Mohon tunggu...
Tina Tuslina
Tina Tuslina Mohon Tunggu... pelajar/mahasiswa -

saya adalah ibu rumah tangga yang mempunyai anak 2, saya juga guru di RA. BANI YAHYA SOLEMAN, saya juga mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Tangerang semester IV. pernah menjadi ketua osis di MTs. di MAN aktif di PKS, Pramuka dan obade. pernah mondok di pesantren Riadlul Ulum Cipendeui Cipasung Tasikmalaya. di kampus sebagai ketua mahasiswa pg-paud angkatan 2010-2011. ketua UKM Tari FKIP PG-PAUD

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Gerakan Reformasi dan Modernisasi di Indonesia

30 Juni 2012   07:13 Diperbarui: 25 Juni 2015   03:24 12463 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Gerakan Reformasi dan Modernisasi di Indonesia
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

GERAKAN REVORMASI DAN MODERNISASI DI INDONESIA

1.PROSES ISLAM MASUK KE INDONESIA

Agama Islam masuk ke Indonesia untuk pertamakalinya di sekitar abad XIII Masehi. Berdasarkan pada informasi sejarah, baik dari sumber Barat yang salah satunya ditokohi oleh Marco Polo maupun dari sumber Timur yang diwakili oleh Ibnu Batuthah. Snouck hurgronye menceritakan dalam bukunya “De Islam in Nederlansch-Indie” tentang masuknya Islam ke Indonesia sebagai berikut “Tatkala Raja Mongol Hulagu Khan pada tahun 1258 M menghancurkan Bagdad yang lebih dari 5 abad lamanya merupakan ibu negri kerajaan Islam, kelihatan seakan-akan kesatuan kerajaan-kerajaan Islam lenyap. Hanya setengah abad sebelum kejadian yang penting itu berlaku, Islam dengan cara perlahan berkembang dan masuk ke pulau-pulau Indonesia dan sekitarnya. Perkembangan ini tidak dicampuri oleh pemerintah manapun juga. Negara-negara pesisir Sumatra, seluruh Jawa, Pantai Borneo (kalimantan) dan Selebes (Sulawesi), dan beberapa pulau-pulau kecil yang lain satu persatu masuk Islam, terutama dengan usaha saudagar-saudagar Islam dari daerah sebelah Barat yang ingin memperoleh tempat tinggal di Indonesia. Dibantu pula oleh anak Negri yang sudah masuk Islam di daerah pesisir yang ikut serta menyiarkan dakwah agama ke daerah pedalaman, dan sebagian lagi pergi berlayar menyiarkan keyakinannya yang baru itu ke pulau-pulau yang terdekat.

Masyarakat Indonesia pra Islam, bukanlah masyarakat yang bersih dari berbagai macam ragam keyakinan hidup. Tetapi mereka telah memiliki kepercayaan seperti :Animisme, Dinamisme, Hindhu maupun Buddha yang diyakini dan telah menyatu dalam seluruh aspek hidupnya. Mereka dengan kesadarannya sendiri mau menerima seruan dan ajakan Islam, tetapi mereka tidak begitu saja meninggalkan kepercayaan sebelumnya dari kebiasaan hidupnya. Gejala bercampur aduknya antara kepercayaan lama dengan keyakinannya yang baru tidak mungkin dapat dihindari. Padahal sesungguhnya agama Islam sebagaimana yang diajarkan Allah dan utusan-Nya secara tegas tidak dapat menerima hal seperti itu. Agama Islam adalah agama yang berfahamkan “Monoteisme Absolut”, ajaran yang berfahamkan tauhid yang mutlak dan murni, ajaran yang sama sekali tidak mau berkompromi dengan berbagai macam bentuk kemusyrikan maupun berbagai ragam khurafat (tahayul, gugon tuhon. Jw). Snouck Hurgronye menyelidiki kaum muslimin diberbagai daerah Indonesia. Terutama Jawa, Sumatra dan Aceh. Bahwa orang Jawa “percaya pada adanya benda-benda gaib, suatu kepercayaan yang berasal dari Polinesia dan Hindu.

Isalam datang ke Indonesia bukan dibawa oleh para mubaligh yang langsung datang dari jazirah Arab, melainkan dibawa oleh para pedagang dan mubaligh dari Gujarat-India. G.W.J. Drewes menyatakan bahwa “Islam tiba di Indonesia bukan dari pusatnya di Timur Tengah, akan tetapi dari India, dan Islam semacam ini yang telah disaring melalui pengalaman agama di India, dan bertaburan mistisisme, mendapatkan dasarnya yang telah dipersiapkan dengan baik di Jawa yang telah dipengaruhi oleh agama Hindu”. Abu Bakar Aceh menyatakan bahwa para penyiar Islam di hari-hari pertama itu berasal dari Gujarat, India. Alasan ini didasarkan :

a.Atas adanya hubungan dagang antara orang-orang hindu dengan orang-orang Indonesia sebelum Islam, dan hubungan dagang ini di teruskan sesudah orang-orang Hindu memeluk Islam.

b.Gujarat adalah pelabuhan yang terpenting tempat bertolak saudagar-saudagar Hindu maupun Islam ke Indonesia.

c.Batu-batu nisan dari kuburan-kuburan terpenting di Indonesia adalah bikinan, mempunyai ukiran dan dimasukkan dari Gujarat.

d.Nama-nama yang terkubur itu adalah raja-raja yang memakai gelar Syaj dari bahasa Persia atau India.

e.Penyesuaian adat-istiadat dan kebiasaan antara Indonesia dan India yang sampai sekarang masih dapat dilihat dari kehidupan bangsa kita.

f.Adanya paham aliran Syiah dan paham wihdatul wujud dalam ilmu tasawuf di Indonesia.

Menurut Mukti Ali bahwa:“Campurnya Islam dengan elemen-elemen Hindu menambah mudah tersiarnya agama itu (Islam) dikalangan masyarakat Indonesia, terutama masyarakat Jawa, karena sudah lama kenal dengan ajaran-ajaran Hindu. Sebagian besar tersiarnya Islam di Indonesia ini adalah hasil pekerjaan kaum Sufi dan Mistik.

Pemimpin-peminpin Agama Islam pada waktu itu yang di hormati yaitu para ahli tariqah atau para guru suluk, seperti pada abad XVI di Sumatra Utara adalah Hamzah Pansuri, Syamsuddin Pase, Nuruddin ar-Raniri, Abdur-Rauf Singkel,dan di Jawa Wali Songo, mereka itu adalah tokoh Mistik dan Ahli Tasawuf. C.C.Berg menyatakan “sesungguhnya Sufisme atau Mistisisme Islam, bukannya ortodoksi Islam yang meluaskan pengaruhnya di Jawa dan sebagian Sumatra.

Tasawuf yang mereka kembangkan cenderung pada tasawuf yang memandang hidup berat sebelah. Ajaran “fana”, yaitu faham meniadakan diri untuk hidup berzuhud yang bersih dari segala pamrih keduniaan menjadikan mereka membelakangi dunia. Dikalangan mereka terkenal ajaran hadits yang menyatakan bahwa “dunia ini penjara bagi orang-orang mukmin, dan surga bagi orang-orang kafir” yang ditafsirkan secara tidak tepat ( bandingkan dengan al-Qashsh (28): 77). Berbeda dengan pemahaman Jamaluddin al- Afghany, bahwa makna “fana” itu tidak lain mengandung pengertian melebur kepentingan diri pribadi bagi kepentingan dan perjuangan bersama. Tasawuf semacam inilah yang di tuntunkan Allah dan Rasul-Nya, dan hal seperti inilah yang dibuktikan sendiri oleh sahabat Abu Bakar as-Shidiq, Usman bin ‘Affan dan Jamaluddin al-Afghany sampai akhir hayatnya.

Dalam masalah fikih, yang menguasai lapangan pendidikan dan pengajaran tradisional Islam di Indonesia – di samping tasawuf – muslim Indonesia mengikuti madzhab Syafii, dan beberapa buku pegangan seperti buku-buku penyederhanaan , pengganti, atau syarah (komentar), umpamanya kitab Tuhfah dan Nihayah yang di tulis oleh Ibnu Hajar al-Haitam dan ar-Ramli. Tarekat-tarekat Sufi yang memperoleh pengikut di Indonesia adalah terekat Qadiri, Rifa’i, Naqsyabandi, Sammani, Qusyasyi, Syattari, Syazili, Khalwati dan Tijjani.

Yang perlu mendapat perhatian, masalah firqah, yaitu suatu aliran yang mencul dikarenakan perbedaan dalam memahami masalah pokok-pokok agama, seperti firqah Ahlus-Sunnah wal Jama’ah, Mu’tazilah, Syi’ah, Qadariyah, Jabariyah dsb, ternyata di awal perkembangan Islam di Indonesia telah masuk juga faham Syi’ah.

Kedamaian umat Islam di Indonesia dalam melaksanakan kehidupan keagamaan dan dakwahnya yang berlangsung selama kurang lebih tiga abad, disekitar awal abad XVI tiba-tiba dikejutkan dengan datangnya bangsa-bangsa Eropa untuk menjajah secara silih berganti antara bangsa Sepanyol, Potugis, Inggris dan Belanda. Mereka tanpa kecualinya-termasuk Belnda yang menjajah Indonesia – datang kenegri-negri jajahannya selalu dimotivasi oleh tiga motif utama, yaitu :

a.Motif ekonomi (Gold), yang dengan motif ini penjajah melaksanakan berbagai macam program kemiskinan terhadap anak negri jajahannya.

b.Motif politik (Glory), dengan motif ini penjajah melaksanakan berbagai program pembodohan agar tetap buta terhadap jati dirinya sebagai bangsa yang berhak untuk merdeka.

c.Motif agama (Gospel), dengan motif ini penjajah melaksanakan program pemurtadan/Kristenisasi, motif ketiga ini adalah motif yang paling utama.

2.AWAL KELAHIRAN GERAKAN PEMBAHARUAN ISLAM DI INDONESIA

Kondisi umat Islam di Indonesia seperti di atas berjalan beratus-ratus tahun lamanya. Baru pada sekitar tahun 1803 bersamaan dengan kepulanganHaji miskin, Haji Sumanik dan Haji Piobang dari menunaikan ibadah Haji dan untuk sementara waktu bermukim, mereka pulang kembali kekampung halamannya di Minangkabau dengan membawa semangat Islam yang di ilhami oleh Gerakan Wahabi yang puritan. Sementara di daerah Luhak Agama para tuanku mengadakan kebulatan tekaduntuk memperjuangkan tegaknya syara’sekaligus memberantas segala macam kemaksiatan yang sudah mulai semarak dikerjakan oleh kaum adat. Mereka terdiri dari Tuanku nan Renceh, Tuanku Bansa, Tuanku Galung, Tuanku Lubuk Aur, Tuanku Padang Lawas, Tuanku Padang Luar, Tuanku Kubu Ambelan dan Tuanku Kubu Sanang. Kedelapan orang inilah yang terkenal dengan julukan ‘harimau nan salapan’, delapan harimau yang berani menantang berbagai macam kemaksiatan. Disamping kedelapan tokoh di atas, muncul tiga tokoh lain di Gerakan Paderi yang namanya cukup legendaris, yaitu Muhammad Syabab yang membangunperbentengan di Bonjol. Hanya bagi orang-orang yang belum mengenalnya mereka menamakannya sebagai kaum Paderi, orang-orang yang selalu mengenakan pakaian serba putih, mirip sebagaimana yang biasanya dikenakan oleh father/pastur.

Mereka mengadakan perombakan masyarakat secara radikal, dan dalam banyak hal mereka menggunakan kekerasan. Karena itu terjadilah konflik antara kaum paderi dengan sebagian kaum adat, yang diakhiri dengan timbulnya perang terbuka. Dan karena dalam berbagai pertempuran fihak kaum adat selalu dikalahkan, kemudian mereka meminta bantuan kepada pihak Belanda, dan dengan senang hati Belanda menyanggupinya. Perang babakan baru di mulai setelah Belanda mendatangkan bala bantuannya untuk memerangi kaum Paderi. Berhadapan dengan kaum Kafir Belanda.

Syaikh Ahmad Khotib, yang lahir di Bukittinggi pada tahun 1855 ketika berusia 21 tahun pergi ke Mekah untuk belajar memperdalam pengetahuan agama Islam yang berfahamkan madzhaf Syafi’i. Dan sejak saat itu Akhmad Khotib tidak pernah kembali ke Indonesia. Bahkan pada puncak karier keilmuannya ia mendapatkan kedudukan yang sangat tinggi sebagai imam dari madzhab Syafi’i di masjidil Haram. Sekalipun demikian hubungan dengan daerah asalnya masih tetap terjalin lewat mereka yang menunaikan ibadah haji atau lewat murid-muridnya yang berasal dari Indonesia. Ia adalah sosok ulama yang cerdas, kritis dan toleran. Hal ini terlihat pada sikapnyayang secara terang-terangan tidak menyetujui terhadap aliran tarikat Naqsabandiyah serta menentang terhadap adat pembagian warisan model Minangkabau-Sumatra Barat.

Tokoh-tokoh Pembaharu lainnya dari Minangkabau tercatat antara lain Syaikh Thahir Djalaluddin al-Azhari yang ide-idenya disalurkan lewat majalah “al-Imam”, Syaikh Djamil Djambek, Abdul Karim Amrullah atau dikenal dengan julukan Haji Rasul (ayah HAMKA), tokoh yang pertamakali memperkenalkan Muhammadiyah kepada masyarakat minangkabau pada tahun 1925. Tokoh pembaharu lainnya, yaitu Haji Abdullah Ahmad Yang ide-ide pembaharuannya disalurkan lewat majalah yang didirikannya, yaitu “Al-Munir”, degan tujuan “memimpin dan memajukan anak-anak bangsa kita... pada agama yang lurus dan beri’tikad yang betul”. Tokoh ini pengetahuannya tentang Islam diakui oleh ulama-ulama Timur Tengah pada suatu konperensi khilafat di Kairo tahun 1926, dimana dia bersama Haji Rasul memperoleh gelar kehormatan doktor dalam bidang agama (doktor fid-din).

3.GERAKAN PEMBAHARUAN ISLAM DI INDONESIA ABAD XX

Memasuki abad XX di Indonesia, terutama di pulau Jawa perjuangan menegakkan agama Islam sehingga kemulyaan Islam sebagai idealita dan kejayaan umat Islam sebagai realita (‘izzu Islama wal muslimin) dapat di realisasikan secara konkrit telah dimulai dengan menggunakan organisasi sebagai alat perjuangannya. Umat Islam mulai saat ini menyadari bahwa cita-cita yang demikian besar lagi berat seperti diatas hanya akan dapat diperjuangkan lebih efektif dan efesien manakala menggunakan alat perjuangan yang namanya “organisasi”. Maka bermuncullah berbagai gerakan pembaharuan dalam Islam, baik yang bergerak dalam bidang politik kenegaraan, seperti Partai Serikat Islam, Partai Islam Indonesia (PII), Partai Islam Masyumi, Partai Muslimin Indonesia, maupun yang bergerak dalam bidang sosial kemasyarakatan seperti Al-Islah wal-Irsyad atau terkenal dengan nama Al-Irsyad, Persatuan Islam (Persis) dan Muhammadiyah.

Sesungguhnya dua pola perjuangan seperti di atas telah ada ‘blue print’ atau cetak birunya sebagaimana yang telah dirintis oleh Gerakan salafiah yang ditokohi oleh Jamaluddin al-Afghany dan Muhammad Abduh. Sebagaimana telah dimaklumi bahwa kalau teori perjuangan Jamaluddin al-Afghany lebih dititik beratkan untuk merebut dan menguasai berbagai lembaga kenegaraan, terutama lembaga legislatif, dengan keyakinan bahwa dengan dikuasainya berbagai lembaga kenegaraan tersebut maka Islam akan dapat menentukan berbagai perundang-undangan, aturan, keputusan dan kebijakan negara yang benar-benar Islami. Dan karena saat al-Afghany menegaskan pendiriannya seperti negeri-negeri Islam diseluruh dunia masih dicengkeram oleh kaum penjajah maka untuk melaksanakan cita-citanya tersebut jalan yang pertamakali harus ditempuh oleh negeri-negeri Islam adalah berjuang untuk mengusir kaum penjajah. Sementara Muhammad Abduh berpendapat bahwa dirinya juga setuju dengan prinsip yang dikembangkan oleh Jamaluddin al-Afghany, namun satu hal yang tidak boleh dilupakan juga bahwa pembinaan umat harus juga diprioritaskan. Pembinaan umat lewat dakwah Islamiah, pendidikan dan membangun kesejahteraan umat merupakan satu pekerjaan yang harus diprioritaskan. Lewat pengembangan pendidikan yang benar-benar Islami akan melahirkan kader-kader yang siap menyebarkan ide-ide pembaharuan keseluruh penjuru dunia, dan sekaligus akan menjadi pendukung yang setia untuk tampil kedepan mengisi tugas-tugas kenegaraan dan kemasyarakatan yang menjadi medan garapnya.

Dua bidang garap berupa bidang politik dan bidang sosial kemasyarakatan seperti diatas manakala platformnya diletakkan pada asas yang sama maka sesungguhnya esensi dari keduanya merupakan satu-kesatuan yang tidak mungkin dapat dipisah-pisahkan, keduanya bagaikan sekeping mata uang yang dilihat dari dua sisI.

4.GERAKAN POLITIK ISLAM DI INDONESIA

Di antara beberapa partai Islam yang pernah hadir di tengah-tengah masyarakat Islam Indonesia yang cukup menonjol, tercatat antara lain adalah :

1.PARTAI SERIKAT ISLAM INDONESIA

Cikal bakal gerakan politik Islam di Indonesia diawali dengan berdirinya Serikat Dagang Islam yang didirikan oleh Haji Samanhudhi dan kawan-kawan para pedagang batik di Kota Solo pada tanggal 16 Oktober 1905, 3 tahun sebelum lahirnya Budi Utomo pada tahun 1908. Pada saat SDI dibentuk gerakannya tidak diarahkan pada bidang politik praktis, melainkan diarahkan untuk:

a.Pertama untuk menghimpun kekuatan para pedagang baik guna melawan pedagangCina yang memonopoli perdagangan bumbu batik dengan memainkan harga seenaknya sendiri.

b.Kedua untuk menghadapi sikap superioritas orang-orang Cina terhadap orang-orang Indonesia sehubungan dengan berhasilnya revolusi Cina pada tahun 1991.

Sikap superitas keturunan Cina ini sesungguhnya telah mempunyai akar yang sudah cukup lama, yaitu merupakan hasil kongkrit dari keberhasilan pemerintah Hindia Belanda yang membagi warga negara Hindia Belanda menjadi tiga tingkatan. Diataranya :

1)Tingkatan pertama adalah bangsa Belanda dan Eropa lainnya.

2)Warga negara kedua adalah bangsa Cina dan Timur asing lainnya.

3)Dan warga negara kelas tiga adalah bangsa Indonesia yang memilih kewarganegaraan Belanda.

Politik divide et Impera seperti ini diterapkan juga dalam dunia pendidikan yang mereka selenggarakan, dimana dalam sitem pendidikan yang dikembangkan sejak dilaksanakannya politik Etis pemerintah dalam menyelenggarakan pendidikannya anak-anak keturunan Cina dimasukkan pada sekolah kelas dua, sedang anak-anak priyayi masuk sekolah kelas tiga.

Perkumpulan dagang yang menggunakan nama Islam ini cepat berpengaruh pada masyarakat pribumi Solo, dan tidak saja membangkitkan perasaan anti Cina tetapi juga anti kolonial dan para pegawainya yang telah banyak menbuat kesulitan bagi rakyat pribumi.

Menurut Fred Robertvon der Mehden dalam desertasinya yang berjudul ‘Islam and the Rise of Nationalism in Indonesia’ dikatakan bahwa SDI di ubah menjadi Serikat Islam setelah Tjokroaminoto masuk kedalam organisasi ini dalam tahun 1912 atas undangan Samanhudhi. Tjokraaminoto mengusulkan supaya jangan dibatasi hanya kepada golongan-golongan pedagang, tetapi diperluas, sehingga dari kata “dagang” waktu menyusun statuten dihapus diganti dengan kalimat perkumpulan bernama “Sarikat Islam”. Dengan demikian pergerakan Sarekat Islam yang semula sekedar untuk memajukan perdagangan, saling membantu, terbinanaya rohani dan jasmani, memajukan kehidupan masyarakat beragama Islam, pada tahun 1912 berkembang menjadi pergerakan politik dengan menggunakan Islam sebagai dasar perjuangannya dan mencita-citakan kemerdekaan. Dan dalam perkembangan berikutnya, dengan mengukuti berbagai keputusan kongres yang diadakannya terlihat secara jelas bahwa Sarikat Islam memiliki ciri yang khas sebagai gerakan massa yang oertama yang memperkenalkan politik nasional ketengah-tengan rakyat.

Sosok HOS Tjokroaminoto yang oleh Belanda dijulukinya sebagai raja jawa yang tidak dinobatkan, ‘De ongekroonde koning van Jawa, adalah tokoh nasionalisme modern. Syafii Maarif menilai Tjokroaminoto bukan saja sebagai tokoh dan inspirator pergerakan, pemikir Islam, tetapi ia juga sebagai tokoh pertama kali yang melancarkan ide pembentukan bangsa (nation) dan pemerintahan sendiri (self government). Dialah yang sebenarnya sebagai bapak pendiri faham kebangsaan, ‘the real founding father of nationalism. Ditangan sosok inilah syarikat Islam berkembang dengan pesatnya.

Pada tahun 1919, tujuh tahun setelah Tjokroaminoto memimpin organisasi ini telah menyebar keseluruh Jawa dan beberapa tempat di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi, dan anggotanya meliputi semua lapisan masyarakat. “...Daya tarik Sarikat Islam lebih jauh jangkauannya daripada sekedar mecapai kelompok penduduk kota yang berorientasi Barat. Karena partai tersebut memusatkan perhatiannya secara eksklusif bagi orang-orang Indonesia, maka ia mendapatkan pengikut-pengikutnya dari semua kelas, baik di kota maupun di desa. Para pedagang muslim, para pekerja di kota-kota, para kiai dan ulama, dan bahkan beberapa penyanyi, dan diatas segala-galanya petani tertarik kedalam gerakan massa politik yang pertama – dan terakhir – di Indonesia di jaman kolonial Belanda. Melihat betapa besarnya minat masyarakat dari berbagai lapisan memasuki Sarekat Islam, Ruslan Abdulghani memberikan penilaian ‘dibandingkan Budi Utomo maka Srikat Islam lah yang justru jauh lebih memenuhi syarat-syarat untuk dapat dinyatakan sebagai gerakan nasional.

Seorang tokoh penting lainnya yang bergabung pada Serikat Islam, ialah Haji Agus Salim seorang intelektual muslim hasil didikan Barat, yang dipengaruhi oleh aliran-aliran reformis Islam. Ia tidak populer pada periode pertama, tetapi ia berhasil untuk mencapai suatu kedudukan kepemimpinan dalam periode-periode berikutnya, terutama dalam membentuk dan memberi isi pada Sarikat Islam dengan warna Islamnya.

Serikat islam mengalami goncangan dari dalam ketika tokoh-tokoh komunis yang menyusup ke tubuh SI mulai mendapatkan posisi yang menentukan. Satu hal yang patut diperhatikan bahwa dengan cara menyembunyikan ideologi komunismenya yang anti Tuhan dan anti agama di hadapan orang banyak, sementara untuk menarik simpati mereka selalu tampil untuk membela kaum miskin, akhirnya tokoh-tokoh komunis (ISDV) yang berada didalam SI segera mendapat dukungan massa. Kelompok ini “mencoba mengarahkan pergerakannya menjadi suatu aksi yang radikal dan revolusioner, yang memusatkan perhatiannya kepada para pekerja di kota dan di perkebunan serta orang-orang pedesaan.

Sebagaimana diketahui faham Komunis diperkenalkan ke Indonesia oleh Hendricus Josephus Franciscus Marie Sneevliet (Belanda), seorang aktivis politik yang berhaluan Marxisme berkebangsaan Belanda datang ke Indonesia pada tahun 1913. Sewaktu masih di negeri Belanda ia menjadi pemimpin organisasi buruh angkutan dan menjadi anggota Social Democratische Arbeiders Partij (SDAP). Mula-mula ia bekerja sebagai staf redaksi Warta perdagangan Soerabajasche Handelblad, sebuah surat kabar milik sindikat perusahaan-perusahaan gula di Jawa Timur. Kemudian ia bekerja menjadi sekertaris Kamar Dagang Semarang. Bersama-sama dengan orang lainnya yaitu Aldolf Baars, P. Bergsma, Brandsteder, H.W. Dekker, dari orang Indonesia tercatat nama Semaun ia mendirikan organisasi Marxis yang pertama di Asia Tenggara dengan sebutan ISDF (Indische Social Democratische Vereniging), suatu perkumpulan orang-orang Indo. Tetapi segera organisasi ini mempropagandakan pemikiran yang bersifat sosialis, segera merubah dirinya menjadi perkumpulan Komunis setelah berhasilnya revolusi di Rusia 1917. Organisasi ini ingin memainkan peranan memimpin didalam pergerakan rakyat umumnya, dan berusaha untuk mempengaruhi organisasi-organisasi lain, terutama organisasi-organisasi massa untuk maksud ini.

Ketika mereka mulai melihat organisasi manakah yang paling tepat untuk menanamkan kader-kadernya (sistem sel) agar bisa segera berkembang dengan subur, maka pilihanpu jatuh pada Serikat Islam, suatu organisasi massa yang telah tumbuh dengan suburnya di segala lapisan masyarakat. Dalam waktu yang relatif singkat kader-kader komunis telah menguasai jabatan-jabatan yang sangat menentukan, seprti Semaun yang menjabat sebagai ketua dari Serikat Islam di Semarang.

Kegiatan-kegiatan ISDV didalam lingkungan Serikat Islam akhirnya benar-benar menggongcangkan partai. Pemimpin-pemimpin Serikat Islam yang anti komunis mulai bertanya apakah kegiatan-kegiatan itu tidak disokong oleh pihak Belanda sendiri, sebagai usaha untuk memecah pengikut partai yang memang tumbuh dengan pesat dan yang telah menyebabkan timbulnya ketakutan dikalangan banyak orang Belanda. Abdul Moeis menulis bahwa Sneevliet seakan-akan sengaja dikirim ke Indonesia untuk memecah gerakan Rakyat. Agus Salim melihat kegiatan-kegiatan ISDV juga sebagai suatu usaha untuk memindahkan pertikaian-pertikaian yang terdapat di Eropa ke Indonesia.

Dengan propaganda dan agitasinya yang sangat lihai akhirnya kader-kader komunis dapat mempengaruhi banyak anggota Serikat Islam, terutama yang bergerak dalam serikat-serikat sekerja yang dibina oleh Seriakt Islam dan diwadahi dalam sebuah federasi yang dinamakan “Persatuan Kaum Buruh Hindia Belanda” (PPKB). Akhirnya wajah SI terbelah menjadi dua, yaitu :

1)Kelompok SI pertama yang berorientasi reformis, dan tetap setia menjadikan Islam sebagai perjuangannya, yang kemudian dikenal sebagai SI Putih, dengan tokoh-tokohnya seperti Tjokroaminoto, Agus Salim, Abdil Moeis, Suryopranoto, Sosrokardono dan lain-lainnya.

2)Kelompok SI kedua yang dipengaruhi oelh ISDV, sebuah organisasi berhaluan sosialis yang didirikan oleh Sneevliet, yang selanjutnya dikenal dengan SI Merah. SI merah ini benar-benar sudah tercemar faham komunis, atau bahkan mereka masuk ke SI itu tidak lebih dari sekedar untuk dijadikan sebagai “Kuda Troya” guna memperjuangkan faham Komunis dikala kekuatannya dianggap belum solid. Diantara tokoh-tokohnya yang menonjol antara lain seperti Semaun, Darsono, Tan Malaka.

Pertentangan antara kedua kubu ini semakin hari semakin memuncak, hingga akhirnya pada akhir tahun 1921, lewat kongres Serikat Islam mengeluarkan “Disiplin Partai’’. Disiplin Partai ini menegaskan bahwa setiap anggota SI harus memilih dengan tegas, tetap menjadi anggota SI dan harus keluar dari keanggotaan organisasi lainnya, atau sebaknya. Dalam pilihan ini orang-orang Komunis memilih untuk keluar dari SI dan mendirikan sebuah organisasi yang dinamakan ‘Perserikatan Komunis Hindia’. Disamping itu kongres telah memutuskan untuk merubah tentang Keterangan Asas yang lebih menekankan identitasnya sebagai gerakan politik Islam dengan kalimat ‘Kemerdekaan Yang Berasas Islam... yang sesungguhnya melepaskan segala rakyat dari penghambaan macam apapun juga’.

Dalam kongresnya pada tahun 1923 SI mengubah namanya menjadi Partai Sarekat Islam, dan pada tahun 1929 nama partai di sempurnakan lagi menjadi ‘Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII)’.

Dalam perkembangan selanjutnya, pada tahun 1940 terjadi perpecahan lagi ditubuh PSII dengan keluarnya segolongan anggota dibawah pimpinan Soekarmadji Maridjan Kartosoewirja yang kemudian mendirikan perkumpulan sendiri tetapi tidak mau mengambil nama lain, sehingga ada dua PSII, yaitu PSII biasa dan PSII Kartosoewirjo.

2.PARTAI ISLAM MASJUMI

Partai Islam Masjumi berdiri pada tanggal 7 November 1945 sebagai hasil keputusan Muktamar Umat Islam Indonesia I yang berlangsung di Yogyakarta (Gedung Madrasah Muallimin Muhammadiah) pada tanggal 7-8 November 1945. Kongres ini dihadiri oleh hampir semua tokoh dari berbagai organisasi Islam di masa sebelum perang serta 3pada masa pendudukan Jepang, seperti Muhammadiah, Nahdatul-Ulama, Sarekat Islam, al-Wasliyah, Persis, al-Irsyad, serta totkoh-toktoh intelektual muslim yang pada zaman Belanda aktif dalam Jong Islamited Bond dan Islam Study Club dsb. Dalam kongres tersebut disepakati dan diputuskan untuk mendirikan Majlis Syura Pusat bagi umat Islam Indonesia.

Sesungguhnya Partai Masjumi ini merupakan kelanjutan dari kegiatan politik oraganisasi-organisasi Islam pada akhir zaman penjajahan Belanda yang dikenal dngan nama MIAI (Majlis Islam A’la Indonesia). MIAI adalah suatu wadah federasi dari semua organisasi Islam, baik yang bergerak dalam bidang politik praktis maupun yang bergerak dalam bidang sosial kemasyarakatan yang didirikan pada tanggal 21 September 1937 di Surabaya atas inisiatif KH. Mas Mansyur (Muhammadiyah), KH. Wahab Hasbullah (NU) dan Wondo Amisero (Sarekat Islam). Kemudian pada masa Pendudukan Jepang gabungan gerakan Islam yang juga bersyifat federasi semacam MIAI ini dinamakan Majlis Syura Muslimin Indonesia.

Partai Islam Masjumi yang berdiri di awal Kemerdekaan ini tidak lagi merupakan federasi dari sekian banyak organisasi Islam yang ikut mendirikannya, melainkan benar-benar merupakan Partai yang solid (menyatu), yang didalam keanggotaannya menganut dua sistem, diantaranya :

1)Sistem stelsel pasif, artinya setiap anggota organisasi pendukung partai otamatis menjadi anggota.

2)Sistem stelsel aktif, artinya bahwa seseorang yang ingin menjadi anggota partai harus aktif mendaftarkan dirinya dengan syarat-syarat tertentu yang ditetapkan oleh partai.

Dalam menjalani sejarah perjuangannya antara tahun 1945 sampai dengan tahun 1960 Partai Masjumi telah menampilkan tiga sosok ketua yang sangat dihormati dan disegani baik oleh kawan maupun oleh lawannya karena kearifan dan kenegaraannya. Pda periode pertama Masjumi dipimpin oleh dr. Soekiman Wirjosandjojo, perod kedua oleh Mohammad Natsyir dan periode ketiga oleh Prawoto Mangoesasmito.

Partai Masjumi yang mencanangkan tujuannya dengan rumusan “Terlaksananya syari’at Islam dalam kehidupan orang seorang, masyarakta dan negara republik Indonesia” dalam kiprah politiknya sepanjang masa hidupnya, baik dalam bentuk program maupun kebijakan-kebijakan partai menampakkan sikap yang tegar, istiqomah, konsisten terhadap prinsip-prinsip Islam yang bersumber pada al-Qur’an maupun al-Hadits. Politik yang dianut oleh Partai Masjumi adalah polotik yang menggunakan parameter Islam, artinya bahwa semua program atau kebijakan Partai harus terukur secara pasti dengan nilai-nilai Islam. Ungkapan bahwa politik itu kotor, menurut keyakinan Partai masjumi tidak mungkin terjadi di tengah-tengah arena politik bahwa memang politik itu kotor, kalau politik itu didasarkan pada ‘politik bebas nilai’, atau politik yang diajarkan oleh Nicollo Machivelli bahwa ‘tujuan menghalalkan semua cara’.

Pada tanggal 15 Desember 1955 Indonesia menyelenggarakan Pemilihan Umum dalam rangka melaksanakan amanat UUDS 1950 pasal 137. Pemilihan Umum yang digelar untuk pertama kalinya ini dilaksanakan untuk memilih anggota Konstituante dan anggota DPR pusat maupun daerah. Partai Masjumi termasuk salah satu dari peserta pemilu yang diikuti oleh lebih dari tiga puluh patai / prseorangan. Dan sebagai hasilnya Partai Masjumi keluar sebagai salah satu dari “empat besar”, masing-masing dengan perolehan kursi 57 untuk PNI, 57 untuk Masjumi, 45 untuk NU dan 39 untuk PKI. Namun bila dilihat dari tebaran pemilihnya Masjumi adalah merupakan satu-satunya partai yang memperoleh kursi di seluruh propinsi wilayah Indonesia, dan tidak demikial untuk lainnya.

Pada saat sidang dewan Konstitusi untuk menyusun UUD sebagai pengganti UUDS (Undang Undang Sementara th 50) pembahasan menjadi serius saat menyentuh masalah Dasar Negara.di sidang periode pertama Partai Masjumi, NU, PSII, Perti, dll, dapat mengumpulkan suara 230 kursi menggalang kakuatan berasama untuk memperjuangkan Islam sebagai dasar negara Republik Indonesia. Fraksi-fraksi non Islam mengantongi suara 286 kursi bersikeras untuk tetap memperjuangkan Pancasila sebagai dasar negara.

Untuk mencari titik temu antara golongan nasionalis sekuler dengan golongan nasionalis muslim, dari fraksi Islam diwakili oleh KH. Masykur (NU) mengajukan dua usulan yaitu :

1)Piagam Jakarta dijadikan Mukadimah UUD 1945.

2)Pasal 29 UUD hendaknya berbunyi “Negara Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa dengan menjalankan Syareat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”.

Pada tanggal 30 Mei, 1 - 2 Juni 1959 diadakan suara, hasil dari ketiga pemungutan suara tersebut adalah 269 setuju dan 199 menolak, 264 setuju dan 204 menolak, da terakhir 263 setuju dan 204 menolak. Dengan demikian kedua usulan di atas baik dari golongan Islam maupun non Islam sama-sama tidak diterima oleh Majlis, dengan alasan bahwa Konstituante telah gagal meaksanakan tugasnya Presiden Sukarno malakukan Dekrit untuk kembali Ke UUD 1945 dan sekaligus membubarkan Konstituante.

Dengan adanya Dekrit Presiden 5 Juli 1959 dimulai suatu babakan baru dalam ketatanegaraan Republik Indonesia. Dengan kembalinya negara Indonesia ke UUD 45 berarti Presiden disamping sebagai Kepala Negara juga berfungsi sebagai Kepala Pemerintahan. Berbekalkan dengan fungsi ini Presiden bermaksud segera membentuk Kabinet (Dewan Menteri) dengan mengikut sertakan empat partai besar pemenang Pemilu, yaitu PNI, Masjumi, NU dan PKI. Namun ketika maksud inidisampaikan kepada keempat Pimpinan Partai, Pimpinan Partai Masjumi mengajukan syarat bahwa Masjumi siap duduk dalam Kabinet asal PKI tidak di ikut sertakan, tetapi kalau harus bersama-sama duduk berdampingan dengan PKI, lebih baik Masjumi akan berdiri sebagai Partai Oposisi.

Bung Karno sejak tahun 1920an menemukan adanya tiga kekuatan ideologis yang riel hidup ditengah-tengah masyarakat Indonesia, yaitu : ideologi Nasionalisme, Islam dan Komunis. Menurut Bung Karno alangkah kuatnya bangsa Indonesia seandainya ketiga kekuatan tersebut dapat dipersatukan. Ia mencita-citakan persatuan antara Nasionalisme, Islam dan Komunis yang di singkat dengan istilah “NASIKOM”.

Dengan di tuntun oleh obsesinya yang telah sekian lama dimilikinya, Bung Karno ingin menerapkan ide Nasikom kedalam kabinet yang ia maksud. Maka dengan sikapnya Masjumi yang menolak duduk bersama dengan PKI tidak membuat gagalnya membentuk kabinet Nasikom. Maka terbentuklah kabinet yang unsur utamanya terdiri dari PNI, NU dan PKI, dan untuk mengokohkan dari unsur agama dimasukkan juga unsur dari PSII, Petri, Karkindo dan Partai Katolik. Karena memasukkan unsur-unsur agama lainnya maka kabinet yang dipimpin langsung oleh Bung Karno dinamakan Kabinet ‘NASAKOM’ (Nasionalisme, Agama dan Komunisme).

Dalam masa awal pelaksanaan Demokrasi Terpimpin mengakibatkan terjadinya berbagai pergolakan daerah, antara lain PRRI di Sumatra Barat dan Permesta yang muncul di Sulawesi Utara. Beberapa tokoh Masjumi dan PSI bergabung dalam pergolakan PRRI, seperti Muhammad Natsir, Burhanudin Harahap, Syafrudin Prawiranegara, Sumitro Djojohadikusumo dsb.

Bealasan adanya keterlibatan tokoh-tokoh Masjumi dan PSI, dipergunakan oleh PKI untuk memukul keduanya dengan cara membujuk kepada Bung Karno agar kedua partai ini di bubarkan. Maka keluarla Surat Keputusan (SK) Presiden nomor 200 tahun 1960yang di umumkan pada tanggal 17 agustus 1960, yang isi pokoknya, pemerintah membubarkan Partai Islam Masjumi, termasuk bagian-bagiannya, cabang-cabang dan ranting-rangtingnya di seluruh wilayah negara Republik Indonesia, dengan ketentuan bahwa dalam waktu tiga puluh hari, terhitung mulai tanggal berlakunya keputusan tersebut, Pimpinan Partai Masjumi diharuskan menyatakan partainya bubar dengan memberitahukankepada Presiden seketika itu juga.

Atas dasar Keputusan Presiden di atas, DPP Masjumi pada tanggal 13 September 1960 telah membubarkan Masjumi termasuk bagian-bagian / cabang-cabang / ranting-rantingnya diseluruh wilayah negara Republik Indonesia.

5.GERAKAN SOSIAL KEMASYARAKATAN ISLAM

Beberapa oraganisasi Islam yang bergerak dalam bidang pembinaan kehidupan masyarakat (infra struktur), lewat gerakan dakwah Islam amar ma’ruf nahi munkar yang dalam ajarannya secara konsisten berpegang pada tiga prinsip, yaitu :

1)Mengajak kepada umat untuk kembali pada ajaran al-Qur’an dan as-Sunnah secara murni.

2)Membuka pintu ijtihad selebar-lebarnya kepada siapapunyang telah berhak memeluknya.

3)Mengamalkan ajaran Islam secara konsisten, bersih dari berbagai gejala kemusyrikan, khurafat, bid’ah, dan taqlid.

Oraganisasi yang beridentitas seperti diatas antara lain adalah Gerakan Al-Islah wal Irsyad, Persatuan Islam dan Muhammadiyah.

a.Al-Irsyad

Gerakan Al-Islah wal Irsyad (Al-Irsyad) merupakan organisasi sempalan dari organisasi Al-Jamiat al-Khair. Organisasi ini didirikan sebagai organisasi Islam tanpa diskriminasi asal-usul, namun sebagian besar digerakkan oleh tokoh-tokoh Arab peranakan pada tanggal 17 Juli 1905 di Jakarta. Gerakan ini bergerak dalam bidang sosial pendidikan. Dan untuk lebih suksesnya usaha pendidikan yang mereka selenggarakan mereka juga memnggil seorang ahli pendidikan, yaitu Syaikh Ahmad Sookatti dari Sudan, Syeikh Muhammad Thaib dari Maroko dan Syaikh Muhammad Abduh Hamid dari Mekkah. Diantara ketiga tokoh ini Syaeikh Ahmad Sookatti adalah tokoh yang paling menonjol. Ia telah memainkan peranan yang sangat penting dalam menyebarkan pemikiran-pemikiran baru dalam lingkungan masyarakat Islam di Indonesia.

Kehadiran guru-guru dari luar negri semakin banyak, termasuk salah seorang di antara mereka adalah adik dari Ahmad Sookatti. Mereka semua manyatakan diri sebagai pengikut dari ajaran Muhammad Abduh. Diantara yang mereka sebar luaskan adalah memperjuangkan persamaan sesama muslim dan pemikiran kembali kepada Al-Qur’an dan al-Hadits.

Sikap dan pemikiran seperti ini ternyata mendapat reaksi yang sangat keras dari peranakan Arab berdarahkan ‘sayid’ yang selama ini menikmati penghormatan yang berlebih-lebihan dan merasa dirinya berkedudukan leih tinggi dari pada golongan lain dalam masyarakat Islam Jawa. Berasal dari perbedaan seperti inilah yang menyebabkan pecahnya Jamiat Khair.

Dikarenakan ada perbedaan pendapat dikalangan Jamiat Khair, khususnya tentang persoalan ‘kafaah’, yaitu boleh tidaknya golongan Arab keturunan Ali bin Abi Thalib (golongan Alawy) kawin dengan golongan lainnya. Menurut pendapat Ahmad Soorkatti perkawinan seperti ini adalah boleh, dan tetap dinyatakan ‘kufu’ itu seimbang. Pendapat Soorkatti seperti ini didasarkan pada surat al-Hujarat: 13, bahwa, ‘yang dinilai paling mulia disisi Allah adalah orang-orang yang paling taqwa’.

Al-Irsyad didirikan oleh syeikh Ahmad Soorkatti pada tahun 1914 dengan tujuan untuk memajukan pelajaran agama Islam secara murni, bersih dari berbagai macam kemusyrikan, khurafat dan bid’ah dikalangan bangsa Arab peranakan. Untuk hal itu mereka mendirikan berbagai madrasah atau perguruan al-Irsyad, terutama didaerah pesisir, dimana sebagian besar mereka tinggal, seperti di Surabaya, Pekalongan, Tegal dan Jakarta. Disamping itu mereka bergerak dalam bidang sosial dan da’wah Islam dengan mendasarkan pada ajaran al-Qur’an dan as-Sunnah secara murni.

b.Persatuan Islam (Persis)

Persatuan Islam (Persis) didirikan Oleh KH. Zamzam, seorang alim dari Palembang pada tanggal 17 September 1923 di kota Bandung. Persis bertujuan mengembalikan kaum muslimin kepada pimpinan al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Untuk mewujudkan cita-citanya tersebut Persis melakukan berbagai usaha, antara lain mendirikan berbagai madrasah, pesantren, kegiatan tabligh, menerbitkan majalah maupun buku-buku agama. Di antara majalah yang sangat populer di tengah-tengah masyarakat Islam di Indonesia, bahkan sampai juga di Malaisia adalah majalah ‘Pembela Islam’ dan majalah ‘Al-Muslimun’.

Gerakan persis sangat menonjol dalam hal pemberantasan segala macam bid’ah dan khurafat yang disampaikan secara keras dan lugas. Dan sikaf seperti ini bertambah semakin keras ketika Persis berada dibawah kepemimpinan ustadz A.Hasan, yang terkenal tajam pena dan lidahnya dalam menegakkan kemurnian agama. Salah satu catatan dari popularitas Persis dibawah pimpinan A.Hasan adalah surat-surat jawabannya atas berbagai pertanyaan dari Bung Karno ketika tokoh ini didalam tawanan di pulau Endeh. Surat-surat Bung Karno dan A.Hasan ini kemudian diabadikan dengan judul “surat-surat dari Endeh” dalam buku Bung Karno yang sangat terkenal “Di bawah Bendera Revolusi”.

Tokoh cendikiawan dan pimpinan Islam Indonesia yang juga di akui sebagai tokoh dunia Islam, yaitu Muhammad Natsir adalah hasil tempaan dari ulama-ulama Persis.

PENUTUP

KESIMPULAN

Agama Islam masuk ke Indonesia untuk pertamakalinya di sekitar abad XIII Masehi. Masyarakat Indonesia pra Islam telah memiliki kepercayaan seperti :Animisme, Dinamisme, Hindhu maupun Buddha yang diyakini dan telah menyatu dalam seluruh aspek hidupnya. Isalam datang ke Indonesia bukan dibawa oleh para mubaligh yang langsung datang dari jazirah Arab, melainkan dibawa oleh para pedagang dan mubaligh dari Gujarat-India. Kedamaian umat Islam di Indonesia dalam melaksanakan kehidupan keagamaan dan dakwahnya yang berlangsung selama kurang lebih tiga abad. Disekitar awal abad XVI datanglah bangsa-bangsa Eropa untuk menjajah secara silih berganti antara lain bangsa Sepanyol, Potugis, Inggris dan Belanda. Umat Islam di Indonesia dijajah selama beratus-ratus tahun lamanya. Baru pada sekitar tahun 1803 bangkitlah semangat Islam yang di ilhami oleh Gerakan Wahabi yang puritan.

Memasuki abad XX di Indonesia, perjuangan menegakkan agama Islam mulai bangkit dimulai dengan menggunakan organisasi sebagai alat perjuangannya. Umat Islam mulai menyadari bahwa cita-cita yang demikian besar lagi berat hanya akan dapat diperjuangkan lebih efektif dan efesien manakala menggunakan alat perjuangan yang namanya “organisasi”. Maka bermuncullah berbagai gerakan pembaharuan dalam Islam, baik yang bergerak dalam bidang politik kenegaraan, seperti Partai Serikat Islam, Partai Islam Indonesia (PII), Partai Islam Masyumi, Partai Muslimin Indonesia, maupun yang bergerak dalam bidang sosial kemasyarakatan seperti Al-Islah wal-Irsyad atau terkenal dengan nama Al-Irsyad, Persatuan Islam (Persis) dan Muhammadiyah.

DAFTAR PUSTAKA :

Kamal Pasha Musthafa. Muhammadiah Sebagai Gerakan Islam. 2009. Yogyakarta. Pustaka MM

Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x