Tamita Wibisono
Tamita Wibisono ibu rumah tangga multi talenta

Here I am with all of my Destiny...perjalanan hidup itu ibarat bianglala kehidupan,tidak selamanya berada di satu titik. pergerakan antara kehidupan di bawah dengan diatas itu sungguh dinamis adanya...dan tiap ruang yang tercipta menjadi inspirasi untuk dijabarkan dalam untaian kata menjadi sebuah karya

Selanjutnya

Tutup

Travel Pilihan

Petualangan Anti-Mainstream Menuju Purwokerto Kota Ngapak, Budget Ekonomis nan Fantastis

10 November 2018   18:31 Diperbarui: 11 November 2018   01:34 745 8 3
Petualangan Anti-Mainstream Menuju Purwokerto Kota Ngapak, Budget Ekonomis nan Fantastis
Dok.pri Stasiun Purwakarta dan gerbong-gerbong anti mainstream

Ada pepatah mengatakan banyak jalan menuju Roma. Demikian pula halnya untuk urusan liburan. Sebagai seorang pejalan, lebih tepatnya orang yang hobby dan kerap melakukan perjalanan, saya memaknai setiap perjalanan yang saya tempuh sebagai bentuk liburan  tersendiri.

Bukankah berlibur adalah hak setiap bangsa dan individu yang berdiam di dalamnya. Baik itu perjalanan dengan rombongan ataupun seoarang diri,  saya selalu menikmati tiap moment yang membuat saya terhindar sejenak dari rutinitas.

Adakalanya saya menempuh perjalan yang tidak lazim.  Layaknya sebuah liburan anti mainstream, saya pun kerap menjelajah tempat-tempat yang dalam kacamata umum adalah tempat biasa, namun menurut saya tempat itu punya sisi istimewa. 

 Jika biasanya liburan itu memiliki jadwal khusus, maka saya kerap merubah hari kerja untuk berlibur. Ini salah satu trik agar kita terkesan lebih private ketika  berada ditempat-tempatyang menjadi tujuan liburan. Maklum, biasanya akhir pekan merupakan agenda bersama orang berlibur secara kebanyakan. Seperti misalnya saat libur akhir tahun atau libur tahun baru.

Akhir pekan lalu misalnya. Sesaat setelah merampungkan aktifitas bersama  vlogger Kompasiana di Ibukota, saya memilih untuk singgah terlebih dahulu di Purwokerto , salah satu kota di kawasan Republik Ngapak.

Saya kerap memutuskan untuk pergi ke suatu tempat begitu saja. Biasanya sih tak jauh dari tujuan utama sekedar berwisata kuliner. Seperti yang kerap dilakukan orang Jakarta yang pergi ke Bandung sekedar untuk makan siang atau makan malam. Anti mainstream bukan?. 

Perjalanan Fantastis dengan Budget Ekonomis :

Banyak  alternatif transportasi untuk menuju Purwokerto, baik itu Bus Antar Kota Antar Propinsi ataupun kereta api baik eksekutif, bisnis atau Ekonomi. Untuk sementara jika ingin naik pesawat maka rute penerbangan ke Jogja bisa menjadi alternatif pilihan. Maklum , Bandara jenderal Soedirman di Purbalingga saat ini masih dalam proses pembangunan. kemudian Yogya -Purwokerto bisa ditempuh dengan bus, kereta atau kendaraan jasa travel dengan waktu tempuh sekitar 4 jam perjalanan.

Waktu yang fleksibel menjadi awal dari cerita perjalanan saya menuju Purwokerto, kota di bawah kaki gunung Slamet yang menjadi tempat wisata lokal di Jawa Tengah Bagian Selatan. Setelah menunda kepulangan beberapa kali,  tiba saat berburu tiket kereta ekonomi subsidi untuk singgak liburan sejenak dengan perjalanan yang menantang. . 

Ada prinsip yang selama ini saya pegang, jika bisa menikmati liburan fantastis dengan budget ekonomis  kenapa tidak?. Karena prinsip hemat itu pula, HP saya tersupport dengan aplikasi Pegipegi. Alhasil pemenuhan kebutuhan liburan dari mulai transportsi dan akomodari pun cukup dengan menggerakkan jari jemari.  

Dok.pri
Dok.pri
Liburan anti mainstream diawali dengan perjalanan yang tidak biasa. Kereta subsidi dengan rute tempuh panjang dan harga termurah menjadi pilihan tersendiri.  Hanya dengan Rp 67.000 perjalanan menggunakan kereta Serayu dengan tujuan akhir Purwokerto akan lebih fantantis. Kenapa? Karena kereta ini akan membawa penumpangnya melewati  jalur Jakarta- Bandung-Tasikmalaya-Ciamis- Bantar- Kroya- Purwokerto. Sebuah petualangan baru dalam perjalanan yang menghadirkan pemandangan alam nan indah. 

Kereta serayu memiliki 2 kali jadwal keberangkatan , yakni jam 09.15 pagi dan 21.00 malam. Perjalanan pagi sangat recomended jika ingin menikmati suguhan pemandangan yang membuat refresh mata, fikiran dan perasaan. Pilih kursi yang dekat dengan kaca jendela agar mata lebih leluasa. Atau bisa juga memilih gerbong paling belakang, agar bisa melihat pemandangan dari kaca jendela kereta yang membelakangi laju kereta.

Pose berlatar tumpukan gerbong tak terpakai di stasiun Karawang
Pose berlatar tumpukan gerbong tak terpakai di stasiun Karawang
Kejutan pertama sudah terasa ketika kereta memasuki stasiun Purwakarta.Tumpukan gerbong-gerbong kereta api yang sudah tidak terpakai di sudut stasiun  sayang untuk dilewatkan begitu saja. Saya pun menyempatkan diri untuk turun gerbong dan berfoto.

Tak sedikit penumpang yang melakukan hal yang sama. Awas jangan sampai ketinggalan kereta ya. Lekas naik kembali ke kereta manakala pihak stasiun mengumumkan bahwa kereta akan kembali diberangkatkan. 

Memantaatkan waktu 5-7 menit di stasiun Purwakarta untuk mengabadikan pemandangan tumpukan gerbong, bisa dilakukan oleh pejalan yang menyukai tantangan untuk memacu adrenalin. Turun naik gerbong dengan limit waktu sedikit, resiko tertinggal kereta tentu menjadi pengalaman pahit jika hal itu sampai terjadi.

Dok.pri
Dok.pri
Dok.pri
Dok.pri
Perjalanan pun berlanjut menuju arah Bandung yang penuh dengan sajian pemandangan yang menakjubkan. Penumpangpun tak melewatkan  untuk mengabadikan pemandaan saat melewati beberapa jembatan yang menjadi lintasan kereta. Dari Jembatan Cisomang hingga jembataan Sasaksaat. Konon jembatan ini menjadi jembatan lintasan kereta api terpanjang degan ketinggian yang lumayan ekstrim di Pulau Jawa. 


Sesaat setelah jembatan SasakSaat, penumpang kereta akan masuk ke terowongan Sasaksaat selama kurang lebih 8 menit. Lorong gelap menghadirkan nuansa yang berbeda ditengah deru laju kereta.Saya pun menyempatkan diri merekam menit-menit kereta sebelum, pada saat dan setalah memasuki terowongan Sasaksaat, dan mengunggah di Instagram.

Dok.pri eksotika warga Cipeundeuy
Dok.pri eksotika warga Cipeundeuy
Setelah melewati Stasiun Kiara Condong (Bandung), kejutan dalam perjalanan masih terus berlanjut. Saat memasuki stasiun Cipeundey misalnya, penumpang berebut turun tanpa membawa barang bawaan. Rasa penasaran membuat saya melongok keluar.

Ternyata banyak pedagang di luar pagar stasiun yang menawarkan aneka makanan dan minuman ala kaki lima. Pecel anti maentream menjadi salah satu menu yang sempat saya coba. Seperti pecel dibandrol dengan harga 10 ribu saja.

Pecel Cipeundeuy bercita rasa anti mainstream, kolaborasi pecel dan karedok (dok.pri)
Pecel Cipeundeuy bercita rasa anti mainstream, kolaborasi pecel dan karedok (dok.pri)
Rasanya??? benar-benar pecel anti maenstream. Perpaduan antara pecel Madiun dan Karedok. Bumbunya terasa lebih ringan dan encer dari pecel dari daerah asalnya. Tidak terlalu manis, sehingga rasa asinnya terasa pas.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2