Syihab Malik
Syihab Malik Mahasiswa

Bogor-Bandung

Selanjutnya

Tutup

Novel Pilihan

Alam dan Raya [9. Tahun Baru]

10 Juni 2018   00:12 Diperbarui: 11 Juni 2018   00:23 1097 2 1
Alam dan Raya [9. Tahun Baru]
ilustrasi (pribadi)

Bagian Sebelumnya

Kami sudah berada di Garut sejak satu minggu yang lalu. Setelah kegiatan terakhir kami di yayasan panti asuhan itu, kami memutuskan untuk langsung ke sini atas usulan Pras karena katanya dia ingin bertemu dengan kawan lamanya yang kini berada di Garut. Mendengar usulan Pras tersebut kami pun pada akhirnya memilih Garut sebagai pelabuhan selanjutnya karena kebetulan kami juga belum pernah ke sini sebelumnya.

Selama di Garut, kami sehari-hari tinggal di sebuah terminal bersama beberapa anak punk lainnya yang ada di sini. Kami juga bergaul dengan para sopir, preman, calo, dan orang-orang yang ada di terminal. Sesekali kami mencari uang dengan mengamen di bis yang sedang mengetem dan hendak berangkat meninggalkan terminal. Hasilnya tentu saja untuk beli makan dan kadang beli rokok, kalau tidak begitu mungkin kami akan mati kelaparan. Dan selama di sini pula, Mika dan Alam yang paling sering mengamen di antara kami berlima. Kalau Tejo masih bergabung bersama kami, mungkin dia yang paling giat untuk mengamen.

Nanti malam tahun sudah akan berganti. Tidak terasa 2016 sudah di depan mata dan siap memeluk kami semua juga manusia lainnya di bumi ini. Walaupun kami masih belum mengetahui pelukan apa yang akan dilakukan olehnya, kami harap tentunya pelukan yang hangat dan membahagiakan, tetapi harus kami sadari juga bahwa tidak semua pelukan menyenangkan. Boleh jadi pelukan yang begitu erat hingga kami lupa caranya bergerak dan bernapas. Apa pun itu, kami harus tetap bersikap optimistis.

Bagiku sendiri, satu-satunya resolusi yang aku punya untuk tahun 2016 adalah aku tidak berkeinginan untuk memiliki resolusi-resolusi lagi di tahun itu dan tahun-tahun berikutnya. Dari yang sudah-sudah, aku sangat membenci diriku sendiri yang tidak bisa menjalankan resolusi yang sudah aku buat. Barangkali, mungkin, sebelum-sebelumnya aku membuatnya secara tidak sadar dan hanya ikut-ikutan. Lagi pula, apalah artinya resolusi bagi anak punk seperti kami selain kebebasan itu sendiri.

Rencananya, malam ini kami tidak ingin ikut merayakan malam pergantian tahun seperti orang-orang lainnya. Kami menolak perayaan tahun baru karena kami rasa begitu banyak uang dan makanan yang dibuang secara cuma-cuma. Belum lagi sampah-sampah yang pasti akan menggunung setelahnya. Padahal mungkin kalau uang dan makanan itu dikumpulkan bisa untuk mencukupi seluruh kebutuhan masyarakat miskin minimal di Kabupaten Garut ini. Dan sudah barang tentu, tepat pada jam 12 nanti malam pasti kami akan menyaksikan uang-uang itu meledak dan hilang begitu saja di udara.

Malam harinya, Pras meminta izin untuk meninggalkan kami sebentar karena katanya dia harus pergi sendirian menemui kawan lama yang diceritakannya itu. Kami hanya bisa mengiyakan keinginannya tersebut. Sementara itu kami asyik berkumpul di terminal bersama teman-teman yang lain meski tanpa kehadiran Pras.

Kami semua sempat mencurigai Pras bahwasannya teman yang akan dia temui itu adalah seorang wanita. Karena jarang sekali Pras meminta izin untuk pergi sendirian walaupun cuma semalam. Dari gaya berbicaranya pada saat meminta izin pun ia agak sedikit gelagapan seperti orang yang sedang menutupi sesuatu. Tetapi, kami tidak mengetahui betul siapa temannya itu dan apa yang akan dilakukannya bersama temannya. Entah itu wanita atau pria. Ia tak pernah memberitahukannya kepada kami. Mungkin, ia cuma tidak ingin diganggu ketika dengan temannya itu.

Tahun sudah berganti, tetapi sejak malam tahun baru itu, Pras belum juga kembali ke sini. Padahal ia bilang cuma pergi sebentar dan akan kembali pada pagi harinya. Namun ini sudah lebih dari empat hari. Teman-teman yang ada di sini pun tak ada yang mengetahui keberadaannya. Kami semua jadi khawatir terhadap dirinya.

Siang itu, seorang teman datang dengan tergopoh-gopoh ketika kami sedang berkumpul. Ia seperti habis lari maraton mengelilingi pulau Jawa, Sumatera, dan Bali. Tapi itu pasti sesuatu yang tidak mungkin. Melihat dia datang dengan kondisi seperti itu, Bang Pegy lalu menghampirinya dan berbincang-bincang dengannya dalam Bahasa Sunda. Mereka berbincang cukup lama dan kami tidak mengetahui apa yang sedang mereka bicarakan.

"Ada apa, Bang?" tanya Mika pada Bang Pegy.

"Celaka!" yang ditanya menjawab.

"Celaka kenapa?"

Aku dan Alam hanya menyaksikan mereka berdua berbincang.

"Pras..."

"Pras kenapa, Bang?!" Mika semakin penasaran.

Aku dan Alam menjadi ikut penasaran setelah Bang Pegy menyebut nama Pras. Teman kami yang sudah empat hari pergi dan tidak ada kabar itu.

"Pras ditangkap polisi," kata Bang Pegy.

Kami saling berpandangan, tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Bang Pegy.

"Serius?!"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2