Syihab Malik
Syihab Malik Mahasiswa

Bogor-Bandung

Selanjutnya

Tutup

Novel

Alam dan Raya [12. Tomi dan Risa]

13 Juni 2018   01:11 Diperbarui: 14 Juni 2018   05:07 920 2 0
Alam dan Raya [12. Tomi dan Risa]
ilustrasi (pribadi)

Bagian Sebelumnya

Setelah pada malam itu aku dibuat seperti orang yang tak lagi bernyawa, aku menjadi benar-benar enggan untuk bertemu lagi dengan sosok yang berhasil mengoyak perasaanku itu. Aku betul-betul menjadi sangat rapuh dan rasanya tak memiliki maruah lagi. Luput semua gairah dalam hidupku. Dan aku sangat sulit untuk memaafkan kejadian seperti itu.

Bagiku sendiri, satu-satunya cara untuk memaafkannya adalah dengan meninggalkannya. Karena dengan bertemu dan berinteraksi lagi dengannya, hanya akan merajut kain yang tidak akan pernah bisa menampung air mataku lagi walau bagaimanapun caranya. Aku berusaha untuk melupakannya dan menghapus semua narasi yang pernah aku buat bersamanya.

Aku sangat kesal. Kesal terhadap diriku sendiri. Kenapa aku tidak menanyakan hal itu sedari dulu? Kenapa baru sekarang dan ketika sudah sedalam ini? Aku juga lupa untuk sepenuhnya bersiap nyaman. Nyaman jika aku harus merasa sakit seperti ini. Tapi siapa yang mampu merasa nyaman dalam keadaan seperti ini?! Dengan berat hati, aku harus pergi meninggalkan Alam, berikut Mika dan juga Bang Pegy. Karena aku yakin, ia tidak akan mungkin pergi meninggalkan aku, Bang Pegy dan juga Mika. Itulah sebabnya aku yang memutuskan untuk pergi meninggalkan mereka.

Aku memilih untuk kembali ke Bogor, kota kelahiranku sendiri. Selain karena jaraknya yang tidak begitu jauh dari Bekasi, di sini juga banyak teman-teman punk yang dulu aku kenal ketika pertama kali Pras mengajakku bergabung. Walaupun kembali ke Bogor juga hanya akan membuatku menjadi mengingat luka lama yang dulu pernah aku rasakan bersama kedua orangtuaku, tetapi ini adalah hal yang paling mungkin aku lakukan sejauh ini.

Tepat pada malam itu juga, aku langsung pergi meninggalkan Bekasi menuju Bogor dengan menaiki angkutan umum seorang diri. Air mata tak henti-hentinya terjatuh selama di perjalanan. Untungnya, hari sudah begitu larut dan tidak terlalu banyak penumpang. Jadi tidak terlalu banyak juga yang memerhatikan diriku. Seorang perempuan punk yang naik angkutan umum seorang diri dengan air mata mengucur di matanya. Tapi, inilah aku. Tak pernah bisa berpura-pura pada keadaan.

Di Bogor, ada Tomi yang menyambutku. Ia adalah teman Pras yang kemudian dikenalkan padaku dulu. Sudah lima tahun lebih aku tak bertemu dengannya lagi. Ia masih tetap sama. Selalu memakai celana pendek dengan kaus kaki panjang warna-warni dan boots cepernya. Dan kelihatannya kini ia menjadi yang paling tua di sini karena tidak aku lihat teman-teman yang dulu aku kenal selain dirinya.

Ada banyak anak punk yang aku temui di Bogor, dan tampaknya mereka semua adalah para anak punk yang masih baru bergabung. Setidaknya setelah aku pergi meninggalkan Bogor lima tahun silam. Pasalnya, terlihat dari perawakan dan juga air mukanya yang begitu asing buatku. Tetapi, bagiku itu bukanlah merupakan sesuatu yang sama sekali bisa dijadikan alasan untuk menindas dan mendiskriminasi mereka semua. Karena di sini, kami tidak pernah membeda-bedakan siapa pun. Apalagi merasa lebih superior dari yang lainnya.

Aku tidak pernah menceritakan masa laluku kepada Tomi atau teman yang lainnya selama di Bogor. Walaupun terhitung sudah hampir satu bulan aku berada  di sini, tetapi tidak ada satu orang pun yang tahu tentang kisahku dulu dan mereka juga tidak pernah menanyakan hal itu padaku. Di Bogor, aku bergaul dengan Tomi dan beberapa temannya. 

Tetapi, harus aku akui bahwa kedekatan aku dengan Tomi dan teman lainnya adalah kedekatan yang sama sekali berbeda ketika aku bergaul dengan teman-temanku dulu yang kini entah di mana.

Ada hal yang tidak aku suka dari Tomi, ia sering sekali mabuk-mabukan dan kadang mencekoki para anak punk yang baru bergabung. Aku pikir punk tidak seperti itu. Ia boleh saja mabuk-mabuk sesukanya, tetapi memaksa orang lain untuk berbuat seperti dirinya adalah hal yang sama sekali bertentangan dengan prinsip kebebasan punk.

Malam itu seperti biasa aku tidur di base camp sebagaimana sebelum-sebelumnya. Ketika hendak tertidur, tiba-tiba ada Risa mendekat padaku seraya menyeka air matanya dan memeluk tubuhku. Risa adalah temanku di sini yang katanya baru mengenal punk sejak satu tahun yang lalu. Aku dibuat terkejut dan benar-benar marah ketika ia datang dan bercerita bahwa selama ini ia sering ditiduri dan dicekoki oleh Tomi. Tidak kurang sudah dua bulan ke belakang ia sering dipaksa oleh Tomi untuk mendampinginya tidur dan memuaskan nafsunya. Malam itu aku langsung menghadap Tomi.

"Tom, lu apain Risa selama ini?!" kataku pada Tomi dengan nada membentak.

Sementara Risa hanya menangis di sampingku. Teman-teman yang lain datang mengerubuti menyaksikan pemandangan itu. Waktu itu Tomi sedang duduk berkumpul dengan temannya yang lain.

"Santai, Ray. Maksud lu apa datang-datang marah begitu sama gua?" jawab Tomi.

"Enggak usah sok bego deh lu! Ini si Risa sering lu tidurin dan cekokin kan?"

Tomi tidak menjawab. Teman-teman yang lain juga hanya diam dan bingung menyaksikan adegan itu.

"Kalau iya memangnya kenapa?!" Tomi menantangku.

Aku tak tahan melihat rahangnya dengan enteng mengucapkan kalimat itu.

"Bangsat lu, Tom!" kemudian aku menghajar mukanya. Tapi sayang pukulanku meleset dan kemudian dipisahkan oleh teman-teman yang datang menyaksikan. Risa masih terus menangis, kali ini air matanya menjadi lebih deras.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2