Mohon tunggu...
Tarmidinsyah Abubakar
Tarmidinsyah Abubakar Mohon Tunggu... Politisi - Pemerhati Politik dan Sosial Berdomisili di Aceh
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Penulis adalah Pemerhati Politik dan Sosial Berdomisili di Aceh

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Apa Syarat Standar Memimpin dalam Watak Anda?

6 Agustus 2020   05:10 Diperbarui: 6 Agustus 2020   05:13 108
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Banyak orang berebutan dalam memimpin organisasi atau menjadi kepala daerah, pemimpin koperasi atau menjadi kepala desa dan lain-lain.

Salah satu alat yang harus dimiliki dalam watak seseorang untuk memimpin yang standar adalah "persamaan".

"Persamaan"

Seorang pemimpin memang memiliki posisi yang lebih tinggi daripada bawahannya. Namun tidak berarti dia memiliki hak untuk mendominasi. Seorang pemimpin harus bisa memperlakukan semua orang di sekitarnya dengan cara yang sama. Dengan demikian, semua orang akan menghormatinya dan berusaha mentaatinya. Kalau dalam politik dan bernegara sering juga disebut hak.

Kata persamaan ini memiliki dimensi yang begitu luas, jika anda tidak punya alat itu maka dapat dipastikan anda bukan pemimpin tetapi perampas hak rakyat.

Itulah yang membedakan suatu kepemimpinan demokratis yang idealnya kepemimpinan rakyat merdeka dan kepemimpinan feodal yang merupakan kepemimpinan penjajah.

Kepemimpinan ini juga menjadi indikator anda hidup di alam merdeka atau alam jajahan. Lalu apa artinya anda berjuang untuk kemerdekaan kalau dalam kepemimpinan anda sesungguhnya menjajah dan dijajah oleh sesama. Apa artinya anda bicara demokrasi namun sesungguhnya anda memimpin dengan sistem feodal penjajah.

Oleh karena itu di dalam sistem kepemimpinan penjajah itu masyarakatnya mencari sosok orang yang bisa membantu atau Tuan Bermurah Hati. Tapi pada masyarakat merdeka mereka mencari pemimpin adalah sosok yang cukup kapasitas dan kualitas wawasan dan ilmu pengetahuan dalam keadilan.

Pada level kepemimpinan di kita masih dalam tahapan yang  kasar, dimana kita masih dalam tahap memahami kepemimpinan adalah kekuasaan belum bisa digolongkan kepemimpin sipil. Namun dalam kepemimpinan kasarpun kita masih centang perenang.

Padahal hakikat kekuasaan itu adalah kerjasama, ia melahirkan konspirasi positif maupun negatif. Yang positif setidaknya menetes dampaknya ke rakyat tapi yang negatif itu sama dengan merampok berkelompok atau dimasa lalu sering di sebut Pancuri Tujoh dalam terminology masyarakat Aceh.

Lalu bagaimana mengetahui  sistem feodal, pemimpinnya tidak menganggap penting partisipasi anda dalam bernegara, pemimpin organisasi yang berjalan sendiri atau dengan sekelompoknya saja.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun