Mohon tunggu...
Bawah Paras Laut ۞
Bawah Paras Laut ۞ Mohon Tunggu...

~Diaspora Tanah Kumpeni, 40+, domisili di suburb Amsterdam. Paspor merah, hati tetap ijo. Mencoba menulis isu sehari-hari untuk dokumentasi pribadi. Sukur-sukur berguna bagi sesama.~\r\n\r\n“If you don’t like something, change it, if you can’t change it, change your attitude” -Maya Angelou-

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Thé Tjong-King, Kartunis Kondang Belanda Asal Purworejo

29 Oktober 2012   10:56 Diperbarui: 24 Juni 2015   22:15 1075 5 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Thé Tjong-King, Kartunis Kondang Belanda Asal Purworejo
13515076091116326313

Seandainya ia menuruti kemauan ayahnya, Thé Tjong-King tak akan pernah jadi ilustrator terkemuka di Belanda. Usianya belum genap 23 tahun, ketika Thé pada 1956 bertolak dari Bandung menuju Belanda. Mulai 19 Oktober 2012 hingga 1 Mei 2013, Museum Anton Pieck yang berlokasi di kota Hattem, Belanda timur, memamerkan kepiawaian pena Thé secara keseluruhan.

[caption id="attachment_220602" align="aligncenter" width="600" caption="Foto: Robin Schouten"][/caption]

Thé—dialek marga Cina Zheng, Cheang atau Chen—dulu lebih dikenal di Belanda sebagai ‘pemenang langganan’ acara kuis di sebuah stasiun televisi. 2011 silam, namanya kembali mencuat dan kerap dilafalkan orang. Thé dipercaya untuk membuat ilustrasi buku anak-anak yang bakal diberikan cuma-cuma pada acara tahunan Pekan Buku Belanda.

2010 lalu, komikus kelahiran 4 Agustus 1933 di Purworejo ini mengantungi Penghargaan Max Velthuys, sebuah hadiah bergengsi bagi kartunis di Belanda. Sebelumnya, Thé pernah tiga kali menerima Pensil Emas, penghargaan prestisius untuk ilustrator di Negeri Kincir Angin. Museum Kesusastraan di kota Den Haag, September 2011 juga membuat eksposisi menyeluruh kreasi Thé.

Jalan hidup Thé mirip karikatur besutan tangannya sendiri. Hampir sepanjang tahun 1969, ia menjadi peserta favorit pada acara populer kuis film di televisi Belanda. Thé muda sigap menjawab rentetan pertanyaan pembawa acara tersebut. Gerard Cox dan Frans Halsema, dua comedian,malah terinspirasi dan membuat parodi lakon Thé.

Akibatnya, Thé pun ikutan populer. “Orang mulai memperhatikan saya di jalan-jalan. Apalagi, stasiun televisi Belanda waktu itu hanya punya dua saluran,” ungkap Thé di biografinya yang terbit Oktober 2011. Sebulan penuh ia naik kapal laut menuju Belanda. Setiba di Napoli, Italia, ia lega dapat menginjakkan kaki di daratan. Ia nyaris tak bisa memejamkan mata 30 hari karena mabuk laut.

Di Amsterdam, ia bergabung dengan studio milik Marten Toonder, seorang pengarang komik ternama. Mulanya, sekretariat studio tersebut menolak Thé. Namun, ia bersikeras sanggup tak dibayar dan hanya perlu kursi serta meja gambar untuk latihan. Kegigihan Thé tak sia-sia. Marten Toonder sendiri lambat-laun mengakui bakat terpendam Thé.

“Ayah saya mencap profesi kartunis tak berguna dan sulit menunjang hidup. Padahal, saya pandai menggambar. Ayah saya pengusaha bioskop misbar di Cirebon. Ia amat realistis, kebalikannya saya adalah pemimpi. Untung, Toonder menghargai coretan saya di Belanda. Kalau tidak, mungkin saya sudah terpuruk di selokan,” seperti dikutip biografi Thé.

Terakhir pulang kampung, Thé hanya singgah empat hari di perayaan perkawinan emas orang tuanya. Ayah Thé pernah berkunjung ke Belanda dan berbincang dengan Marten Toonder. “Oh, kamu senang menggambar!” komentar ayah Thé. Thé sendiri tak ambil pusing dengan pernyataan ayahnya—entah bernada bangga atau justru menyindir.

[caption id="attachment_220603" align="aligncenter" width="600" caption="Ilustrasi: Koninklijke Bibliotheek"]

1351507646253543129
1351507646253543129
[/caption]

Thé disebut ilustrator serba bisa di Belanda. Karya-karya Thé dianggap penuh pergolakan batin. Namun, belakangan Thé lebih identik dengan ‘spesialis dongeng’. Gambar-gambar Thé kebanyakan gelap dan mencekam. “Saya suka bayangan. Itu penopang saya,” jelas Thé di sebuah wawancara televisi. Kelam dan intrik—dua kata ini cocok menjabarkan ilustrasi Thé.

Kendati demikian, tak pernah ada ‘pertumpahan darah’ di komik Thé. Srigala tercabik misalnya, disuguhkan dengan awan pekat menggantung di langit. Lantas, darimana pengetahuan Thé seputar layar lebar berasal? Sewaktu remaja, ia rajin pergi ke bioskop, terutama menyaksikan film-film produksi Hollywood. Ia heran, bioskop di Belanda malah sepi dan penonton tak berisik.

“Di Indonesia dulu, penonton turut bersorak jika ada adegan bercumbu atau riuh-rendah bertepuk-tangan menyemangati tokoh heroik,” kenang Thé. Di bioskop kelilingmilik ayahnya ia jarang hadir. Ayah Thé lebih sering memutar film kungfu atau silat. Thé terkesan dengan adegan laga aktris Marlène Dietrich di Destry Rides Again buatan 1939.

Sampai di rumah, ia mulai corat-coret membuat sketsa cuplikan aksi bintang tenar Jerman itu. Thé kagum dengan wanita-wanita aktif. Ia sendiri besar di keluarga Tionghoa dan ibunya lebih berperan ‘di belakang layar’. Thé sempat kuliah pada 1952 di Akademi Seni Rupa, Bandung (sekarang salah satu jurusan di ITB). Sebetulnya, goresan pena Thé tak gamblang berciri khas Indonesia. Tapi, di ilustrasi mitologi Yunaninya, pengaruh itu tetap terlihat.

[caption id="attachment_220604" align="aligncenter" width="600" caption="Ilustrasi: Koninklijke Bibliotheek"]

13515076861592516666
13515076861592516666
[/caption]

Keturunan Cina pernah dianggap warga kelas dua di Indonesia. Suasana terancam, tegang, dan kerusuhan tampak jelas pada beberapa gambar mitologi Thé—mengingatkan pembaca akan periode Bersiap pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia. Thé sendiri pernah dilindungi bibinya sewaktu ayahnya dipukuli tentara Jepang. “Ah, itu risiko zaman perang,” ujarnya ringan.

Terus berkarya, Oom Thé. Tetap rendah hati…

***

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x