Syihab Malik
Syihab Malik Mahasiswa

Bogor-Bandung

Selanjutnya

Tutup

Novel Pilihan

Alam dan Raya [20. Spanduk Warung]

3 Juli 2018   15:57 Diperbarui: 7 Juli 2018   16:11 1100 0 0
Alam dan Raya [20. Spanduk Warung]
ilustrasi (pribadi)

Bagian Sebelumnya

Melihat bahwa kini dua sahabat sekaligus guru buatku itu sudah menikah  dan resmi menjadi sepasang suami istri merupakan kabar bahagia yang tidak terduga sama sekali. Orang-orang itu, dalam hal ini Mika dan Bang Pegy, sangat aku pahami betul karakternya, apalagi perihal percintaan. Tak ada yang menyangka kini mereka bisa hidup bersama meski terpaut perbedaan usia yang cukup jauh, tetapi itu bukanlah suatu alasan untuk menegasikan cinta di antara keduanya.

Aku sendiri masih tidak menyangka dengan seluruh kejadian yang terjadi di hidupku. Semuanya benar-benar di luar rasioku. Kalau ada seseorang yang ditanya ihwal siapa yang paling senang dan bahagia di dunia ini, itu pasti adalah aku. Walaupun mungkin itu terkesan berlebihan. Tetapi, tidak ada yang berani mengatakan bahwa perihal hati itu berlebihan. Manusia yang memiliki perasaan pasti tidak pernah merasa berlebihan terhadap apa yang dirasakannya.

Semuanya sudah sangat berubah kini. Aku hidup bahagia bersama Alam dan akhirnya bisa berdamai dengan masa laluku. Kalau boleh memilih, aku rasa ini adalah periode terbaik dalam hidupku sejauh ini. Dan hanya dengan bersyukurlah aku bisa mengontrol segala kebahagiaan yang meledak-ledak di dalam diriku ini.

Tidak terasa, pernikahan aku dan Alam sudah akan menyentuh angka satu tahun. Dan momen yang paling ditunggu-tunggu oleh sepasang suami istri adalah perihal keturunannya. Alhamdulillah, kini aku sedang mengandung seorang janin yang diperkirakan sudah berusia tiga bulan. Ini merupakan kebahagiaan yang sama sekali tidak bisa diutarakan dalam konteks apa pun. Setiap orang tua pasti merasakan hal yang sama dengan diriku.

Pagi itu, seperti biasanya Alam sudah bersiap-siap akan bergegas ke tempat kerjanya. Alam tidak pernah berniat untuk membeli kendaraan pribadi. Katanya, lebih baik naik angkutan umum biar bisa berbincang-bincang dengan sang sopir walaupun itu hanya sekadar mengucap kiri atau semacamnya. Dan agar bisa merayu ibu-ibu yang naik angkutan bersama dirinya. Begitu menurut penjelasan Alam.

Pernah dia bercerita padaku satu waktu, "Tahu enggak tadi di angkot saya ketemu sama bapak-bapak, terus saya tanya, bapak lagi mikirin Raya ya? Terus dia geleng-geleng kepala sambil kebingungan sendiri."

"Terus kamu jawab apa?"

"Ya...saya bilang terima kasih. Terus saya ongkosin dia. Dia hebat masih setia sama istrinya. Eh...tapi enggak tahu juga sih udah punya istri apa belum. Tapi ya seenggaknya dia enggak mikirin istri orang lah."

Dia juga pernah berkisah padaku beberapa waktu lalu, "Tadi di toko saya kasih kue gratis ke salah satu pelanggan."

"Dalam rangka apa?"

"Dia saya kagetin dari balik pintu pas mau masuk. Anehnya dia enggak kaget. Yaudah saya kasih gratis gara-gara keahliannya itu."

Aku hanya tertawa saja mendengar cerita-ceritanya. Bagaimana tidak, toko kuenya itu kan hanya ditutupi kaca tembus pandang yang sudah barang tentu akan ketahuan jika hendak mengagetkan seseorang dari dalam.

"Saya pergi dulu ya," katanya pagi itu sebelum berangkat kerja.

Tetapi ia selalu menolak untuk dicium tangannya ketika hendak berangkat. Atau dicium bagian lain dari tubuhnya. Kata Alam kalau dicium dulu sebelum berangkat kerja nanti khawatir tertukar dengan pasangan-pasangan lain yang juga melakukan hal seperti itu. Katanya, bisa saja ia nanti malah pulang ke rumah tetangga kami yang juga mencium tangan suaminya dulu sebelum berangkat. Alam tidak mau hal itu terjadi. Lagi pula, Alam bilang bahwa ciuman itu tidak baik. Tidak baik jika dilakukan di tempat terbuka. Katanya paling enak kalau di tempat tertutup, dan aku bisa dengan sepuasnya mencium bagian mana pun dari tubuhnya. Aku cengar-cengir sendiri mendengar penjelasannya.

"Iya...hati-hati ya," jawabku.

Ia lalu mengambil krim obat alergi di etalase warung kami dan memberikannya padaku.

"Buat apa?"

"Bukan buat kamu, tapi buat dia," katanya sambil menunjuk perutku.

Ia kemudian berbisik ke arah perutku, "Nanti, kalau ada yang gangguin ibu, oles aja mukanya pakai krim ini. Biar enggak kegatalan!"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3