Syihab Malik
Syihab Malik Mahasiswa

Bogor-Bandung

Selanjutnya

Tutup

Novel

Alam dan Raya [21. Epilog]

7 Juli 2018   16:06 Diperbarui: 8 Juli 2018   23:00 619 3 0
Alam dan Raya [21. Epilog]
ilustrasi (pribadi)

Bagian Sebelumnya

Di rumah sakit, aku tidak bisa berbuat banyak selain menyaksikan tubuh Alam meringkuk tak berdaya di atas tempat tidur di ruangan IGD yang dalam beberapa waktu ke depan akan segera dipindahkan ke ruang ICU untuk mendapatkan perawatan yang intensif akibat terkena peluru tajam di bagian dadanya. Beberapa orang yang mengantar Alam sempat beradu argumen dengan pihak rumah sakit karena menganggap penanganan yang dilakukan sangat lamban.

Aku hanya bisa menangis dan benar-benar tak tahu harus berbuat apa. Adapun Ghea terus mendampingiku seraya sesekali memeluk dan mengusap kepalaku dengan sedikit mengeluarkan kalimat-kalimat yang menenangkanku.

Malam telah jatuh dan Alam sudah dipindahkan ke ruangan ICU sejak beberapa jam yang lalu. Kami semua hanya bisa menunggu dari ruang tunggu sembari berharap bahwa hal buruk tidak terjadi pada diri Alam. Harus aku akui, penantian itu adalah penantian yang paling mendebarkan buatku. Betapa bergetar dada ini selama menunggu hasil dari penanganan dan perawatan yang dilakukan terhadap Alam.

Aku menyempatkan diri untuk pergi ke musala rumah sakit dan hendak melakukan salat magrib karena jam sudah menunjukkan pukul enam. Selepas salat, aku tak henti-hentinya mendoakan keselamatan bagi Alam, suamiku tercinta yang kini kondisinya sedang kritis. Sekelebat, aku jadi teringat ucapan Alam pada satu waktu yang mengatakan bahwa seburuk apa pun ujian yang dialami oleh manusia, tak lain itu adalah rencana terhebat Tuhan untuk kebaikan manusia jua, walaupun yang dalam logika manusia mungkin akan sangat tidak masuk akal. Tetapi, kita harus selalu sedia untuk menerimanya. Jika bukan pada Tuhan kita berpasrah dan berserah diri, pada apalagi kita akan bersandar?

Aku menjadi sedikit lebih tenang setelah melakukan salat dan menyerahkan semuanya terhadap Yang Maha Kuasa. Apa pun hasilnya, itu pasti yang terbaik untukku, juga untuk Alam.

Sudah tiga jam Alam di dalam ruangan itu dan tidak ada satu orang pun baik yang keluar maupun masuk dari sana. Sampai pada satu waktu, salah seorang dokter keluar sambil masih mengenakan beberapa peralatan medis yang melekat di tubuhnya. Kami semua langsung menghampirinya, aku yang paling pertama menghadapnya.

"Bagaimana hasilnya, Dok?" tanyaku.

Sang dokter masih terdiam dan terlihat menghela napas sebentar sebelum akhirnya berujar dengan nada yang parau.

"Tuhan lebih menyayangi suami Ibu. Kami tidak bisa berbuat banyak."

Mendengar kalimat itu, seketika air mata mengucur deras di wajahku. Hancur lebur semua yang ada di dalam diriku. Hilang kesadaranku saat menyadari bahwa kini, Alam telah tiada.

***

Dan, itulah kisah tentang kehidupanku selama beberapa tahun ke belakang hingga akhirnya bertemu dengan Alam. Seseorang yang begitu aku cintai. Makhluk yang membuat seluruh hidupku menjadi menarik dan berwarna. Sosok gila yang sulit didefinisikan. Alam itu, segala sesuatu yang menyenangkan, bagiku.

Malam ini, jam sudah menunjukkan pukul 11 lewat di tanggal 28 Agustus 2017. Tepat hari ini, aku dan Alam telah satu tahun menikah. Dan tepat di rumah ini juga kami melangsungkan pernikahan. Adapun kandungan di dalam perutku ini kira-kira sudah menyentuh angka lima bulan. Empat bulan lagi aku akan menjadi seorang ibu. Aku sudah tidak sabar.

Di sini, di dalam kamar ini, Sid Vicious dan Gusdur tampak sangat setia menemaniku dari dinding kamar. Di kamar lain, suara Rena, bapak dan ibu sudah dibunuh malam. Sementara Alam, sudah tertidur sejak beberapa bulan yang lalu. Ia tidak pernah bercerita tentang rencananya pergi menyusul orangtuanya itu.

Tragedi itu begitu menyakitkan. Pasalnya, bukan hanya harus kehilangan Alam. Tetapi, pelaku dari penembakkan itu juga adalah orang yang sangat aku kenal. Tidak lain, orang itu adalah Pras. Ia menggunakan popor milik ayahnya sendiri yang dulu ia benci untuk merealisasikan aksinya. Satu hal yang selama ini baru aku pahami, seperti juga Tejo, Pras begitu mencintaiku. Bahkan sejak putus dengan Santi. Ia sangat tertutup perihal itu.

Kehilangan Alam sangat menyadarkanku, bahwa semasa hidupnya, Alam selalu berusaha untuk menutupi segala permasalahannya dan segala keruwetan dalam hidupnya demi orang lain, demi orang yang ia cintai. Alam mengajarkanku ihwal cinta dan hal-hal lain yang melekat dalam kata itu tapi justru sangat jauh dari makna cinta sebenarnya. Bahwa cinta, bukan hanya tentang keinginan pribadi, bukan hanya kepemilikan sesaat, bukan hanya tentang pengorbanan, ia jauh lebih dari itu. Cinta adalah, sesuatu yang kadang-kadang, merongrong nalar kita sendiri. Cinta selalu memiliki konsekuensi yang lebih besar daripada kebahagiaan itu sendiri. Dan karena cinta juga lah, manusia selalu merasa lebih kuat daripada permasalahannya sendiri.

TAMAT.