Tabrani Yunis
Tabrani Yunis pegawai negeri

Tabrani Yunis adalah Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh, juga sebagai Chief editor majalah POTRET, menerbitkan majalah Anak Cerdas. Gemar menulis dan memfasilitasi berbagai training bagi kaum perempuan.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Pionir Literasi di Sekolah Itu Juga Pahlawan

11 November 2017   17:01 Diperbarui: 12 November 2017   00:19 848 3 2
Pionir Literasi di Sekolah Itu Juga Pahlawan
Doc. pribadi. Anak-anak memegang majalah Anak Cerdas

There is nothing is impossible. Everything is possible (Tidak ada yang tidak mungkin, segalanya bisa mungkin). Begitulah hidup ini berjalan. Kadangkala kita mengira bahwa sesuatu itu tidak mungkin bisa terjadi, namun suka atau tidak suka, bisa terjadi. Pokoknya, semua hal bisa terjadi. Ada yang kita harap-harapkan terjadi pada diri kita, namun tak kunjung datang atau terjadi. Sebaliknya sesuatu yang tidak kita ingin, tidak kita sukai atau tidak menjadi harapan, malah itu pula yang didapatkan. 

Terkadang tidak masuk di akal, ya tidak terpikirkan, namun itulah yang terjadi. Hal semacam ini sangat sering terjadi di dalam hidup kita. Ya, banyak orang yang mengalami hal semacam ini. Salah satunya adalah apa yang dirasakan oleh Pak Anwar, S.Pd.I, M.Pd.I,  yang kini menjabat sebagai Kepala Sekolah Dasar (SD) Negeri Sarah Gala, Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur. 

Ia sangat tidak berharap harus menjadi kepala sekolah di daerah yang terisolir. Ia pun tidak pernah bayangkan kalau dia tiba-tiba ditempatkan di sekolah yang letaknya jauh dari kota dan sulit dicapai dalam waktu singkat dan mudah dilewati kenderaan itu.

Dalam sebuah pertemuan singkat ketika, di sela-sela mengikuti lomba budaya mutu SD wilayah i 3T  tingkat  Propinsi Aceh tahun 2017 di hotel Lading, Banda Aceh, Pak Anwar sempat bercerita panjang lebar tentang kisah ia terdampar menjadi Kepala Sekolah Dasar Negeri Sarah Gala yang masuk dalam kategori wilayah 3 T. 

Sambil meneguk segelas kopi dan beberapa potong kue yang disediakan oleh panitia, ia memulai ceritanya. Ia pernah sangat kecewa, ketika mendapat tugas sebagai kepala sekolah di wilayah 3 T, yakni di SD Negeri Sarah Gala, di Kecamatan Pante Bidari, Aceh Timur pada tahun 2016 lalu.  Ya, ia merasa seperti sengaja dizalimi, maka ia sangat kecewa. Kekecewaannya itu sebenarnya sangat beralasan, walau hanya diungkapkannya dalam pikiran sendiri.

Ya bisa dibayangkan, sebelumnya ia mengajar di sekolah-sekolah yang tergolong hebat. Ya menjadi guru di sekolah inti, termasuk sekolah percontohan. Bukan hanya itu, bila kita lihat dari prestasi yang ia raih selama menjadi guru, Pak Anwar sudah meraih banyak hadiah atau penghargaan. Ia  pernah menoreh sebuah prestasi sebagai juara 1  (satu) guru berprestasi tingkat Kabupaten Aceh Timur pada tahun 2015.  Pak Anwar juga pernah meraih   juara 3  (tiga) guru berprestasi di tingkat Provinsi Aceh tahun 2015 mewakili Aceh Timur. 

Idealnya, dengan prestasi yang sudah ia ukir tersebut, dia pantas diberikan kepercayaan sebagai Kepala Sekolah di sekolah-sekolah yang berstatus unggul atau percontohan. Wajar kalau muncul sejumlah pertanyaan dalam hatinya, mengapa   apresiasi  yang diberikan kepadanya  atas prestasi yang pcapai itu dengan menjadikan ia sebagai Kepala Sekolah di daerah terpencil. Apalagi ketika ia tahu,  teman --temannya yang lain mendapat prestasi seperti yang ia raih, penghargaan yang mereka dapat  adalah diangkat sebagai Kepala Sekolah di sekolah inti yang bisa meningkatkan karier dan sekaligus bisa mengikuti ajang Kepala sekolah berprestasi. 

Mengapa ia dibuang ke pelosok ? Itulah sejumlah pertanyaan  yang ternyata, hanya terlintas dalam hatinya. Seharusnya ia  juga layak mendapat apresiasi yang sama seperti teman yang lain.

Mungkin itu pulalah apa yang dikatakan orang bijak atau pepatah lama bahwa " Untung tak dapat diraih,  malang tak dapat ditolak". Begitulah arti kehidupan. Kita bisa merencanakan, tetapi Tuhan yang menentukan. Namun terlahir sebagai orang yang tidak mudah putus asa dan senang berinovasi, Anwar kelahiran tahun 1991 yang bermental juara itu, menjalankan tugasnya sebagai kepala Sekolah dengan penuh tanggung jawab dan berdedikasi tinggi. 

Ya, setelah ia  menyelesaikan diklat P4TK tentang Instruktur Nasional guru pembelajar di Banda Aceh, tanggal  8 Agustus 2016  ia pun diantar ke sekolah baru yang jauh dari kota itu. Maka,  hari itu menjadi hari bersejarah bagi  diri Pak Anwar, karena selama hidup belum pernah menempuh perjalan yang begitu ekstrim dengan menapaki kaki di Desa Sah Raja. Desa yang terletak di wilayah Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh timur itu. Di sanalah letaknya Sekolah baru, tempat penulis ditugaskan.


Lebih lanjut ia bercerita, perjalanan  menuju Desa Sah Raja, Kecamatan Pante Bidari kala itu terasa berat. Ya, kondisi jalan  sangat rusak,  berlubang lubang . Tidak hanya berlubang, tetapi penuh dengan batuan dan tanah merah berlumpur. Semakin terasa berat karena jalan yang ditempuh harus pula dengan  mendaki bukit-bukit yang sangat terjal. Kondisi ini masih pada musim kemarau, belum lagi pada mism hujan. Jika musim hujan tiba, malah jalan itu tak bisa dilewati. Ini memang perjalanan berat dan seperti merasa tersisih dibandingkan dengan nasib kawan-kawan lain.

Namun, setelah ia diantar oleh pengawas dan beberapa rekan Kepala Sekolah yang ikut mendampingi penulis ke SDN Sarah Gala tersebut, di situlah hatinya terasa sedih dan  tergugah. Apalagi kala menatap wajah -- wajah   anak-anak Aceh Timur yang  di pedalaman ini masih sangat polos dan bershaja,  rasa prihatin semakin menjadi pendorong untuk bisa berbuat sesuatu, untuk melakukan perubahan. Pak Anwar semakin sadar bahwa ini adalah kewajiban besar yang harus diemban agar bisa memberikankan mereka hak atas pendidikan dengan baik.  


Nah, dengan bermodalkan pengalaman mengajar di sekolah inti atau unggul, Pak Anwar mulai melakukan aksi pembenahan untuk membuat sekolah lebih ramah terhadap anak. Melihat kondisi ini, Pak Anwar mulai mengatur langkah baru. Langkah awal yang harus ia lakukan adalah  menata tampilan fisik sekolah, agar anak-anak  betah  berada di sekolah. Ya, dengan kata lain, kasmaran terhadap sekolah. Agar anak kasmaran dan betah belajar di sekolah, maka Pak Anwar membuat alat -- alat peraga di dinding sekolah. Ia juga mengajak guru kelas untuk menghiasi kelas dengan pernak pernik dan hiasan dinding dari hasil karya anak-anak.

Karena  pagar teras tidak ada, amak Pak Anwar membuatnya, sehingga di depan kelas bisa ditanami bunga-bunga, aman dari  hewan ternak masyarakat sekitar yang di halaman sekolah. Selanjutnya ia memberikan tugas kepada guru kelas untuk menyaring murid yang masih belum bisa membaca di kelasnya masing masing, diberikan kelas khusus. 

Kelas ini disebutnya sebagai bengkel belajar. Bengkel yang membatu anak-anak yang belum bisa membaca untuk belajar membaca. Ia sangat yakin dan sadar bahwa membaca adalah kunci segalanya, kalau tidak bisa membaca, maka semua materi yang diajarkan guru tidak akan tercapai atau dengan kata lain, nol hasilnya. Untuk mengoperasikan kelas bengkel ini, penulis menugaskan guru honor, khusus untuk menangani membaca dengan target 2 sampai 3 bulan murid mampu membaca cepat. Tujuan utamanya supaya melaksanakan Gerakan Literasi Sekolah berhasil.


Para murid di kelas bengkel ini berasal dari semua kelas.  Mereka hanya belajar membaca dengan  bahan yang  dicopy dari buku bacaan cepat anak sekolah TK. Buku baca cepat ini digunakan agar para murid tidak lagi  mengeja, tetapi langsung membaca kata.  Ya, seperti belajar membaca iqra'. Kegiatan ini terus diupayakan dengan berbagai teknik. 

Apalagi para guru terus meberikan dukungan untuk menuntaskan masalah ini supaya semua murid bisa membaca. Agar, kebiasaan membaca tidak hanya tumbuh di bengkel membaca, kewajiban yang sama juga untuk kelas lain.  Setiap hari wajib membaca 15 menit sebelum proses PBM berjalan.  Itu wajib dilakukan. Selain sebagai amanat dalam peraturan menteri pendidikan, membaca 15 menit ini juga bertujuan menguatkan dan meningkatkan minat para murid untuk membaca dan menulis.


Kegiatan ini dilakukan dengan sadar, karena membuat anak mampu membaca dan menulis adalah membangun jembatan bagi masa depan anak yang lebih baik. Tentu saja sekalian menyukseskan program Kemendikbud dalam melakukan Gerakan Literasi Sekolah. Paling tidak, dengan cara ini murid-murid SD Negeri Sarah Gala,  bisa menjadi anak-anak  yang cerdas seperti anak - anak yang lain seusia mereka. Untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang inovatif itu, memang mudah, tetapi tidaklah semudah membalik telapak tangan.  

Membalik telapak tangan saja perlu energy, apalagi membangun literasi. Artinya selalu ada kendala yang menghadang.  Sebenarnya, untuk sekolah yang jumlah muridnya saat ini mencapai 110 orang, seharusnya sudah memiliki perpustakaan dengan perlengkapan pustaka yang memadai. Faktanya, itu tidak. Padahal, kalau perpustakaan dan sarananya lengkap, itu sangat membantu guru dan mendukung kelancaran para murid dalam belajar.

Untunglah tidak cepat patah semangat, sehingga sebagian ruang guru  dijadikan pustaka mini. Sesuai dengan namnya mini, Pak Anwar dan para guru memanfaatkan rak buku yang ada, memajang buku buku pelajaran sebagai bahan untuk menumbuhkan minat murid untuk membaca. Sekolah ini ketika pada masa awal ia menjadi kepala sekolah, memang memiliki buku yang sangat minim. Jangankan buku bacaan,  buku pelajaran dan buku bacaan yang  sangat minim. 

Bayangkan saja, dalam proses PBM satu buku itu bisa berbanding 4 murid. Jika para murid ingin membaca, mereka hanya bisa membaca buku teks pelajaran, karena buku cerita di sekolah tidak rersedia, sehingga minat para murid untuk membacanya jadi rendah. Alhamduliah sekarang untuk kebutuhan buku pelajaran sudah tersedia dengan rasio 1 banding 1, namun untuk gedung perpustakaan masih belum ada.

Agar kondisi minimnya bacaan bagi anak-anak di SD Negeri  Sarah Gala ini membuat Pak Anwar terus berupaya mencari jalan agar walau sedikit akan selalu ada buku baru. Maka, ketika mengikuti acara lomba budaya mutu SD wilayah 3T tingkat Provinsi Aceh tahun 2017 ini yang mengantarkan dirinya sebagai juara harapan I, ia berusaha mencari sejumlah bacaan yang menarik, untuk dibawa ke sekolahnya. 

Kebetulan, bertemu dengan pemilik majalah Anak Cerdas, maka pada saat itu Pak Anwar membeli satu paket majalah Anak Cerdas. Lalu, ketika majalah Anak Cerdas diperlihatkan kepada anak-anak di sekolah, mereka dengan bersemangat meminta pinjam majalah tersebut untuk dibaca.  Beliau berharap ada pihak-pihak donator yang mau menghibahkan bacaan untuk anak-anak di SD Negeri Sarah Gala ini. Semoga, begitu ucap Pak Anwar di ujung pertemuan itu. Kita memang harus berjuang, mencerdaskan anak-anak di daerah yang terisolir, walau tidak sebagai pahlawan.