Syihab Malik
Syihab Malik Mahasiswa

Bogor-Bandung

Selanjutnya

Tutup

Novel Pilihan

Alam dan Raya [11. Jembatan]

12 Juni 2018   01:07 Diperbarui: 13 Juni 2018   01:02 1046 2 0
Alam dan Raya [11. Jembatan]
ilustrasi (pribadi)

Bagian Sebelumnya

Waktu terus berlalu dan kami tetap bersama. Setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik. Dan setiap udara yang kami hirup adalah udara yang sama yang jaraknya tidak begitu jauh. Kami sungguh begitu dekat. Aku, Mika, Bang Pegy dan Alam sudah seperti bayi kembar empat yang hidupnya tak bisa dipisahkan.

Bang Pegy tak pernah berubah dengan kedewasaannya. Mika tetap tegas dan berani. Adapun Alam tetap menjadi Alam sebagaimana biasanya ditambah hobi barunya pergi ke masjid yang belakangan juga terlihat sering menghadiri ceramah-ceramah di daerah mana pun itu ketika kami berada. Walaupun beberapa kali Alam sempat mengajak kami dengan cara-caranya yang tidak memaksa, tetapi aku, Mika dan Bang Pegy belum pernah ikut menghadiri acara-acara dakwah itu sama sekali.

Hari itu aku sedang ingin sendirian. Aku memilih untuk pergi ke sebuah jembatan yang memanjang di atas sungai di daerah Bekasi ini. Di Bekasi, kami tinggal dan bermalam di tempat Mika biasa berkumpul bersama teman-teman lamanya karena dia lahir dan lama tinggal di sini. Jembatan ini jaraknya tidak begitu jauh dari base camp tempat biasa kami berkumpul.

Ketika sedang asyik-asyiknya duduk menatapi langit malam, Alam kemudian muncul menghampiriku. Ia sepertinya baru pulang menghadiri acara dakwah karena sedari sore tidak kelihatan batang hidungnya.

"Jangan bunuh diri di sini, susah ngangkut mayatnya nanti!" tanpa basa-basi ia langsung berkata seperti itu.

"Ha ha ha. Siapa yang mau bunuh diri?"

"Kamu."

"Enggak kok."

"Oh masih simulasi?"

"Enggak ih enggak mau bunuh diri. Gua masih pengen hidup."

"Yah...kenapa enggak pengen bunuh diri?" katanya tampak sedikit kecewa.

"Ha ha ha. Sialan lu! Nanti sedih lagi kalau gua mati?"

"Kalau yang lain sedih, saya ikutan sedih deh."

"Kenapa begitu?"

"Ya...biar enggak disangka peduli sendirian doang. He he he."

"Berarti enggak peduli dong kalau begitu?"

"Peduli. Tapi kalau lagi mau."

"Kok kalau lagi mau?"

"Iya betul kalau lagi mau. Kemauan saya ini kan tinggi dan stabil. Hampir setiap hari lah. Jadi hampir setiap hari juga saya peduli."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3