Mohon tunggu...
Tamita Wibisono
Tamita Wibisono Mohon Tunggu... Creativepreuner

Here I am with all of my Destiny...perjalanan hidup itu ibarat bianglala kehidupan,tidak selamanya berada di satu titik. pergerakan antara kehidupan di bawah dengan diatas itu sungguh dinamis adanya...dan tiap ruang yang tercipta menjadi inspirasi untuk dijabarkan dalam untaian kata menjadi sebuah karya

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Kualat pada Pengging dan Peradaban Leluhur Pemilik Tampang Boyolali

7 November 2018   02:53 Diperbarui: 7 November 2018   14:02 1078 6 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kualat pada Pengging dan Peradaban Leluhur Pemilik Tampang Boyolali
sumber suara.com

Dimana bumi di pijak disitu langit dijunjung. Pepatah ini menjadi azimat bagi para tamu yang tengah memasuki wilayah yang bukan merupakan daerahnya sendiri. Tak dinyana, sosok tamu itu lena dalam angan kuasa yang seolah sudah di depan mata. Praksis sosial pun dia wacanakan konon sebagai bahan candaan. Kenapa harus hotel-hotel  berbintang itu yang disebut sebagai tempat yang tidak mampu untuk dimasuki apalagi ditinggali dalam hitungan hari?

Lidah memang tak bertulang. Sosok yang dipertuan-agungkan itu mungkin lupa. Dirinya tengah menjadi tamu bagi sebagian warga Boyolali kala itu. kehadirannya di Boyolali pun terkait dengan ikhtiar untuk mengambil hati masyarakat agar mendapat dukungan suara. Malang tak dapat di tolak, mujur tak bisa diraih. Frasa kata Tampang Boyolali itu memicu rusaknya susu sebelanga. Titik nila meluncur begitu saja dari ujaran-ujaran yang pada mulanya mengundang tawa.

Andai rangkaian kalimat itu disampaikan oleh Cak Lontong atau para pegiat stand Up Comedy, pastinya warga Boyolali tidak akan bergeming dari posisinya masing-masing semabri tetap terkekeh atau setidaknya senyum-senyum simpul. Kini dalam kesadaran penuh sebagai masyarakat yang bermartabat, atas nama warga Boyolali pun  tersentak merespon Ujaran dalam pidato Prabowo Subianto kala meresmikan rumah pemenangan di Boyolali. Sangat disayangkan, Materi humor yang cukup berbobot, disampaikan melalui cara, gaya dan kondisi yang tidak tepat.

Jauh-jauh ke Boyolali hanya sekedar mencari hotel berbintang lima bahkan lebih? Ah yang benar saja. Sebab di Boyolali memang belum ada hotel sekelas yang disebutkan dalam pidato Prabowo. Kabupaten yang  terdiri dari  19 kecamatan  dengan  keluarahan  dan  260 desa ini masih teramat asri untuk hiruk pikuk masyarakatnya yang keluar masuk hotel. Namun bukan berarti warga Boyolali terisolasi dan tidak mampu melakukan mobilitas ke Ibukota bahkan ke luar negeri sana.

Yakin saya penuh, ketika ada warga Boyolali pergi ke Ibukota, tempat utama yang dijujug bukanlah hotel-hotel yang dari namanya susah untuk diucap seperti kata Prabowo. Sebagai entitas masyarakat yang masih kuat nilai persaudaraannya,menginap di rumah sanak family yang ada di Jakarta adalah bentuk kebahagiaan tersendiri.

Harusnya Pak Prabowo jeli dengan beberapa kultur dan value masyarakat Indonesia , khusunya Jawa. Atau Pak Prabowo lupa akibat terlalu lelah bekerja untuk mensukseskan diri sendiri bersama pasangan melaju di pilpres 2019 nanti?. Agaknya pak Prabowo harus belajar live in. Saat berkunjung ke sebuah daerah, cobalah untuk tinggal di rumah warga. Mampukah?

Pengging dan Lahirnya Raja-Raja Jawa

sumber ; Mataram351.wordpress.com
sumber ; Mataram351.wordpress.com

Ada apa dengan tampang Boyolali?. Kabupaten penghasil susu sapi ini memang tidaklah seterkenal Daerah Istimewa Jogjakarta atau Surakarta Hadiningrat alias Solo. Letaknya berada diantara pusat peradaban budaya Jawa.   Boyolali tertasbih sebagai wilayah yang menjadi salah satu noktah dalam benang merah peradaban Mataram yang telah banyak melahirkan silsilah raja-raja Jawa. Disinilah  perlunya sosok pemimpin negeri yang berwawasan luas. Tak sekedar mampu keluar masuk hotel mewah lagi berbintang, melainkan pula mampu menyelami peradaban sejarah negeri yang banyak mewariskan nilai luhur dan kearifan lokal hampir di tiap daerah. 

Pengging, sepenggal kisah pada sebuah tlatah di secuil wilayah yang kini dikenal sebagai Boyolali. Pengging menjadi latar dalam roman terkenal karya SH Mintarja yang diberinya Judul Nagasasra dan Sabuk Inten. Bagi para pemerhati sejarah nama pengging tercatat sebagai tokoh dalam babad Tanah Jawa.Sungguh ini bukan sekedar mitos atau pun legenda. Beberapa bukti sejarah terkait pengging dapat dilihat dari beberapa artefak dan makam kuno di yang tersebar di kecamatan Banyudono. Pengging memang tidak mewujud dalam pusat tata kelola kekuasaan layaknya sebuah kerajaan  utuh pada zamannya. Pengging menjadi sebuah kisah peralihan fase kejayaan Majapahit dengan kemunculan Demak sebagai babak baru kekuasaan tanah Jawa. Pengging pula menjadi permulaan akulturasi Hindu-Islam. 

Dalam perkembanganya nama pengging kemudian menjelma menjadi sosok raja muda Ki Ageng pengging  yang bergelar Andayaningrat/Jayaningrat. Kelak dikemudian hari Pengging I ini dikenal menjadi pengging Sepuh yang masih keturunan dari raja Majapahit. Bahkan Pengging I ini akhirnya memeluk Islam setelah bertemu dengan tokoh kontroversial , Syeh siti Jenar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x