Syihab Malik
Syihab Malik Mahasiswa

Bogor-Bandung

Selanjutnya

Tutup

Novel Pilihan

Alam dan Raya [10. Gedung Kosong]

11 Juni 2018   00:00 Diperbarui: 12 Juni 2018   01:21 528 2 0
Alam dan Raya [10. Gedung Kosong]
ilustrasi (pribadi)

Bagian Sebelumnya

Rasanya semua telah berbeda dan seperti ada yang hilang pasca kepergian Dudi, Tejo ditambah Pras yang tidak terasa sudah satu bulan lamanya sejak tragedi penangkapannya di Garut. Kini kami hanya tinggal berempat. Aku, Mika, Bang Pegy dan juga Alam. Untung saja, masih ada Alam yang selalu mencairkan suasana dan tak henti-hentinya membuat kami semua terbahak-bahak oleh tingkahnya. Ia sangat mengisi kekosongan yang aku, Mika dan Bang Pegy rasakan.

Aku dan Alam pun menjadi semakin dekat. Sudah tak terhitung berapa kali kami menghabiskan waktu berdua dan melewati berbagai hal dengan kekonyolan-kekonyolan yang kami perbuat. Tetapi, ada yang berbeda dari Alam akhir-akhir ini. Aku, Mika dan Bang Pegy bisa merasakan hal itu. Bukan tingkah konyolnya yang berubah atau berkurang sedikit pun, karena itu sepertinya sudah menjadi watak dalam dirinya yang tidak bisa ia ubah dengan cara apa pun.

Belakangan ini, Alam menjadi sering pergi ke masjid. Kami tak tahu apa yang ia lakukan di sana. Satu-satunya kemungkinan yang ada adalah bahwa ia hendak menunaikan salat di masjid-masjid itu. Walaupun bisa saja ia cuma menumpang tidur di sana, tetapi itu tidak mungkin. Karena nyatanya bila azan sudah mulai terdengar, ia pasti akan langsung bergegas meninggalkan kami dan pergi ke masjid-masjid terdekat.

Aku, Mika dan Bang Pegy awalnya agak sedikit heran dan bingung dengan kebiasaannya yang baru itu. Tetapi, bagi kami, selama itu tidak mengganggu hubungan kami dan melunturkan rasa solidaritasnya terhadap kami, kami tak pernah melarangnya. Lagi pula, esensi yang selama ini kami usung adalah kebebasan, bukan pengekangan, apalagi pembatasan terhadap individu-individu dalam melakukan sesuatu sesuai dengan keyakinannya. Alam pun kini menjadi lebih religius, tetapi tetap bergaul dan berpenampilan seperti kami. Dan kami rasa, tidak ada yang salah dengan itu.

Sore akan segera jatuh, matahari sudah mulai menurunkan eksistensinya dan suara azan kemudian berkumandang ketika kami sedang berkumpul di atas sebuah gedung kosong. Hari menunjukkan pukul 3 lewat. Dan burung-burung mondar-mandir di atas kepala kami.

"Teman-teman, udah azan nih, salat kayanya seru deh!" ajak Alam.

Aku, Mika dan Bang Pegy saling berpandangan. Terkejut dengan apa yang ia ucapkan. Aku menggumam dalam hati, bukankah salat adalah upacara yang penuh kesakralan? Tapi kok Alam bilang seru? Kami sangat terheran-heran.

"Enggak, Lam. Lu aja, gua malas," jawab Bang Pegy.

"Oke, Bang. Mika sama Raya gimana?" tawar Alam.

Aku dan Mika juga menolak dan hanya menggelengkan kepala.

"Gua lupa bacaannya, Lam. Lu aja!" kali ini Mika berujar.

"Sementara pakai Bahasa Indonesia dulu aja, Mik. Nanti baru pakai Bahasa Arab lagi. Gimana?" kata Alam kepada Mika.

"Hah, memangnya boleh ya?" Mika bertanya.

"Ya...enggak tahu juga sih. Tapi yang penting kan niatnya dulu, bacaannya belakangan, cuma masalah teknis."

"Enggak deh, Lam. Nanti aja, kalau udah ada niat," kata Mika sambil tersenyum.

"Oke deh kalau enggak pada mau. Saya salat di sini boleh ya?" kata Alam bertanya.

"Biasanya lu ke masjid?" tanya Bang Pegy.

"Masjidnya lumayan jauh dan saya harus turun dulu ke bawah gedung, Bang. Gimana boleh ya?"

"Tapi ini kan kotor?"

"Iya enggak apa-apa, Bang. Saya pakai sajadah nanti."

"Ya terserah lu deh, Lam. Mau salat di sini kek, mau tidur, mau salto, mau mandi, mau bakar api unggun. Kita enggak akan larang."

"He he he. Terima kasih, Bang."

"Enggak usah terima kasih sama gua, Lam! Gua enggak ngerasa nolongin lu kok. Punk itu bebas. Kecuali kalau lu nindas dan khianatin kita semua, itu urusannya lain lagi."

Tak berapa lama, Alam kemudian meninggalkan kami dan kembali dengan membawa sajadah juga sarung yang kini menutupi kakinya. Kami tak mengetahui ia mendapatkan semua itu dari mana. Ia tetap terlihat seperti seorang punkers dengan rambut mohawk-nya, jaket kulit penuh emblem, studs juga spike, dan baju Rancid-nya, yang berbeda hanya celana yang biasa ia kenakan kini telah berganti menjadi sarung. Kemudian, ia membuka bootsnya dan bersiap melakukan ritual suci itu. Kami bertiga ketawa-ketiwi melihatnya berpenampilan seperti itu.

"Ha ha ha. Enggak sekalian pakai baju koko sama peci, Lam?" Mika mengejek.

"Enggak, Mik. Biar masih kelihatan anak punk-nya!" ucap Alam sambil mengepalkan tangan dan menjulurkan lidahnya.

"Ha ha ha ha ha," kami serentak tertawa.

Sore itu, Alam melakukan salatnya di depan kami semua di atas gedung kosong ini. Belum selesai ia melakukan salat, hujan tiba-tiba turun tanpa memberi pertanda apa pun. Kami bertiga memutuskan untuk segera turun karena pasti akan kebasahan jika terus berada di sini. Melihat Alam yang masih melakukan salat, aku kemudian mendekatinya dan menyuruhnya untuk segera turun.

"Lam, ayo turun!" kataku.

Yang ditanya hanya diam tak menjawab dan tetap melanjutkan salatnya.

"Lam, udah di bawah aja lanjutinnya, sekarang kita turun dulu!"

Alam tetap tak menjawab.

"Dia enggak mau turun nih gimana?" aku bertanya pada Mika dan Bang Pegy. Mika dan Bang Pegy terlihat bingung dan tak menjawab apa pun.

Kemudian Bang Pegy pergi ke sisi sudut dan mengambil selembar kayu tripleks bekas berukuran lumayan besar.

"Buat apa, Bang?" tanyaku.

"Kita tutupin Alam dulu sebentar pakai ini, biar dia enggak kehujanan," kata Bang Pegy seraya menunjuk kayu tripleks yang digenggamnya.

"Sambil nunggu salatnya selesai," lanjut Bang Pegy sembari memosisikan kayu tripleks itu ke atas kepala Alam. Aku dan Mika langsung menolong Bang Pegy dan menuruti arahannya.

Di atas gedung kosong, kami berempat berlindung dari hujan yang turun deras sore ini dengan menggunakan sebuah kayu tripleks bekas yang kira-kira berukuran 1,5 x 2,5 meter. Dan Alam, tetap melanjutkan salatnya hingga usai dan dengan penuh kekhidmatan. Dari dekat, Alam kelihatan lebih keren ketika dalam posisi seperti itu. Aku terus memerhatikannya sambil mesem-mesem sendiri.

Bagian Selanjutnya