Mohon tunggu...
Syurkani IK
Syurkani IK Mohon Tunggu...

Banyak dinamika di lingkungan kehidupan kita. Kadang kita pahami dengan baik, kadang malah membuat kita bingung. Namun atas semua hal tersebut, sebagai warga lingkungan yang peduli, kita boleh menulis sebaris dua baris pendapat kita bukan?

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Bangsa pelaut yang 'lupa daratan'

28 September 2013   19:51 Diperbarui: 24 Juni 2015   07:15 207 0 1 Mohon Tunggu...

Tulisan ini saya buat setelah mendengarkan paparan yang sangat menarik oleh seorang teman yang bekerja di Bank Indonesia, yang mengingatkan kembali bahwa Indonesia adalah negara maritim. Saat itu, kami begitu serius membahas situasi ekonomi global terakhir yang cukup mengkhawatirkan, dan bagaimana Indonesia harus mampu memperkuat resiliensi dalam segala aspek. Sampai kami pada sesi diskusi tentang ketersediaan pembiayaan dalam jangka panjang untuk investasi ekonomi (Indonesia menjadi pionir dan ketua kelompok kerja untuk pembahasan isu pembiayaan investasi ini di forum G20). Kami menarik satu kesimpulan, Indonesia harus memperkuat infrastruktur maritim, apabila ingin mampu bertahan dalam percaturan ekonomi global, bukan pada infrastruktur darat.

Sudah terlalu lama kita lupa pada jati diri kita, suka atau tidak suka, bahwa kita adalah bangsa maritim. Saat saya posting isu ini ke Facebook, seorang teman bahkan menyebutkan, "kita bangsa pelaut yang 'lupa daratan’ ". Sejarah panjang bangsa-bangsa di Nusantara membuktikan hal itu. Bahkan Indonesia dipersatukan menjadi satu bangsa pada awal-awalnya oleh kekuatan maritim. Kita tahu bahwa bangsa-bangsa di Nusantara di masa lalu disegani dan dikenal dunia karena mereka sangat tangguh di lautan. Kerajaan Sriwijaya di Sumatera, Kerajaan Gowa di Sulawesi adalah dua kerajaan yang sangat disegani oleh bangsa-bangsa lain. Banyak kerajaan lain yang menjadi catatan sejarah bagaimana Indonesia adalah bangsa maritim. Laksamana Malahayati dari Kerajaan Aceh Darussalan dan Sultan Hasanuddin dari Kerajaan Gowa, adalah dua ikon utama di antara sekian banyak ikon maritim masa lalu yang sampai saat ini masih dibangga-banggakan oleh Indonesia.

Kita telah lupa daratan dan lupa lautan. Kita terlalu lama terlena dengan kondisi kemakmuran relatif yang mungkin kita miliki saat ini. Sifat konsumtif bangsa Indonesia sudah semakin parah, menghabiskan lebih banyak dari yang mampu kita hasilkan. Akibatnya kita impor lebih banyak dari negara lain daripada menghasilkan sendiri, bahkan untuk barang-barang yang kita tidak terlalu butuhkan bahkan kita boroskan. Impor handphone termasuk di antara barang import terbesar kita. Juga impor bahan bakar subsidi adalahcontoh bagaimana kita tidak mampu menahan hawa nafsu untuk konsumsi tanpa mampu produksi lebih. Akibatnya kita sekarang mengalami defisit neraca berjalan (current account defisit) terparah dalam sejarah modern ekonomi Indonesia.

Disisi lain, kita begitu semangat memperpanjang jalan tol, begitu menggebu-gebu membangun jembatan panjang-panjang dengan biaya sangat mahal bahkan untuk ukuran sebuah negara maju (Jembatan Selat Sunda contoh paling terakhir), bahkan sekarang kita sibuk mengembangkan mobil murah yang katanya "agar orang miskin juga bisa beli mobil (dengan bahan bakar pertamax, tidak boleh premium subsidi)". Bukannya hal-hal tersebut tidak penting, tetapi bukan hanya itu yang terpenting yang seolah-olah harus kita kejar sekarang. Kita memang perlu membangun jalan dan jembatan karena akan membantu konektivitas, memperlancar jalur distribusi, dan meningkatkan kapasitas kita dalam skema ‘global value chain’.

Namun kita jangan sampai lupa bahwa kita bangsa maritim. Negara kita terdiri atas kepulauan. Seharusnya kita mendukung prioritas pengembangan pelabuhan-pelabuhan laut, membangun transportasi yang memperlancar akses ke pelabuhan (tidak macet seperti kondisi di tanjung priok saat ini), membangun sarana yang memudahkan mobilisasi penduduk melalui laut, membangun industri kelautan yang baik, bahkan kita seharusnya lebih memperhatikan kebutuhan nelayan-nelayan tradisional kita agar lebih sejahtera dan mampu menghasilkan ikan yang banyak untuk konsumsi dalam negeri, sehingga generasi muda Indonesia bisa lebih pintar (karena asupan protein yang tinggi), daripada kita malah sibuk meributkan dan memperebutkan kuota impor sapi dari negara lain.

Sekarang penduduk dunia tidak bicara hanya masalah kesinambungan dan keseimbangan ekonomi. Mereka mulai bicara ketahanan (resiliensi). Nah bagaimana kita mendefinisikan resiliensi kita?  Bangsa Indonesia memiliki keunikan yang menjadi andalan kita untuk resiliensi  yaitu kita bangsa maritim terbesar di dunia, bahkan lebih besar dari Inggris yang dikenal sebagai bangsa maritim nomor satu di masa lalu. Saatnya kita perbaiki strategi pembangunan ekonomi kita. Kita perbaiki pelabuhan laut kita, kita perbaiki kesejahteraan nelayan kita, jadikan profesi nelayan sebagai profesi paling membanggakan. Perkuat armada angkatan laut agar pulau-pulau terluar dapat dijaga dengan baik. Kita perkuat kurikulum kita di sekolah-sekolah dan universitas, bahwa kita bangsa maritim, maka kita akan dikenal kuat sebagai bangsa di lautan, tidak hanya di daratan.  Terutama, kita tingkatkan alokasi dana pembangunan kita untuk infrastruktur maritim.

Terakhir, menjadi bangsa pelaut tidak saja sebuah kebanggaan, tetapi juga sebuah tantangan. Di darat, apabila capek, petani bisa istirahat duduk sejenak di pematang sawah, pegawai bisa ngaso sebentar di kantin, pengemudi bisa berhenti di rest area. Namun pelaut tidak bisa berhenti ngaso tidur-tiduran di tengah-tengah lautan ganas. Mereka harus selalu siap siaga agar tidak terseret arus lautan luas. Itulah tantangan sebagai bangsa maritim, dan itulah keunikan bangsa Indonesia, itu juga kebanggaan kita. Salam.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x