Syihab Malik
Syihab Malik Mahasiswa

Bogor-Bandung

Selanjutnya

Tutup

Novel Pilihan

Alam dan Raya [13. Ember]

14 Juni 2018   05:04 Diperbarui: 21 Juni 2018   10:10 499 2 1
Alam dan Raya [13. Ember]
ilustrasi (pribadi)

Bagian Sebelumnya

Ini sudah bulan Agustus. Itu tandanya, ini sudah bulan ketiga aku tidak lagi bertemu dengan Bang Pegy, Mika, dan juga temannya yang satu itu. Lamat-lamat aku mulai bisa melupakan dirinya. Walaupun terkadang ada beberapa momen yang mengingatkanku pada sosoknya, seperti ketika aku sedang kesepian dan tidak ada seseorang atau sesuatu yang bisa menghiburku, aku selalu teringat akan dirinya.

Ternyata, sesulit ini melupakan sesuatu yang dulu kita puja-puja. Lebih sulit lagi, berusaha untuk memutarbalikkan perasaan kita sendiri yang sebenarnya tidak akan pernah bisa kita lakukan walau dengan upaya apa pun. Jujur aku membenci Alam dengan logikaku, bukan betul-betul dengan perasaanku sendiri. Buktinya aku masih sering mengingatnya. Hanya kebiasaan-kebiasaan baru lah yang lambat laun bisa meredam ingatan-ingatan itu. Walau barangkali tidak akan sepenuhnya hilang. Tetapi aku percaya itu. Aku pasti bisa melupakannya.

Sebuah rumah kecil menjadi markas baruku dan teman-teman yang lain di Bogor. Kami sudah sebulan lebih pindah ke sini setelah sebelumnya hidup di base camp yang hanya bermodalkan kardus. Jarak rumah ini tidak terlalu jauh dengan jalan raya dan posisinya berada di tengah-tengah masyarakat. Di rumah itu juga, kami hidup rukun dan damai dengan para tetangga sekitar yang didominasi oleh bukan penduduk asli Bogor itu sendiri. Maklum karena banyaknya para pendatang yang hidup dan bekerja di sini. Aku rasa Bogor sedikit banyaknya menggambarkan potret keragaman masyarakat Indonesia.

Aku sedang membuat kopi di dalam rumah itu ketika seorang teman berteriak memanggilku, katanya ada temanku yang ingin bertemu. Dia bilang itu teman lamaku dulu. Teman lama?! Dalam hati aku menggumam. Dan betapa terkejutnya aku ketika mendapati Mika dan Bang Pegy sudah berdiri di depan pintu rumah. Aku langsung memeluk mereka ketika mengetahui bahwa itu adalah sahabat lamaku yang begitu berjasa dalam kehidupanku selama ini.

"Ini dia anak t-rex yang pergi ninggalin kita enggak bilang-bilang, Bang!" kata Mika kepada Bang Pegy yang sebetulnya sedang nyinyir padaku.

"Ha ha ha. Sorry...sorry. Gua enggak izin dulu waktu itu, Bang, Mik."

"Kita bakal maafin lu, tapi ada syaratnya," kata bang Pegy menawar.

"Hah, kok pakai syarat segala sih, Bang?" tanyaku.

Bang Pegy dan Mika hanya manggut-manggut.

"Apa memang syaratnya?" lanjutku.

"Tuh liat ke belakang!" kata Mika.

Tiba-tiba Alam muncul dari dalam rumah yang entah bagaimana caranya ia sudah ada di sana. Mood-ku langsung berubah seketika setelah melihat sosoknya.

Alam menyalamiku dan aku membalasnya seraya menunjukkan muka penuh penolakan.

"Masih marahan ya?" kata Mika mengejek.

"Kayanya sih begitu, Mik," kali ini Bang Pegy ikut-ikutan.

"Apaan sih?! Gua enggak marah kok,"

"Alah ngeles aja nih cucunya Sid Vicious. Dengarin dulu dia mau ngomong tuh," lanjut Bang Pegy.

"Mau ngomong apa lagi sih, kan semuanya udah jelas?!" aku menolak.

"Intinya sekarang lu dengarin dia dulu. Kalau enggak kita berdua enggak akan maafin lu nih?!" ancam Bang Pegy.

"Oke deh oke. Cepat mau ngomong apa lagi?!" tanyaku ketus pada lelaki itu.

"Ray..." katanya.

"Ya udah cepat mau ngomong apa?! Enggak usah basa-basi segala!" aku semakin muak melihat wajahnya.

"Saya...enggak cinta sama kamu."

Dia mengulangi kalimat yang sama yang diucapkannya di malam itu. Maksudnya apa ia bilang begitu lagi?! Supaya orang-orang tahu begitu?!

Tak lama ia kemudian melanjutkan, "Saya enggak cinta sama kamu. Saya cintanya sama Allah. Pencipta alam raya ini. Dan Dia bilang saya harus pacarin kamu. Tapi nanti setelah kita menikah. Kamu mau enggak jadi istri saya?"

"APA?!!! ISTRI?!!!" aku kaget setengah mati mendengar ia mengucapkan kalimat itu. Ia pasti sedang bercanda supaya aku mau memaafkan dirinya lagi.

Sementara itu Mika dan Bang Pegy hanya menyaksikan kami seraya terkekeh-kekeh. Tampaknya mereka sedang mengejek kami berdua.

"Iya jadi istri, Ray. Kita menikah dan setelah itu baru pacaran. Gimana? Nanti kita undang komandan laut juga deh," katanya.

"Sama nyamuk juga, terus kadal, terus kecoak, terus citah, terus landak, terus ibu warung kopi yang dulu pertama kali kita ketemu di Jogja kalau perlu diundang juga," sambungnya lagi.

"Udah terima aja, Ray," ejek Mika.

"Iya udah terima aja. Enggak usah malu-malu segala," Bang Pegy lagi-lagi ikut-ikutan.

Aku tak tahu harus menjawab apa. Campur aduk perasaanku ketika itu. Aku pikir dia hanya mau minta maaf atas kejadian di atas jembatan beberapa bulan yang lalu. Ternyata ia sedang mengajakku untuk menikah. Iya benar menikah. Tak pernah aku memikirkan hal itu sebelumnya. Jika saja Tomi ada di sini, aku persilakan ia untuk memukulku sepuasnya hingga aku tersadar dari semua kepalsuan ini. Tapi ini nyata. Nyata senyata-nyatanya. Aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Air mata menitik di pipiku.

"Kalau kamu mau jadi istri saya, nanti saya berubah jadi ember," kata Alam.

"Hah, kok ember sih, Lam?" Mika bingung.

"Biar kalau nanti Raya nangis air matanya saya tampung. Supaya orang lain enggak ada yang tahu kalau istri saya lagi nangis. Dan cuma saya sama Allah yang tahu."

"Tuh lihat sekarang aja udah nangis kan? Tapi sekarang masih saya bolehin Mika sama Bang Pegy lihat, kalau nanti enggak boleh ya. Tapi sebentar, itu air mata benaran atau cuma air ludah yang dibuang lewat mata?" lanjut Alam seraya bertanya padaku.

"Ha ha ha ha ha," tawa meletup di mulut kami semua.

"Saya akan selalu pulang sama kamu, Ray," kata Alam lagi.

"Pulang?!" kali ini aku bingung dengan ucapannya.

"Betul. Saya akan selalu pulang sama kamu. Karena, bagi saya, kepulangan selalu terasa lebih cepat dan menyenangkan dibanding keberangkatan. Jelas?!"

Aku memeluk dirinya.

Setelah sekian lama tak mendengar celoteh-celotehnya lagi, hari itu aku benar-benar dibuat melayang sejadi-jadinya. Tak tahu lagi aku harus berkata apa. Ternyata aku tidak bisa memalsukan perasaanku sendiri seperti yang selama ini aku upayakan. Individu mana yang berhasil memenangkan logika atas perasaannya sendiri?!

Aku mencintai dia. Dan selalu mencintainya. Seberapa pun aku berusaha untuk membencinya. Aku akan tetap mencintainya. Dan tentu saja aku tidak mungkin untuk melewatkan tawaran ini. Aku menerimanya. Dengan senang hati.

Bagian Selanjutnya