Mohon tunggu...
Lupin TheThird
Lupin TheThird Mohon Tunggu... Seniman - ヘタレエンジニア

A Masterless Samurai -- The origin of Amakusa Shiro (https://www.kompasiana.com/dancingsushi)

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Serba-serbi Jadi Gaijin sekaligus WNI di Jepang

23 Januari 2021   14:39 Diperbarui: 27 Januari 2021   17:57 2529
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
ilustrasi pertokoan di Jepang. (Foto: pat krupa/unsplash via ohayojepang.kompas.com)

Makanan yang ditaruh di meja lipat, tidak saya sentuh sedikit pun. 

Walaupun ada pasangan suami istri Jepang yang duduk di sebelah mencoba menerangkan tentang sesuatu. Apa hendak dikata, kemampuan bahasa Jepang saya pada waktu itu masih belum memadai untuk bisa paham percakapan.

Makan malam tetap utuh ketika pramugari mengambilnya dari hadapan saya. Untunglah menu makan pagi ada omelet hangat dan sayuran. Sehingga rasa panik saya sedikit bisa hilang.

Saat itu, tak terbayang sedikit pun bahwa soba (terutama juuwari soba, dibuat dengan bahan 100% tepung soba tanpa campuran) dan sashimi, nantinya akan menjadi makanan favorit. 

Saya tidak gamang lagi untuk menelan makanan mentah (tanpa dimasak). Bahkan daging kuda mentah yang disebut  ba-sashi pun, pernah saya makan.

Sebagai WNI saya beruntung (orang Indonesia memang merasa untung terus), karena dianugerahi lidah yang "luwes".

www.city.ueda.nagano.jp
www.city.ueda.nagano.jp
Bayangkan saja. Saya yang doyan makanan pedas maupun dengan bumbu rempah-rempah, tidak pernah berpikir sedikit pun untuk menyentuh, mengunyah, bahkan menggilakan makanan dingin dan mempunyai rasa asin saja.

Lidah WNI ternyata bisa cepat beradaptasi dengan makanan khas daerah di negara mereka berada. Masih berhubungan dengan lidah, ternyata lidah WNI juga bisa cepat menyesuaikan dengan logat bahasa setempat. 

Barangkali sebagian dari Anda sudah mengetahui, bahwa Jepang bukan kota "ramah" bagi gaijin dalam hal bahasa.

Kalau di kota besar seperti Tokyo, Nagoya, Osaka, Kobe, Hiroshima, Fukuoka, Sapporo, mungkin tidak begitu masalah jika Anda tidak bisa berbahasa Jepang. Karena petunjuk jalan dan beberapa menu di restoran, bahkan penghuni kota pun ada yang bisa berbahasa Inggris.

Namun jika Anda pergi ke tempat jauh dari kota besar, kemampuan bahasa Jepang adalah salah satu "senjata" wajib.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun