Mohon tunggu...
sylviana yeblo
sylviana yeblo Mohon Tunggu... Guru - Baru belajar mengetik

Halo.. I am not a winner neither you

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Mengapa Harus Ada "Beauty Standard"?

22 Juli 2021   15:00 Diperbarui: 22 Juli 2021   15:16 566
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Diary. Sumber ilustrasi: PEXELS/Markus Winkler

Syl, kamu perawatan engga sih? Biar putih begitu..

Syl, rambutmu yang keriting ini coba di smoothing deh kamu akan cantik.

Pertanyaan dan pernyataan ini seringkali saya dapatkan dari circle terdekat. Entah dari lingkungan keluarga, pertemanan atau lainnya. Iya, rasanya jengkel dan kesal seketika saat mendengar pernyataan ini dilontarkan kepada saya. Huh.. masih jaman apa yah mengkritik dan mengurusi hidup orang lain yang sebenarnya kamu sendiripun tidak paham.  

Menentukan standart bagi orang lain dan menganggap itu baik. Baik bagimu belum tentu baik bagi orang lain kan? Menentukan standart bagi orang lain dan menganggap itu nyaman untuk dipandang. Tetapi belum tentu nyaman dipandang bagi orang lain kan? Sederhananya jika kamu yang mendapat "sikon" seperti itu bagaimana tanggapanmu? Risih dan tidak nyaman bukan?

Standart kecantikan seringkali dinilai dari tampilan fisik seseorang. Menjadi cantik jika kamu tinggi, berkulit terang, berambut lurus dan sebagainya. Jika kamu pendek, berkulit coklat, berambut keriting dan sebagainya maka kamu belum memenuhi standart kecantikan yang ditetapkan oleh masyarakat. 

Ya standart kecantikan yang ditetapkan atau dibuat oleh masyarakat itu sendiri. Standar kecantikan atau seringkali kita mendengar dengan sebutan Beauty standart. Standart ini yang turun temurun menjadi tolak ukur untuk menilai diri sendiri atau orang yang ada disekitarnya. Padahal standart kecantikan seseorang sebenarnya tak hanya dilihat dari fisik saja melainkan dari ia cara berkomunikasi, menyampaikan pendapat atau memberikan solusi terhadapat hal apapun. 

Menurutku itu salah satu indikator dari standar kecantikan. Menurutku loh ya.. Menurutmu? 

Saya berasal dari Sorong, Papua  Barat yang notabene memiliki warna kulit coklat, berambut keriting dan memiliki postur tubuh mungil. Lalu bisa apa dengan standar kecantikan yang telah ditetapkan oleh masyarakat? Apakah saya harus melakukan perawatan agar kulit saya menjadi lebih terang? mengubah jenis rambut sehingga menjadi lurus? Hmm.. kok jadi menakutkan ya:( 

Menjadi cantik terasa semakin sulit dan membutuhkan banyak pengorbanan bagi kami sebagian orang yang berkulit coklat ini agar diakui oleh masyarakat. Mencoba segala macam cara agar dapat memenuhi standart tersebut. 

Mau sampai kapan? Jika bukan kita sendiri yang mengubah standar tersebut. Saya memilih untuk menerima dan mensyukuri warna kulit yang "eksotis" dan rambut keriting yang tak dimiliki oleh semua orang. Ingatlah bahwa setiap manusia ciptaanNya selalu unik.

"Berkat" standart kecantikan menurunkan rasa percaya diri seseorang.  Bagaimana tidak jika kamu selalu membandingkan diri saya dengan kamu yang memiliki warna kulit lebih terang? Padahal sudah jelas, bahwa kita ini memang diciptakan berbeda. Lalu saya bisa apa? Saya memilih untuk menerima karena sekali lagi kita ini unik. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun