Mohon tunggu...
Lupin TheThird
Lupin TheThird Mohon Tunggu... Seniman - ヘタレエンジニア

A Masterless Samurai -- The origin of Amakusa Shiro (https://www.kompasiana.com/dancingsushi)

Selanjutnya

Tutup

Inovasi Artikel Utama

Oh Koran Cetak, Riwayatmu Kini

22 Juni 2019   05:30 Diperbarui: 22 Juni 2019   11:15 480
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi: getty images

Koran dengan oplah besar dan pas sasaran (artinya kita bisa berasumsi, misalnya yang membaca koran itu adalah masyarakat dari target iklan), tentunya memasang harga yang tidak murah bagi pengiklan. Sehingga ini menguntungkan penerbit.

Begitu juga sebaliknya, jika oplahnya sedikit, dan koran diasumsikan hanya menyasar kepada masyarakat dengan kelas tertentu (terbatas), maka harga yang dipatok untuk pemasangan iklan juga relatif lebih ekonomis.

Oplah koran tidak bisa dianggap remeh, karena selain mempengaruhi pemasukan dari iklan, juga menyangkut gengsi dari penerbit. Semakin tinggi oplah, bisa menjadi bukti bahwa koran itu banyak diminati oleh pembaca. Sehingga penerbit akan berusaha untuk menjaga oplah, yang terkadang juga menimbulkan masalah karena kadang dilakukan dengan cara-cara yang tidak "sehat".

Misalnya di Jepang ada yang dinamakan oshigami, yaitu oplah koran cetak yang dipaksakan untuk dijual kepada agen koran. Contohnya, ada agen yang hanya mampu menjual (mendistribusikan) 700 koran, tetapi penerbit "memaksa" agen untuk menjual koran sebanyak 1000 eksemplar. Sehingga agen harus menutup kerugian sebanyak 300 eksemplar koran yang tidak laku untuk dijual.

Hal ini sudah lama menjadi perbincangan, dan saat ini juga masih terjadi. Tujuan utama dari oshigami ini adalah, strategi dari penerbit demi menaikkan (atau menjaga) total oplah koran cetak. Karena jumlah koran yang dicetak otomatis akan menjadi oplah koran yang bisa diklaim oleh penerbit. 

Di era digital sekarang, untuk bisa menjaga kelangsungan hidup perusahaan, tentunya penerbit koran (cetak) sudah banyak menyesuaikan diri dengan kemajuan zaman. Misalnya, dengan membuat edisi digital dari koran, sehingga pembaca bisa membaca koran elektronik, baik yang gratis maupun yang berbayar.

Lalu ada juga yang membuat media campuran, antara media analog (cetak) dan digital. Contohnya adalah Nikkei Shinbun, yang mulai akhir tahun lalu, menggunakan teknologi AR (Augmented Reality) untuk memberikan informasi tambahan multimedia kepada pembaca.

Caranya adalah, pembaca terlebih dahulu harus mengunduh aplikasi Nikkei AR yang telah disediakan melalui Google Play maupun Apple Store. Kemudian dengan aplikasi itu, pembaca memindai gambar/grafik untuk melihat informasi tambahan.

Seperti berita halaman depan Nikkei Shinbun pada tanggal 16 Juni 2019 yang lalu. Jika kita memindai gambar grafik berita koran seperti dibawah.

Koran Nikkei edisi 16 Juni 2019 (dokpri)
Koran Nikkei edisi 16 Juni 2019 (dokpri)

Maka bisa kita lihat tambahan informasi seperti video ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Inovasi Selengkapnya
Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun