Mohon tunggu...
Tabrani Yunis
Tabrani Yunis Mohon Tunggu... Tabrani Yunis adalah Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh, juga sebagai Chief editor majalah POTRET, majalah Anak Cerdas. Gemar menulis dan memfasilitasi berbagai training bagi kaum perempuan.

Tabrani Yunis adalah Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh, juga sebagai Chief editor majalah POTRET, majalah Anak Cerdas. Gemar menulis dan memfasilitasi berbagai training bagi kaum perempuan.

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Ketika Aku Tidak Menulis

11 Oktober 2019   06:32 Diperbarui: 11 Oktober 2019   06:51 0 6 2 Mohon Tunggu...
Ketika Aku Tidak Menulis
dok.pribadi

Oleh Tabrani Yunis

Waktu sudah menunjukan pukul 00.00 di malam Jumat. Aku baru saja meneguk segelas kopi Arabika Gayo, di warung langgananku, Gerobak yang sedinding dengan Warung Kopi Cut Nun dan De Ramoe  dekat dengan POTRET Gallery, tempat aku melakukan aktivitas entrepreneurship. 

Entah karena baru saka minum kopi, sehingga mata belum merasa mengantuk, entah memang karena sudah terbiasa tidur telat, sejumlah ide untuk tulisan bergayut di dalam pikiran. Ingin rasanya mencatat ide itu agar tidak hilang, apa lagi sudah lebih sebulan ini aku boleh dikatakan sangat jarang menulis

Tidak seperti biasanya setiap hari bisa ada satu atau dua tulisan yang ditulis. Bisa tulisan lepas, opini, bahkan juga menggubah sebuah puisi yang aku posting di Kompasiana atau juga di potretonline, majalahanakcerdas, atau bahkan di watyutink.  Pokoknya, selama sebulan ini aku memang hampir tidak menulis. Penyebabnya adalah karena lumayan sibuk mengurus usahaku di POTRET Gallery dan melakukan aktivitas lain yang menguras waktu dan tenaga.

Lalu, ketika sekian lama tidak menulis, apa yang aku rasakan?  Bagi orang yang tidak biasa atau tidak terbiasa menulis dan belum menjadi kebutuhan, tentu saja akan tidak ada rasa apa pun, bila tidak menulis.  Akan tetapi bagiku yang sudah melatih diri untuk menjadikan menulis sebagai sebuah tradisi, bila tidak menulis, badan akan terasa tidak enak. 

Ide-ide yang didapatkan dari bacaan, dari hasil amatan di sekitar lingkungan sendiri atau lingkungan global mendorong semangat untuk menulis. Apalagi, selama ini rasa cemburu positif sering menyelimuti pikiran ketika melihat ada teman-teman yang sangat produktif menulis, menjadi pemantik dan pendorong untuk menulis. Ya, perasan yang tidak menentu pun memaksa agar menulis. Barangkali itulah dampaknya dari kegiatan menulis yang mentradisi itu.

Pokoknya tak dapat dipungkiri bahwa ketika aku tidak menulis, selalu muncul rasa yang tidak enak. Ibarat perut yang biasanya diisi dengan makanan, maka ketika suatu saat tidak diisi dengan makanan atau gizi, dipastikan perut terasa lapar, atau mulut terasa haus dan ingin makan serta minum. Mengapa demikian? Pasti jawaban sederhana adalah karena sudah menjadi kebiasaan, sudah menjadi kebutuhan. 

Karena itu adalah kebutuhan yang dibiasakan, sudah pasti kita akan membutuhkan makanan. Membutuhkan makanan agar tidak lapar, membutuhkan minum agar tidak haus, bahkan lebih dari itu, untuk kebutuhan tubuh. 

Begitu pula halnya dengan aktivitas menulis. Ketika aktivitas menulis sudah menjadi kebiasaan (habit) tradisi, maka menulis akan menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi.

Ketika aku tidak menulis, ada konsekswensinya. Aku tidak bisa mengeksplorasi pikiranku, tidak bisa berbagi cerita lewat tulisan-tulisan yang aku tulis  seperti sebelumnya. Ketika tidak ada yang aku uraikan tetang sesuatu, masalah yang penting diurai dan diketahui oleh banyak orang, maka sesungguhnya, aku tidak mendapatkan nilai kebaikan. Tidak mendapatkan sesuatu yang bermanfaat atau berguna.

jadi, malam ini. Tulisan singkat ini merupakan lonceng masuk, yang berbunyi, memanggilku untuk menulis. Namun, karena malam semakin larut. Tulisan ini pun tidak bisa ditulis panjang dan mendetail, karena mata sudah mulai mengajak badan ini untuk beristirahat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x