Syihab Malik
Syihab Malik Mahasiswa

Bogor-Bandung

Selanjutnya

Tutup

Novel

Alam dan Raya [7. Matahari Pagi]

8 Juni 2018   00:37 Diperbarui: 9 Juni 2018   00:18 920 2 0
Alam dan Raya [7. Matahari Pagi]
ilustrasi (pribadi)

Bagian Sebelumnya

Hari masih begitu pagi. Dan matahari sudah menggeliat dari peraduannya. Langit juga sudah begitu menyala sempurna. Ada sekumpulan awan yang tak mau kalah eksis oleh burung-burung yang berseliweran di atas perairan yang membentang di hadapan mataku. Ada perahu-perahu nelayan yang hilir mudik. Ada satu dua pengunjung yang sedang mandi dengan air laut. Di sini, semuanya terasa begitu manis dan menyenangkan.

Dan juga, ada Alam yang terbaring lelap di sampingku. Setelah semalaman bercerita panjang lebar ke sana ke mari, ia akhirnya tidur juga. Tapi aku tidak tidur lagi, karena sudah terbangun sejak semalam. Dan karena aku harus memenuhi syarat-syarat yang diberikan oleh Alam dan komandan laut. Tapi siapa komandan laut itu sebenarnya? Aku tak peduli siapa pun dia. Yang penting, sekarang, aku harus menemani lautan. Tepatnya, menemani lautanku. He he he.

Dari arah belakang, seseorang tiba-tiba menghampiri kami berdua. Ia adalah Tejo. Tampaknya, cuma dirinya yang baru bangun. Karena aku tak melihat batang hidung Pras, Bang Pegy, apalagi Mika.

"Eh, lu udah bangun, Jo?" tanyaku pada Tejo.

Yang ditanya menjawab, "Iya, Ray. Tapi yang lain masih pada tidur."

Aku hanya mengangguk.

"Ray, cari makan yuk!" ajak Tejo.

"Lu duluan aja," aku menolak sambil tersenyum.

"Kenapa?"

"Tunggu yang lain bangun."

"Kalau begitu kita beliin buat mereka, gimana?"

"Enggak, Jo. Gua mau nungguin yang lain aja. Mau nungguin Alam juga. Nih masih tidur, lucu ya lagi tidur juga," ujarku sambil mesem-mesem dan menunjuk pria yang sedang terbaring di hamparan pasir itu.

"Udah, bangunin aja!"

"Jangan! Dia baru banget tidur. Kasihan."

Seketika Tejo mendekati Alam dan sepertinya akan membangunkannya. Aku kemudian bangun dan menahan badan Tejo.

"Jangan, Jo! Dia baru banget tidur, kasihan pasti capek!"

"Lu kenapa sih, Ray?"

"Kenapa apanya?"

"Ya...kenapa jadi begini?"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4