Tabrani Yunis
Tabrani Yunis pegawai negeri

Tabrani Yunis adalah Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh, juga sebagai Chief editor majalah POTRET, menerbitkan majalah Anak Cerdas. Gemar menulis dan memfasilitasi berbagai training bagi kaum perempuan.

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Artikel Utama

Membangun Kemandirian Ekonomi Perempuan Itu Sangat Penting

9 November 2017   00:43 Diperbarui: 9 November 2017   09:18 1298 3 1
Membangun Kemandirian Ekonomi Perempuan Itu Sangat Penting
Doc. Pribadi

Oleh Tabrani Yunis

Sudah lama aku tidak memfasilitasi training kewirausahaan untuk para perempuan akar rumput (grassroots women), seperti halnya beberapa tahun yang lalu. Kemarin, hari Selasa, 7 November 2017, aku diundang untuk menjadi narasumber pada sebuah acara "Bimbingan Management Usaha bagi perempuan dalam mengelola usaha". Sebuah kegiatan yang diselenggarakan oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak, Pengendalian Kependudukan dan Keluarga Berencana, Pemerintahan Kabupaten Gayo Lues, Aceh. 

Aku sangat tertarik dan sangat suka dengan kegiatan seperti ini, walaupun sebenarnya letak Gayo Lues, itu sangat jauh dari kota Banda Aceh. Ya, sangat jauh, bukan saja jauh, tetapi medan yang ditempuh terasa sangat mengerikan, karene melewati jalan di pegunungan dengan kondisi jalan yang penih tanjakan dan penurunan tajam. Tidak banyak kenderaan yang melewati jalan ini. Tidak ada bus besar seperti dari Banda Aceh ke Medan atau sebaliknya, yang ada angkutan umum hanyalah sejenis van yang dikenal dengan Mitsubishi L-300 itu. Aku kemarin menumpagi angkutan L-300 dan menempuh perjalanan lebih kurang 12 jam. Cukup panjang bukan?

Ya, memang sebuah perjalanan panjang dan melelahkan. Bayangkan saja, perjalanan dimulai pukul 18.00 WIB, menjelang magrib di Banda Aceh dan tiba di kota Blang Kejeren, ibu kota Gayo Lues itu pada pukul 07.30 pagi. Kota yang terletak di pegunungan Gayo ini, di kala pagi memang sangat dingin dan berkabut, sehingga badan terasa enggan untuk bertemu dengan air. Ya, mala mandi. Namun, karena acara segera dimulai pada pukul 09.00 pagi, maka terpaksa mandi, walau menggigil.

Acara Bimbingan Manajemen Usaha bagi perempuan ini dibuka oleh Sekda Kabupaten Gayo Lues, H.Thalib, S.Sos, MAP. Ketika membuka acara tersebut beliau menyampaikan betapa pentingnya peren perempuan (ibu-ibu) selama ini yang sudah ikut membantu meningaktkan pendapatan keluarga dengan memainkan peran dalam berbagai macam usaha kecil selama ini. Perempuan sudah membantu suami mewujudkan kesejahteraan  keluarga di tengah masyarakat. Bahkan tidak sedikit perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga. 

Padahal dalam perspektif agama, selama ini selalu disebut dan diklaim selaki-laki sebagai pencari nafkah dan perempuan yang mengelola di rumah tangga. Tanpa disadari, selama ini banyak perempuan yang dengan sadar dan terpaksa, menjadi tulang punggung ekonomi keluarga. Itulah hebatnya perempuan sekarang. Oleh sebab itu, beliau sangat menghargai, memberikan apresiasi terhadap pihak penyelenggara kegiatan ini dan berharap agar kegiatan ini tidak hanya apa yang dilakukan saat ini, tetapi harus diperbanyak lagi agar perempuan bisa lebih berdaya dan kuat ke depan.

dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi

Nah, hadir sebagai nara sumber dalam kegaiatan ini, bagiku adalah sebuah kegiatan untuk mewujudkan visi dan misi dalam membangun kemandirian ekonomi perempuan di Aceh. Ya, sejak tahun 1993 kegiatan ini aku lakukan. Apalagi pasca bencana tsunami,  sepanjang tahun dari 2005 hingga sekarang aku banyak bergelut dengan kegiatan memfasilitasi training manajemen usaha, memotivasi perempuan untuk berwirausaha, bahkan memfasilitasi pendanaan usaha bagi perempuan usaha kecil itu lewat lembaga yang aku dirikan pada 30 November 1993.  

Lembaga yang banyak dikenal dengan sebutan CCDE (Center for Community Development and Education) Banda Aceh. Lembaga yang sangat concern dan committed terhadap perempuan marginal dan anak-anak yang kurang beruntung. CCDE memberikan intervensi dan pelayanan melalui kegiatan-kegiatan pendidikan alternatif, pengembangan ekonomi dan penerbitan media bagi perempuan dan anak yang wujudnya adalah berupa majalah POTRET, www.potretonline.com, dan majalah Anak Cerdas.

Ketika memberikan materi kepada ibu-ibu atau perempuan yang sedang melakukan kegiatan ekonomi dengan menjalankan usaha atau wirausaha dalam berbagai bidang itu, aku bertanya kepada mereka tentang motivasi mereka membuka usaha. Aku bertanya, "bu, mengapa ibu-ibu membuka usaha?" Apa yang mendorong ibu-ibu bekerja, membuka usaha seperti sekarang?  Seperti biasanya, ibu-ibu memberikan jawaban yang sangat mulia. Rata-rata jawaban  mereka adalah " Ingin membantu suami, atau membantu ekonomi keluarga". Tentu saja jawaban para perempuan yang sangat berdahaja ini, sangat mulia.

Bayangkanlah, perempuan sebagai pihak yang ditugaskan dan sangat bertanggung jawab dengan urusan domestic, sesungguhnya adalah pekerjaan yang berat yang harus diemban. Walaupun ada yang melihatnya dengan cara pandang, hanya berkisar pada tiga ranah, sumur, dapur Kasur, tetapi sesungguhnya, bila kita buat list kegiatan itu maka dengan jelas kita melihat bagaimana beratnya tugas dan pekerjaan seorang itu atau perempuan di rumah. 

Tidak salah kalau ada yang mengatakan bahwa "pekerjaan perempuan atau ibu di rumah itu, mulai sejak sebelum matahari terbit, hingga sebelum tenggelam mata suami". Dalam kondisi ini, perempuan kadangkala harus memiliki impossible hands, ya tidak cukup dua tangan, tetapi harus banyak tangan. Jadi sangat berat bukan? Tentu saja berat, namun tidak banyak orang yang melihat hal itu. Bahkan ada yang berkata, perempuan di rumah, hanya duduk-duduk manis. Tentu sangat ironis.

Lalu, ketika sekarang perempuan banyak yang secara sadar dan terpaksa keluar dari ranah domestic, dan terjun ke ranah public menjadi perempuan yang mengambil peran di sektor ekonomi, menjadi perempuan usaha kecil dan lain-lain yang ada di ranah public, maka sesungguhnya apa yang mereka lakukan tersebut menunjukkan bahwa perempuan memiliki potensi dan peran yang besar dalam sector ekonomi, terutama di level ekonomi mikro. 

Oleh sebab itu, memngingat bahwa mereka memiliki potensi yang sangat besar dan potensial, seharusnya potensi ini mendapat perhatian lebih besar dari semua pihak yang peduli, termasuk pihak pemerintah dan bahkan Dinas Pemberdayaan dan Perlindungan Anak. Dinas ini, bisa lebih kreatif menyediakan kegiatan program peningkatan kapasitas perempuan usaha kecil di daerah masing-masing.

Penting kemandirian Ekonomi

Melihat niat dan kerja mulia yang dilakukan perempuan dengan berwirausaha, pada dasarnya, setiap perempuan harus ditanamkan kesadaran bahwa apa yang dilakukan oleh  perempuan dengan usaha kecil yang mereka lalukan tersebut, bukan hanya sekedar membantu suami. Perempuan dalam kondisi seperti sekarang ini, tidak bisa lagi memposisikan diri sebagai pihak penerima dan pengelola nafkah yang dibawa suami. sPerempuan itu adalah sosok yang kuat dan memiliki potensi ekonomi yang besar, apalagi kebanyak perempuan yang menjalankan usaha di sector informal dan mikro selama ini terbukti mampu bertahan, walau dilanda oleh krisis ekonomi. Oleh sebab itu, potensi yang sudah ada ini perlu dikembangkan dan ditingkatkan kualitasnya.

Kepada perempuan juga harus diingatkan bahwa pekerjaan dan niat untuk membantu suami itu penting dan mulia, namun  lebih penting lagi bagi perempuan sendiri adalah kemauan untuk membangun kemandirian ekonomi perempuan itu sendiri. Dikatakan demikian, karena bila perempuan memiliki kemandirian ekonomi sendiri, artinya perempuan memiliki pendapatan atau income sendiri. Apalagi kalau bisa mengatur sendiri income yang diperoleh, pasti akan sangat membantu perempuan. Dengan memiliki kemandirian ekonomi, perempuan akan bisa melepaskan ketergantungan ekonomi pada suami. 

Dengan kemandirian ekonomi yang dimiliki oleh setiap perempuan harus pula bisa melepaskan kemingkinan beban ganda yang mungkin muncul, ketika perempuan harus bekerja dengan kegiatan wirausaha mereka itu. Perempuan usaha kecil, harusnya bisa mengurangi beban kerja domestic dengan potensi dan kemandirian keuangan yang mereka milik dari hasil usaha mereka.

Penting diingat bahwa, kendatipun sebenarnya selama ini dalam segala hal di rumah tangga, perempuan cenderung sangat bergantung pada nafkah yang dibawa atau diberikan oleh suami, sesungguhnya pula harus diingat bahwa tidak selamanya seorang perempuan terus bergantung kepada pendapatan suami. Kalau suaminya masih hidup dan sehat atau masih punya penghasilan, bila tiba-tiba sakit, tidak mampu lagi bekerja, atau meninggal, maka perempuan yang tidak memiliki kemandirian ekonomi, akan kalangkabut, tidak berdaya. Lagi pula harus difahami bahwa dalam hidup ini tidak ada yang abadi. 

Perempuan harus sadar bahwa tidak ada satu laki-laki pun yang bisa menjadi hidup perempuan atau istri, tetapi perempuan atau istrilah yang menentukannya. Perempuan tidak boleh lalai atau lengah, apalagi bila kita melihat realita dalam kehidupan kita, hubungan suami isteri itu bisa tiba-tiba putus atau berpisah. Ada pisah mati dan ada pisah hidup. Jadi aka nada waktu yang nanti membuat perempuan terpaksa bekerja. Apa yang akan terjadi, bila sejak awal perempuan tidak menyiapkan kemampuan dan kemandirian ekonomi? Akan sangat susah bukan? Oleh sebab itu, ayo berwirausaha. Ya, bangunlah kemampuan dan kemandirian ekonomi.