Tabrani Yunis
Tabrani Yunis Guru

Tabrani Yunis adalah Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh, juga sebagai Chief editor majalah POTRET, menerbitkan majalah Anak Cerdas. Gemar menulis dan memfasilitasi berbagai training bagi kaum perempuan.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Sudah Selayaknya Kita Membangun Gerakan Hibah Bacaan

10 Januari 2018   15:20 Diperbarui: 11 Januari 2018   11:12 2029 8 5
Sudah Selayaknya Kita Membangun Gerakan Hibah Bacaan
Salah satu basana yang bisa dihibahkan ke sekolah-sekolah. Dokumentasi pribadi.

Ketika pada tahun 2003, saat memulai membuka Taman Bacaan Rakyat "Iqra" di Manggeng, Aceh Barat Daya, saya rajin mengumpulkan buku-buku dan majalah-majalah maupun berbagai jenis bacaan lainnya. Semua buku, majalah dan bacaan lainnya itu dimaksudkan untuk menambah jumlah koleksi bacaan di TBR- Iqra saat itu. Niat dan semangat membuka taman bacaan itu adalah untuk membangun gerakan gemar membaca di kampong halaman yang sudah saya tinggalkan sejak tahun 1979 itu. 

Dengan harapan saya bersama teman, termasuk saudara,sekampung, Pak Jasman yang kemudian menjadi Camat dan kepala Dinas di Abdya itu, menyewa sebuah ruko yang terbangun dari kayu itu untuk Taman Bacaan Iqra. Alhamdulilah, ribuan buku dan majalah bisa terkumpul dan menjadi bacaan bagi masyarakat di Manggeng saat itu. Semua bacaan itu adalah bacaan yang diperoleh dari sumbangan banyak orang.

Seirama dengan upaya itu, kala itu di Jakarta ada teman-teman yang bergerak di gerakan yang dilakukan Yayasan 1001 buku yang memgumpulkan sumbangan buku dan bacaan di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Saya saat itu juga mendapat sumbangan dari yayasan 1001 buku untuk menambah jumlah bacaan. 

Bahkan pada bulan Desember 2004 beberapa hari sebelum bencana tsunami, saya bertemu Mas Riswan Lapagu yang aktif di jaringan Pendidikan saat itu. Ia menyumbangkan sejumlah buku dan bacaan kepada saya dan saya bawa pulan sekitar 2 kardus ke Banda Aceh. 

Namun sayang, ketika hari Minggu 26 Desember 2004, ketika kedua kardus itu sudah dimasukkan ke dalam mobil, bencana tsunami melanda, saya selamat tetapi buku-buku tersebut basah dan tidak dapat digunakan lagi. Saya pun harus mengurus diri sendiri dahulu kala itu. Apalagi saya saat itu kehilangan semua, termasuk anak dan isteri. Tentu harus membereskan diri dahulu.

Namun, pascatsunami, ketika niat untuk bangkit dari kehancuran muncul lagi, saya mengaktifkan lagi kegiatan kerja di Center for Community Development and Education (CCDE) yang secara fisik sudah tidak ada lagi, karena kantor dan semua yang ada di dalamnya sudah rata dengan tanah dan hilang ditelan bencana, pada bulan Maret 2005, saya mengajak lagi beberapa staf CCDE untuk mulai hidup baru. 

Paling tidak, menyemangati kembali jiwa yang hancur dengan ungkapan, Life must go on. Kebetulan pula tidak lama setelah itu banyak pihak yang terpanggil jiwanya untuk membantu, saya yang sedang mengalami trauma berat itu, tetap ingin berbuat. Ternyata pula semua aktivitas itu juga menjadi obat trauma bagi saya.

Kendatipun buku-buku yang saya bawa pulang dari Jakarta pada tanggal 20 Desember 2004 itu sudah tidak bisa dibawa pulang lagi ke Manggeng, namun niat untuk melanjutkan taman bacaan Iqra masih tetap hidup. Maka, ketika CCDE mendapat bantuan hibah program kala itu, program pemberdayaan perempuan di kecamatan Manggeng dan Labuhan Haji dikemas dengan membangun gerakan literasi. 

Sehingga pada saat itu, saya bersama CCDE membangun 5 pondok masing-masing di dua desa di Labuhan haji dan 3 desa di Manggeng. Ke lima pondok itu adalah pondok untuk taman bacaan yang kemudian dilengkapi dengan sejumlah buku bacaan untuk masyarakat. Sementara taman bacaan rakyat Iqra yang sudah duluan ada, terus ditambah jumlah buku dan bacaannya. Bahkan selama lima tahun dibuka di kantor cabang CCDE di Manggeng saat itu. Namun, setelah CCDE menutup kantor di Manggeng, tidak ada yang mau melanjutkannya. Itulah sepenggal cerita mengenai semangat membangun literasi untuk mencerdaskan anak negeri lewat penyediaan bacaan di taman bacaan Iqra.

Selain membangun taman bacaan, sejalan dengan upaya pemberdayaan dan penguatan perempuan, remaja dan anak, saya di CCDE sejak tahun 2003 juga sudah menggagas penerbitan POTRET yang kini dikenal sebagai majalah perempuan kritis dan cerdas. Majalah POTRET hingga kini masih banyak yang disumbangkan ke taman bacaan, masyarakat, sekolah dan juga kepada kelompok-kelompok dampingan CCDE yang menjadi bagian dari penerbitan majalah ini.

Apalagi saat ini, geliat gerakan literasi di Aceh terus terasa dan menggelora, karena semakin banyak orang tergerak dan terpanggil untuk berkampanye dan juga secara langsung berbuat. Semain banyak orang yang sadar akan pentingnya membangun gerakan literasi, mengajak orang untuk rajin membaca dan menulis.

Bukan hanya mengajak, tetapi ada yang terus melakukan kampanye lewat iklan-iklan di radio, di surat kabar atau di majalah, juga ada yang menggunakan spanduk-spanduk yang dipasang atau dipajang di sudut-sudut jalan. Bahkan juga ada di baliho-baliho yang besar dan mahal. Sangat tergantung siapa yang melakukan kampanye tersebut. Ada dari pihak dinas pendidikan, dinas arsip dan perpustakaan hingga anggota dewan.

Selain itu, ada pula pihak-pihak yang ikut terpanggil melakukan hal yang sama dengan cara Swadaya. Beberapa contoh adalah apa yang dilakukan oleh Ikatan Guru Indonesia (IGI) yang bergerilya ke daerah-daerah di Aceh dan Indonesia. Dalam banyak acara kampanye literasi yang dilakukan IGI Aceh misalnya, menghadirkan inisitor, pencetus, pegiat atau motor Gerakan Literasi Sekolah di Indonesia, Bapak Satria Dharma dari Surabaya. 

Beliau datang ke Aceh tanpa harus dibiayai, tetapi dengan biaya sendiri melakukan pertemuan dan presentasi di sejumlah kabupaten di Aceh yang dimotori oleh ketua IGI Aceh, Drs. Imran Lahore. Bahkan IGI Indonesia dan Aceh bukan hanya mengadakan seminar literasi di Aceh, tetapi juga menyumbangkan ribuan buku dan bacaan, termasuk majalah POTRET dan Majalah Anak Cerdas d Pidie Jaya baru-baru ini, saat melakukan acara deklarasi Gerakan Literasi Sekolah di Meureudu, Pidie Jaya oleh Bupati Pijay, Teungku Aiyub Abbas. 

Dideklarasikannya gerakan literasi sekolah di Pidie jaya itu adalah sebuah langkah yang positif dan benar untuk membangun dan meningkatkan budaya baca di daerah ini. Bahkan Dinas Dendidikan Pidie Jaya dibantu oleh majalah POTRET dan majalah Anak Cerdas, kini melakukan sumbangan majalah POTRET dan majalah Anak Cerdas ke seluruh sekolah di Pidie Jaya. Bukan hanya menghibahkan bacaan, tetapi mengangkat karya anak dan guru di majalah tersebut yang bisa memotivasi anak-anak sekolah berkarya.

Menggeliatnya gerakan literasi itu, bukan hanya di Pidie Jaya, tetapi sebelum dilakukan deklarasi gerakan literasi di Pidie jaya, Kabupaten Bireun sudah lebih dahulu melaju. Selain itu, kini ada gerakan yang juga sangat hebat yakni hadirnya FAMe yang merupakan forum menulis anak-anak Aceh yang terus menggelorakan gerakan literasi di Aceh. 

Semua ini adalah potensi positif yang harus terus dibangun, dikembangkan dan dipelihara agar inisiatif-inisiatif untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia anak negeri ini bisa terus berjalan dengan dinamis. Oleh sebab itu, pemerintah, terutama pemerintah daerah yang juga menggunakan Icon "Aceh carong ( Aceh pintar)" wajib hukumnya bersinergi dengan semua pihak yang secara sadar terus berupaya membangun gerakan literasi di Aceh.

Agar gerakan ini semakin masif dan berlanjut, diperlukan pula ada inisiasi untuk membangun semangat bersedakah buku, semangat dan kemauan menghibahkan bacaan, kepada sekolah-sekolah dengan banyak cara yang bisa dilakukan. Salah satunya adalah seperti apa yang sedanag dilakukan oleh Pemkab Pidie dengan kegiatan membagikan 1500 majalah POTRET kepada sekolah dan yang juga dilakukan oleh IGI Pusat dan Aceh ke Pidie jaya. Begitu pula apa yang dilakukan oleh majalah POTRET dan majalah Anak Cerdas yang menghibahkan sejumlah bacaan ke sekolah-sekolah hingga ke pelosok negeri yang bukan saja di Aceh, tetapi juga ke luar Aceh hingga ke bagian timur Indonesia.

Banyak cara yang bisa kita lakukan. Majalah POTRET dan majalah Anak Cerdas siap bekerja sama untuk mencetak ulang sejumlah edisi majalah POTRET dan Anak Cerdas untuk disumbangkan ke semua sekolah, baik di Aceh, maupun di Indonesia. Semua bisa dilakukan dengan cara bekerja sama. Yang penting kita mau bergerak bersama. Selayaknya kita mau membangun gerakan hibah buku dan bacaan yang menarik untuk anak bangsa. Satu buku satu keluarga, satu buku untuk membangun masa depan bangsa yang gemilang