Syihab Malik
Syihab Malik Mahasiswa

Bogor-Bandung

Selanjutnya

Tutup

Novel Pilihan

Alam dan Raya [8. Permen]

9 Juni 2018   00:13 Diperbarui: 10 Juni 2018   00:07 1181 2 0
Alam dan Raya [8. Permen]
ilustrasi (pribadi)

Bagian Sebelumnya

Sudah dua bulan lebih kami tidak lagi bertemu dengan Tejo. Ia menghilang dan tak pernah kembali. Bahkan sekadar memberi kabar pun tidak. Kami beberapa kali mencoba untuk menghubunginya, tapi hal itu hanyalah sebuah kesia-siaan belaka. Tejo telah memutuskan seluruh koneksinya dengan kami.

Ia pergi seperti Dudi. Bedanya, Tejo pergi tanpa alasan. Atau persisnya, kami tak ada yang mengetahui alasan pastinya seperti apa. Tesis utama kami semua mengatakan bahwa dia tidak menyukai kehadiran Alam, entah karena apa. Alam bilang katanya mungkin Tejo tidak menyukai dirinya karena Alam sering mandi tapi tak pernah kedengaran suara air jatuh, atau karena Alam suka meludah tapi ke dalam perutnya sendiri.

Katanya lagi, mungkin karena Tejo iri melihat Alam berteman sama nyamuk, sama tungau, sama kutu, dan hewan-hewan lainnya yang ia sebutkan. Dan terakhir, mungkin Tejo tidak suka jika melihat Alam sedang memarahi cecak yang sedang bercumbu di plafon ruangan karena kata Alam nanti bakal ditegur KPI karena tidak disensor. Tapi hal itu bukanlah alasan-alasan logis yang bisa kami terima. Maklum, Alam tak pernah benar-benar serius terhadap segala sesuatu. Mungkin serius, tetapi secara tidak serius. Intinya begitu.

Hari ini hari Rabu. Dan pada hari ini juga kami berlima-aku, Pras, Mika, Bang Pegy dan Alam-pergi menyambangi sebuah kegiatan sosial di daerah Surabaya. Kegiatan sosial ini berupa santunan terhadap anak-anak yatim piatu yang diadakan oleh sebuah komunitas punk di daerah Surabaya. Sekitar 20-an anak punk bergabung dalam kegiatan ini. Penerima santunan, dalam hal ini diwakili oleh pemilik yayasan panti asuhan, menyambut kami semua dengan hangat dan terbuka.

Acara dimulai pukul 4 sore hari dan diadakan di dalam yayasan. Yayasan itu sendiri berupa sebuah rumah dengan taman bermain dan beberapa ruangan yang lumayan besar. Adapun total anak yang ada di sini berjumlah sekitar 50-an lebih. Kami tidak mengetahui angka pastinya berapa. Yang terpenting, mereka semua kelihatan sangat senang dengan kedatangan kami ke sini.

Dua orang anak kecil dengan terampil dan lihai memandu jalannya acara. Mereka terlihat sangat menggemaskan dengan memakai baju-baju yang bernuansa muslim. Maklum karena yayasan tersebut adalah yayasan yang berbasis keagamaan dengan penerapan prinsip-prinsip keagamaan yang juga kuat dan kental.

Di dalam, kami semua duduk berdampingan bersama dengan mereka. Pemilik yayasan dan perwakilan dari komunitas sudah mengeluarkan sepatah dua patah katanya sebagai sambutan dalam acara itu. Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Quran oleh seorang anak kecil pria yang menggunakan baju koko dan peci. Suaranya sangat merdu dan membuat siapa saja yang mendengarnya pasti akan menggeleng-gelengkan kepala, tak percaya melihat anak sekecil itu memiliki suara yang begitu indah dan menyejukkan.

Itu pertama kalinya lagi aku mendengar lantunan ayat suci Al-Quran setelah hampir 5 tahun lamanya hidup di jalanan dan tak pernah menyentuh kitab itu sama sekali, apalagi melakukan sembahyang. Terakhir memakai mukena juga ketika beberapa bulan yang lalu bersama Alam, itu pun bukan untuk sembahyang betulan.

Tiba-tiba Alam keluar meninggalkan ruangan dan kami semua di sini. Aku berpikir mungkin ia sedang ingin merokok di luar sana. Lama tak kunjung kembali, aku ikut keluar untuk memastikan dirinya barangkali ia kabur, atau memanjat pohon, atau malah ikut main layangan bersama tetangga di sekitaran rumah ini, tapi itu cuma kecurigaanku saja. He he he.

Di luar, banyak sekali sepatu boots berjajaran menghiasi teras rumah yang dipenuhi oleh berbagai pot bunga dengan aneka macam tumbuhan. Ternyata Alam sedang duduk sendirian di sebuah ayunan yang berada di halaman rumah itu. Tetapi ia kelihatan tidak sedang merokok. Aku hanya melihat ia sedang melamun seorang diri.

"Kenapa enggak masuk lagi? Kan acaranya belum selesai?" tanyaku.

"Enggak ah, malu," katanya. Matanya terlihat sedikit sembab.

"Malu kenapa?"

"Malu sama anak kecil yang tadi ngaji. Suara dia bagus, saya enggak. He he he."

"Ia memang bagus banget suaranya. Gua juga sampai merinding dengarnya."

"Makanya saya ke sini, takut disuruh kaya dia, kan enggak bisa, belum latihan," katanya lagi sambil tertawa kecil.

"Oh...itu kenapa?" tanyaku sambil menunjuk matanya.

"Kenapa apanya?"

"Itu matanya sembab begitu. Kaya habis nangis."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3