak-hak politiknya dalam bernegara. Sebahagian besar mereka berharap apa yang bisa diberikan negara kepadanya tanpa harus berpolitik.

Karena itulah maka mereka yang bermental lemah seperti ini tentunya bukan seseorang yang punya sikap dan apalagi diharapkan untuk berpolitik membela hak-hak rakyat.

Memang aneh bila kita melihat jumlah penduduk Indonesia yang mendekati angka 300 juta jiwa, sementara yang bekerja untuk memperkuat peran politik rakyat hanya beberapa persen diantara mereka.

Ketika pertama kali sistem demokrasi dilaksanakan di yunani bahkan perempuan tidak dianggap  sebagai warga negara karena tidak memenuhi syarat sebagaimana standar yang mumpuni sebagai warga negara atau tidak cukup kapasitas dan kualitas dalam memahami hak dan demokrasi dalam bernegara. Padahal ketika itu, sistem demokrasi yang diimplementasikan secara langsung tidak dengan sistem perwakilan. Tetapi yang diminta pendapatnya dan dianggap mumpuni dalam bernegara juga sangat terbatas, meski yang berminat sangat besar jumlahnya dari total jumlah rakyat.

Penulis menyampaikan fakta tersebut sebagai bukti sejarah bahwa dalam aksi bernegara membutuhkan ilmu pengetahuan, mentalitas dan kesungguhan dari mereka yang ambil peduli dengan tujuan bernegara dan sedikit diantara mereka yang bermental sebagai negarawan.

Demikian juga dalam melakukan perjuangan terhadap kebangsaan, mereka adalah yang memang memiliki pengetahuan utuk itu, dan tentu saja mereka yang memiliki kapasitas mental untuk berani menyatakan sikapnya untuk kepentingan yang lebih besar demi masa depan bangsanya  hanya berjumlah sedikit saja.

Banyak sekali terdapat politisi baik di daerah-daerah maupun dipusat yang merasa prihatin dengan kondisi bangsanya dan kondisi sosialnya tetapi hanya beberapa diantara mereka yang berinisiatif  yang menggerakkan kepentingan bersama tersebut. Tetapi apakah karena mereka lebih cerdas daripada yang lain? Tentu saja tidak demikian, karena masih banyak orang yang lebih cerdas dari mereka namun kapasitas dan mentalitasnya tidak bisa mengantar seseorang untuk berani melangkah untuk bertarung dalam pertaruhan tujuan sebagaimana dalam pikiran semua orang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN