Tabrani Yunis
Tabrani Yunis Guru

Tabrani Yunis adalah Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh, juga sebagai Chief editor majalah POTRET, menerbitkan majalah Anak Cerdas. Gemar menulis dan memfasilitasi berbagai training bagi kaum perempuan.

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Artikel Utama

Dataran Tinggi Gayo, Sumber Kehidupan yang Terus Tergerus

10 Juli 2018   00:25 Diperbarui: 10 Juli 2018   11:38 1811 8 2
Dataran Tinggi Gayo, Sumber Kehidupan yang Terus Tergerus
Dokumentasi pribadi

Oleh Tabrani Yunis

Hari Sabtu 30 Juni 2018 lalu, aku berangkat menuju tanah tinggi Gayo bersama dua rekan dari Walhi Aceh, M.Nur yang saat ini menjabat sebagai direktur eksekutif Walhi Aceh dan Khairil yang menangani bidang advokasi. Aku sendiri ikut menumpang mobil Walhi itu. 

Kami ke Daratan Tinggi Gayo, bukan untuk misi melakukan investigasi, bukan pula mengemban tugas advokasi, bergerak ke negeri kopi itu untuk melayat ke rumah sahabat kami, Jufriadi.

Bung Jufriadi, direktur Puspa Aceh Tengah itu meninggal pada hari Jumat, 29 Juni 2018, setelah dirawat di rumah sakit Datu Beru, Takengon, Aceh. Ya, dengan demikian, kami menjalankan perjalanan sosial dan solidaritas kepada almarhum. 

Selain itu, hubungan kami bukan hanya karena memiliki mimpi dan aktivitas sebagai orang LSM, tetapi juga seprofesi, karena beliau selain sebagai Direktur Puspa,  juga sebagai guru dengan tugas terakhir sebagai pengawas sekolah di Bener Meriah. Semakin kuat hububgan itu, kami sama-sama sebagai salah satu anggota Dewan daerah (DD) Walhi Aceh. 

Jadi, kehadiran kami ke rumah duka merupakan wujud kedekatan dana kekerabatan sosial kami yang sudah terbangun sekian lama. Ya, lama berkecimpung di dunia LSM atau lembaga Swadaya Masyarakat di Aceh sejak tahun 1990. Sebagai sahabat, senior dan aktivis lingkungan dan pegiat di LSM di Aceh kami layak ikut berduka dan melayat hingga ke rumah duka.

Alhamdulilah, setelah menempuh perjalanan lebih kurang 8 jam dari kota Banda Aceh, kami tiba pada pukul 00.30 pagi. Karena masih tengah malam, suasana yang sangat dingin, kami memilih menyeruput sajian kopi Gayo di sebuah warung di pinggir jalan di Simpang Balek, Bener Meriah itu. Lalu, menuju ke rumah seorang sahabat, Sabran yang tinggal tidak jauh dari rumah almarhum Jufriadi.

Udara di bukit Gayo terasa sangat dingin dan menusuk-nusuk pori-pori kulit dan membuat kami tidak sanggub berada di luar rumah. Untung saja, kami masing-masing membawa jaket yang bisa menghangatkan tubuh. Dingin malam pun, kami akhiri dengan merebahkan tubuh di peraduan yang sudah disediakan bung Sabran dengan selimut tebal, hingga bisa menikmati tidur sampai saatnya melaksanakan salat subuh. 

Karena daerah dataran tinggi Gayo, berada di daerah dingin, maka jangan kaget ketika bersentuhan dengan air. Air di dalam bak, terasa bagaikan es, yang ketika disiram di bagian tubuh, terasa seperti terkena es. Sangat dingin.

Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi
Ketika matahari pagi mulai memancarkan sinarnya, menjadi waktu yang pas untuk menikmati hangatnya semburan sinar matahari pagi tersebut. Pagi itu menjadi saat yang tepat pula untuk menikmati kesegaran udara Tanah tinggi Gayo. 

Udara yang dingin alias sejuk dan bersih. Sementara keindahan alam yang berbukit dan hijaunya kebun kopi yang terbentang luas, menjadi kekaguman tersendiri akan kekayaan negeri seribu bukit ini. Selayaknya kami bersyukur bisa datang ke negeri kopi ini.

Dinginnya udara pagi itu, membuat perut ingin diisi. Namun, tuan rumah sudah lebih dahulu menyuguhkan sajian kopi Gayo dengan cemilan peyek kacang. Menyeruput kopi Gayo di negeri kopi yang diracik dengan pengalaman itu, membuat rasa kopi semakin nikmat.

Hanya saja, karena sudah menjadi budaya masyarakat Indonesia yang kalaupun sudah menyeruput segelas kopi dan beberapa potong peyek, kalau belum kena nasi, terasa belum lengkap rasanya. Oleh sebab itu, hal yang harus dilakukan adalah membeli nasi untuk sarapan pagi. Kami tidak ingin menambah repot tuan rumah. Maka, jalan terbaik, diam-diam membeli nasi gurih. 

Usai mengurusi urusan kampong tengah, seharusnya kami mandi, namun karena dinginnya udara Tanah Gayo, kami enggan mandi. Rencananya mandi setelah takziah. Namun hingga usai takziah, kami tidak mandi. 

Masalahnya bukan karena dingin, tetapi tidak ada air untuk mandi. Parahnya, ingin buang air kecil pun terpaksa tahan dulu, sampai mendapatkan air. Ternyata, masyarakat di desa ini sedang kesulitan air. Kami memahami kondisi tersebut, denga berprasangka baik saja, mungkin karena aliran air PDAM sedang macet.

Ternyata memang benar. Sementara sumber air dari sumur tidak ada. Melihat kondisi semacam ini, kami pun berusaha mencari tahu, mengapa mereka kesulitan air. Mengapa mereka selama ini cenderung menampung air hujan. Padahal, di daratan Tinggi Gayo ada sumber kehidupan yang sangat kaya.

Tidak pelak lagi, bahwa dataran tinggi Gayo ini kaya dengan sumber daya hutan, karena di dataran tinggi Gayo terdiri dari daerah perbukitan yang berada dalam bentangan bukit barisan, yang memiliki hutan-hutan lebat dan juga sebagian wilayahnya masuk dalam kawasan ekologi Leuser yang menjadi paru-paru dunia itu. 

Bukan hanya memiliki kekayaan sumber daya hutan, tetapi juga merupakan daerah pertanian yang memasok kebutuhan sayuran, kentang, tomat, kubis, cabe, alpukat dan bahkan kopi Arabika Gayo yang mendunia itu dan kini lagi tren di Aceh. 

Sebagai daerah yang berada di daerah bukit barisan dan dataran tinggi, Bener Meriah dan Takengon juga kaya akan sumber daya air. Dikatakan kaya dengan sumber daya air, karena pegunungan dan hutan yang berada di sekeliling kabupaten di dataran tinggi Gayo ini menyimpan air yang mengalir hingga ke hilir atau ke laut di kabupaten yang berada di lembahnya. Di daerah ini terdapat sebuah danau yang dikenal dengan sebutan "danau laut tawar".

Danau yang luasnya kira-kira 5.472 hektar, dengan panjang lebih kurang 17 km dan lebarnya 3,219 kilometer. Danau ini memiliki volume air kira-kira 2.537.483.884 m3 (2.5 triliun liter). 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2