Mohon tunggu...
Sultan Maulana Ibrahim
Sultan Maulana Ibrahim Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

play football

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Masa Depan Tersingkir

29 Mei 2024   11:30 Diperbarui: 29 Mei 2024   11:40 99
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

"Anak usia dini yang menghadapi kehidupan sebagai pengemis"

Anak-anak usia dini yang hidup di jalanan dan menjadi pengemis menghadapi tantangan yang sangat berat. Kondisi ini tidak hanya merampas masa kecil mereka tetapi juga mengancam masa depan mereka. Beberapa faktor kunci yang mempengaruhi nasib anak-anak ini meliputi kemiskinan ekstrem, kurangnya akses pendidikan, dan masalah kesehatan yang serius.

Fenomena anak-anak usia dini yang menjadi pengemis merupakan salah satu permasalahan sosial yang kompleks dan mendesak di berbagai negara, termasuk Indonesia. Kehidupan sebagai pengemis membawa dampak yang signifikan pada perkembangan fisik, mental, dan emosional anak. Sosok pengemis yang terlihat secara fisik hampir selalu menunjukkan sejumlah ciri ciri seperti: menderita cacat, menderita tumor di wajah, dan sebagainya. Sejumlah ciri-ciri itu masih diperkuat lagi oleh penampilan, pakaian yang kumal, tempat yang kecil yang digunakan untuk menadah uang dari pemberi sedekah.

Anak-anak pengemis sering kali tidak memiliki akses ke pendidikan formal. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang berkualitas sangat penting untuk perkembangan anak dan dapat memberikan mereka peluang yang lebih baik di masa depan. Program-program seperti yang dijalankan oleh UNICEF dan Tanoto Foundation berupaya meningkatkan akses dan kualitas PAUD di daerah-daerah terpencil. Inisiatif ini mencakup pelatihan guru dan penggunaan bahan ajar berbasis komunitas yang memanfaatkan sumber daya lokal

Anak-anak jalanan juga rentan terhadap berbagai masalah kesehatan. Masalah gizi buruk, seperti stunting, masih menjadi tantangan besar di banyak wilayah Indonesia. Program SIGAP dari Tanoto Foundation bertujuan untuk menurunkan prevalensi stunting dan meningkatkan kualitas pengasuhan anak usia dini. Melalui pusat layanan pengasuhan dan pembelajaran dini, program ini berupaya menyediakan dukungan yang komprehensif bagi anak-anak dan keluarga mereka

Harapan untuk masa depan meskipun tantangannya besar, ada harapan melalui berbagai inisiatif dan program yang berfokus pada peningkatan pendidikan dan kesehatan anak-anak usia dini. Pemerintah dan organisasi non-pemerintah harus terus bekerja sama untuk menyediakan lingkungan yang mendukung bagi anak-anak ini agar mereka dapat keluar dari lingkaran kemiskinan dan memiliki masa depan yang lebih cerah. Upaya-upaya kolektif yang melibatkan komunitas lokal, pendidik, dan keluarga adalah kunci untuk menciptakan perubahan yang berarti dan berkelanjutan.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun