Syihab Malik
Syihab Malik Mahasiswa

Bogor-Bandung

Selanjutnya

Tutup

Novel

Alam dan Raya [6. Komandan Laut]

7 Juni 2018   00:19 Diperbarui: 8 Juni 2018   00:35 497 2 0
Alam dan Raya [6. Komandan Laut]
ilustrasi (pribadi)

Bagian Sebelumnya

Malamnya, kami memutuskan untuk tidur di sebuah warung di pinggir pantai yang sudah tutup dan tidak berpenghuni. Setelah seharian menyaksikan dan menikmati indahnya pemandangan di pantai ini, kami lelah dan akhirnya tertidur. Tetapi, aku sudah terbangun ketika hari masih gelap. Aku lihat Bang Pegy, Mika, Pras dan Tejo masih tertidur dengan begitu pulas.

Sementara itu, aku tidak melihat tubuh Alam meringkuk di sisi kami. Aku mencari-cari sosoknya, sejauh mata memandang hanya hamparan pasir dan laut yang aku lihat. Ditambah bulan yang berpijar cantik di udara. Kemudian, aku dikejutkan oleh sosok Alam yang ternyata sedang duduk sendirian di pinggir pantai. Sedang apa dia malam-malam begini di sana? Sendirian pula?

"Nemanin nyamuk lagi?" tanyaku yang menghampiri dirinya dan langsung duduk di sampingnya.

Ia menyadari kedatanganku, lalu memandangi wajahku sebentar sambil tersenyum, kemudian mengalihkan pandangannya lagi ke arah laut. "Enggak. Nyamuknya udah hidup sejahtera dan enggak mau berteman sama saya lagi."

"Duh, kasihan."

"Untung cuma nyamuk, bukan manusia."

"Kenapa kalau manusia?"

"Ya...kalau manusia kaya begitu kan enggak manusiawi jadinya. Cukup nyamuk aja yang enggak manusiawi. Eh, kok nyamuk enggak manusiawi? Dia kan binatang. Apa ya sebutan yang pantas?"

"Hmmm, nyamuksiawi?"

"Enggak enak didengarnya ah."

"Hewansiawi?"

"Apalagi itu!"

"Apa ya? Gua juga bingung."

"Ya udahlah lupain! Biarin nyamuk itu hidup bahagia sama lalat."

"Loh kok sama lalat?"

"Ya...bisa aja kan dia selingkuh sama lalat. Lagian sama-sama bisa terbang, jadi cocok."

Aku terkekeh-kekeh, "Kenapa belum tidur?"

"Soalnya belum merem."

"Kenapa belum merem?"

"Soalnya belum tidur."

"Kok dibalik-balik begitu?"

"Apanya?"

"Jawabannya."

"Oh...sengaja."

"Biar apa?"

"Biar kebalik."

Aku mesem-mesem lagi, "Kenapa di sini malam-malam begini?"

"Memang enggak boleh ya?"

"Ya...boleh sih, cuma kenapa enggak tidur kaya yang lain?"

"Soalnya enggak merem kaya yang lain."

"Ih malah diulang lagi!"

"Apanya?"

"Jawabannya."

"Pertanyaannya juga diulang lagi."

"Iya juga ya."

"Sekarang gantian."

"Gantian apanya?"

"Nanyanya."

"Nanya apa?"

"Kenapa kamu belum tidur? Belum merem? Enggak tidur? Enggak merem? Belum mimpi? Enggak mimpi kaya yang lain?"

Aku berpikir sejenak, "Hmmm...soalnya...tadi udah, terus kebangun."

"Oh...kenapa ke sini?"

"Memang enggak boleh ya?"

Ia terdiam sekejap, "Boleh. Tapi ada syaratnya."

"Apa?"

"Jangan tidur di sini!"

"Oke, gua tidur di sana," kataku sambil menunjuk warung tempat kami tidur, "tapi nanti kalau udah ngantuk lagi."

"Di sana juga jangan!"

"Kenapa?"

"Hmmm..." ia kelihatan sedang berpikir, "soalnya itu syarat yang kedua."

"Oke. Ada lagi?"

"Ada."

"Apa?"

"Ini syarat terakhir dan paling berat."

"Kenapa bisa begitu?"

"Soalnya syaratnya langsung dari komandan laut."

"Hah, komandan laut?!"

"Iya komandan laut."

Aku terheran dan menggerutu dalam hati memangnya ada ya komandan laut? Tapi ya sudahlah aku menerima saja.

"Apa memang syaratnya?" tanyaku lagi.

"Kata komandan laut, ini kata komandan laut loh ya, bukan kata saya, katanya jangan tinggalin laut sendirian."

"Maksudnya?"

"Ya, kamu harus temanin laut."

"Gua enggak ngerti."

"Intinya kamu harus temanin laut. Laut itu apa?"

"Hmmm...laut itu ya laut, airnya banyak, ada ombaknya."

"Jawaban klise! Selain itu?"

"Hmmm, laut...apa ya..." aku merenung sejenak, "laut...ya alam, kaya gunung, sawah, ladang, bukit. Pokoknya begitu deh!"

"Nah! Jadi syarat ketiganya itu kamu harus temanin laut. Temanin Alam ini. Sanggup?"

"Caranya?"

"Cuma duduk di sini aja."

"Oke kalau begitu gua sanggup."

"Oke, persyaratan diterima dan udah disanggupi," katanya yang terlihat sumringah.

Tak lama aku kemudian tersadar, "Hah?! Temanin Alam?"

"Iya, temanin Alam," katanya sambil menunjuk dirinya sendiri, "asyik...ada yang mau nemanin."

"Ha ha ha. Bilang dong kalau mau ditemanin."

"Bukan saya yang mau, tapi komandan laut."

"Iya deh iya komandan laut," jawabku seraya menyunggingkan senyum, padahal dalam hati menggumam, "Sialan! Gua dijebak."

"Lam, gua mau nanya, boleh?" ucapku lagi.

"Itu udah nanya."

"Maksudnya bukan pertanyaan yang ini."

"Oh...boleh dong. Tapi jangan susah-susah. Apalagi soal fisika terapan. Saya enggak ngerti."

"Serius ih bercanda melulu!"

"Serius saya enggak ngerti fisika terapan."

"Heuuu! Lu udah lama nge-punk? Ya...hidup bebas kaya gini lah?"

"Hmmm...nge-punk ya? Kayanya udah deh."

"Dari kapan?"

"Waktu revolusi Perancis."

"Tuh kan bercanda melulu!" jawabku jengkel.

"He he he. Dari kelas 1 SMP. Tahun berapa ya lupa? Kalau enggak salah sekitar 2006-an."

"Lama juga ya, udah 9 tahunan."

"Iya sekitar segituan."

"Dari kelas 1 SMP lu udah berhenti sekolah?"

"Kata siapa?"

"Kata gua barusan nanya."

"Enggak. Saya enggak berhenti sekolah."

"Nge-punk sambil sekolah?"

"Iya betul."

"Pulang sekolah langsung ke jalan?"

"Enggak. Pulang ke rumah."

"Oh...pulang dulu ke rumah begitu baru ke jalan?"

"Enggak juga, saya tetap di rumah."

"Kapan ke jalannya kalau begitu?"

"Baru 3 tahun ke belakang."

"Berarti sebelum itu lu belum jadi anak punk dong?"

"Kata siapa?"

"Kata gua lagi barusan nanya."

"Kan saya udah bilang, saya nge-punk dari kelas 1 SMP."

"Tapi lu diam di rumah dan enggak ke jalan?!"

"Memang punk harus kaya begitu ya? Harus ada peraturan-peraturannya? Enggak ada bedanya sama sistem kapital dong? Banyak aturannya, memaksa lagi!"

Aku diam sesaat dan tak bisa menjawab, aku jadi teringat Bang Pegy.

"Terus apa buktinya kalau lu udah nge-punk dari kelas 1 SMP?"

"Saya pernah nolongin anjing tetangga yang sekarat gara-gara dipukulin majikannya. Syukur dia enggak mati."

"Ha ha ha. Mana ada kaya begitu dibilang punk."

"Ya menurut saya sih punk, kan itu bentuk perlawanan terhadap penindasan. Penindasan sama binatang. Enggak adil dong yang kaya begitu?"

Aku diam lagi tak bisa menjawab. Lagi-lagi aku teringat Bang Pegy. Kali ini aku ingat yang Bang Pegy katakan bahwa punk adalah sikap bukan gaya.

Tak lama aku kemudian bertanya kembali, "Jadi, lu sekolah sampai lulus?"

"Iya. Tapi yang terakhir enggak."

"Maksudnya yang terakhir?"

"Dari SD sampai SMA lulus, cuma yang terakhir sampai semester 2 doang."

"Lu kuliah?"

Ia manggut-manggut.

"Di mana? Jurusan apa?"

"Di Jogja. Ngambil Sastra."

"Oh...kenapa enggak diterusin?"

"Waktu itu saya kesal sama bapak saya. Jadi berhenti deh kuliahnya."

"Kesal kenapa?"

"Dia pergi ninggalin saya dan ibu saya tapi enggak bilang-bilang."

"Pergi ke mana?"

"Ke surga. Kan saya jadi kesal ya?"

Aku terkejut mendengar jawaban darinya.

"Tapi seenggaknya saya pernah ngerasain bangku kuliah lah walaupun cuma sebentar," katanya sambil tertawa.

Jawabannya membuatku kembali berpikir ulang tentang masa lalu sekolahku yang kacau balau, sementara bagiku, ia memiliki semangat yang luar biasa untuk terus bersekolah hingga jenjang perkuliahan meski akhirnya harus putus di tengah jalan.

"Harusnya tahun ini saya diwisuda," ujar Alam lagi.

"Kan udah berhenti?"

"Iya kan saya bilang harusnya!" kali ini ia yang agak sedikit dongkol.

"He he he. Jadi lu pengen diwisuda?"

"Pengen. Tapi, ya begitu, kan udah berhenti. Jadi enggak bisa. He he he."

"Lagian kenapa berhenti? Kan masih ada ibu lu?"

"Dia juga nyusul bapak enggak bilang-bilang. Kayanya mereka janjian deh, soalnya cuma beda beberapa minggu doang waktu itu."

Sejenak, aku kembali terdiam mendengar jawaban darinya. Ada air yang menggenang di mataku dan seolah memaksa untuk minta dikeluarkan dari sarangnya.

"Kakak atau adik punya?"

Ia menggelengkan kepalanya, "Saya anak tunggal, dan bukan organ."

"Hah, kok organ?"

"Iya. Organ kan tunggal. Tapi saya bukan. Saya manusia biasa. Cuma kebetulan tunggal. Enggak ganda, apalagi ganda campuran."

"Ha ha ha ha ha."

Malam itu aku benar-benar dibuat berpikir, tertawa, kadang merenung, kadang tertawa lagi, kadang bingung, kadang sedih, kadang merasa iba juga, kadang suka, kadang jengkel, kadang suka lagi, kadang cinta. Hah, cinta?! Apakah benar aku mencintainya? Ini pasti salah! Atau aku baru sekadar suka dengan dirinya dan pembawaannya? Belum mungkin, belum cinta benaran. Tapi, ya...aku juga tak tahu apa yang aku rasakan ini. Aku cuma bisa senyum-senyum sendiri.

Bagian Selanjutnya