Mohon tunggu...
Taofik Wildan
Taofik Wildan Mohon Tunggu... Saya adalah

Wildan

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Swasembada Bawang Putih Tidak Ekonomis

8 Mei 2019   19:32 Diperbarui: 8 Mei 2019   19:35 0 0 0 Mohon Tunggu...

Indah sekali rasanya jika kita berandai-andai pada 2021 nanti Indonesia bisa memproduksi sendiri seluruh kebutuhan bawang putih nasional alias swasembada. Kementerian Pertanian optimistis bakal bisa mencapai swasembada bawang putih pada 2021.

Tentu tidak ada yang salah dengan spirit target swasembada bawang putih. Sayang, kondisi aktual di lapangan berkata lain. Data pendukung dari neraca bahan makanan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susesnas) menunjukkan konsumsi bawang putih nasional periode 2002-2017 jika dirata-rata mencapai 500-600 ribu ton setiap tahunnya.

Sementara produksi tahunan bawang putih di dalam negeri selama bertahun-tahun tidak mampu beranjak dari angka 20-an ribu ton per tahun. Artinya kita hanya mampu menopang 4-5% kebutuhan. Untuk memenuhi kebutuhan domestik, 95-96% bawang putih dipasok dari impor. Sebagian besar didatangkan dari China. Celakanya, harga bawang putih di pasar dunia jauh lebih murah dibandingkan di pasar domestik.

Berita Satu

Sebagai gambaran, harga pokok produksi bawang putih di Tiongkok sekitar Rp 5 ribu per kg. Setelah tiba di Indonesia, di level konsumen komoditas ini bisa dihargai antara Rp20 ribu-Rp 60 ribu per kg. Hal ini tentu menjadi mainan empuk para importir, yang ujung-ujungnya bikin swasembada bawang putih sangat sulit tercapai.

Pemerintah berusaha menyiasati rendahnya lahan tanam bawang putih adalah dengan mewajibkan importir bawang putih untuk memproduksi 5% dari total pengajuan rekomendasi impornya. Sejak diluncurkan pada 2017 sampai awal 2019, sudah tertanam 5.500 hektare bawang putih oleh importir.

Kendati demikian, para petani tetap tidak tertarik untuk menanam bawang putih. Salah satu sebabnya adalah terbatasnya luas lahan panen untuk menanam bawang putih. Perlu diketahui, bawang putih di Indonesia umumnya ditanam di dataran tinggi dengan minimum 800-1.300 meter di atas permukaan laut. Pasalnya tanaman ini memerlukan suhu rendah dan panjang hari yang tepat dalam proses pertumbuhannya.

Tirto

Berbeda dengan di Indonesia yang hanya bersinar 8-10 jam sehari, di kawasan sub tropis sinar matahari bersinar terus sepanjang hari selama 17 jam saat musim panas. Faktor cuaca menghasilkan fisik bawang putih yang jauh lebih besar ketimbang produksi lokal, serta memengaruhi pertumbuhan varietas bibit.

Semua faktor diatas tentu memengaruhi keputusan petani untuk menanam bawang putih. Ongkos produksi tanam bawang putih dua kali lipat lebih mahal daripada impor dari Cina. Sebagai makhluk rasional, sulit rasanya mendorong petani untuk mengusahakan tanaman bawang putih.

Peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Dwi Andreas Santosa, menilai ketimbang memaksakan percepatan swasembada bawang putih, adalah lebih penting bagi pemerintah untuk menjaga daya saing harga bawang putih. Caranya dengan penetapan kebijakan bea masuk impor untuk produk hortikultura.

Tidak bisa dipungkiri, harga riil bawang putih di Indonesia secara signifikan dipengaruhi oleh tarif impor yang rendah dalam jangka panjang. Tarif impor merupakan instrumen yang baik untuk kebijakan dalam mengendalikan harga bawang putih impor Indonesia. Pemberlakuan kebijakan ini dapat mengurangi impor bawang putih.

Berdasarkan hitung-hitungan ekonomis, pemerintah Indonesia disarankan untuk mengevaluasi atau menegosiasikan kembali pemberlakuan kembali tarif impor bawang putih sebesar 5%. Hasilnya ditengarai akan memberikan dampak yang cukup besar untuk mengubah kesejahteraan petani secara keseluruhan.