Syihab Malik
Syihab Malik Mahasiswa

Bogor-Bandung

Selanjutnya

Tutup

Novel

Alam dan Raya [5. Truk Ayam]

6 Juni 2018   00:06 Diperbarui: 7 Juni 2018   00:13 561 3 1
Alam dan Raya [5. Truk Ayam]
ilustrasi (pribadi)

Bagian Sebelumnya

Satu bulan lebih ibunda Dudi telah meninggalkan Dudi. Dan satu bulan lebih pula Dudi meninggalkan kami semua tanpa ada kabar lagi. Sampai pada satu hari sebuah SMS mendarat di HP Tejo. SMS itu datangnya dari Dudi yang mengatakan bahwa dirinya sekarang sudah bekerja di Bandung karena harus merawat dan membiayai bapaknya yang sudah tua dan sakit-sakitan. Ia juga meminta maaf karena baru memberi kabar. 

Kami sangat kehilangan Dudi, tapi bisa memaklumi kondisinya. Karena kami tahu, jauh dalam hatinya, ia adalah sosok yang sangat menyayangi keluarganya meskipun ia jarang pulang ke rumah dan lebih sering berada di jalanan bersama kami.

Setelah kejadian di konser itu, Alam kemudian bergabung dengan kami. Tidak terlalu sulit baginya untuk berbaur bersama kami semua di sini. Karena pembawaannya yang santai, kami juga pada akhirnya bisa cepat beradaptasi dengan Alam. 

Boleh dibilang, ia mengisi kekosongan yang selama ini selalu diisi oleh Dudi. Tapi, biar bagaimanapun, keduanya adalah sosok yang sama sekali berbeda dan tak bisa dibanding-bandingkan.

Seperti juga Dudi, Alam sering membuat kami semua terpingkal-pingkal ketika sedang berkumpul. Polah tingkahnya selalu menghibur kami, terutama aku yang sangat senang sekali tertawa, bahkan terhadap hal sepele sekalipun. 

Alam seperti tak pernah kehilangan ide terhadap segala hal. Selalu, dan selalu saja ada yang bisa ia kemas hingga membuat kami semua cekikikan. Tetapi, tidak dengan Tejo. Ia jarang sekali tertawa akhir-akhir ini. Aku tak tahu apa yang sedang ia alami.

Pernah satu waktu aku tanya langsung kepada Tejo kenapa ia jarang sekali tertawa belakangan ini dan tampak selalu murung, ia hanya menjawab bahwa dirinya tidak kenapa-kenapa dan berusaha meyakinkanku bahwa semuanya baik-baik saja. Katanya, mungkin ia cuma sedang kangen terhadap Dudi. Aku bisa memaklumi apa yang Tejo katakan itu dan lalu memeluknya.

Aku, Tejo, Pras, Mika, Bang Pegy dan Alam terus melanjutkan petualangan kami menuju daerah-daerah lainnya. Menjadi anak punk merupakan sarana pencarian jati diri bagi kami. Karena dengan mengunjungi dan mengetahui tempat-tempat baru kami bisa belajar tentang sesuatu yang selama ini tidak kami temukan di tempat lainnya. Setiap tempat selalu punya gairah dan muatan materinya masing-masing. Dan kali ini kami akan berkunjung ke Pacitan. Daerah yang posisinya berada di selatan Jawa Timur dan dipenuhi oleh pantai-pantainya yang indah.

Selama perjalanan menuju Pacitan kami berhenti di beberapa daerah dan bertemu dengan teman-teman punk lain. Terkadang kami ditawari tidur, makan, mandimeskipun jarang sekali, dan bantuan-bantuan lainnya. 

Tradisi punk memang seperti itu, setiap anak punk yang tempatnya disinggahi biasanya akan menjamu setiap anak punk lainnya yang datang. Dan itulah yang menjadikan kami semua bersaudara meski tidak saling kenal sebelumnya. Apakah persaudaraan memiliki syarat? Bagi kami tidak.

Kami menumpangi sebuah truk yang sepertinya telah mengangkut ayam sebelumnya karena bau dari truk ini sangat khas sekali dan membuat siapa saja yang menciumnya pasti akan langsung menutup hidungnya. Meskipun harus menutup hidung sepanjang perjalanan tetapi kami tetap melanjutkannya, karena sulit sekali mencari kendaraan-kendaraan yang mau menumpangi kami secara sukarela. Walaupun ada pasti jumlahnya sangat sedikit.

Sejauh ini hanya truk-truk semacam ini yang berbaik hati dan punya kemauan untuk memboncengi kami. Belum pernah kami menemukan ada mobil-mobil pribadi yang mau dengan senang hati mengajak kami untuk duduk di dalamnya. 

Padahal kami hanya ingin menumpang sesuai dengan trayek sang pengemudi. Tidak pernah kami memaksa untuk diantarkan ke suatu tempat yang spesifik. Dan tidak pernah pula ada niatan dalam diri kami untuk membegal mereka.

Sesampainya di Pacitan, kami memutuskan untuk berlibur ke pantai-pantai yang ada di sini. Liburan yang sama sekali berbeda dengan liburan seperti yang orang-orang biasa lakukan dengan uang-uangnya. 

Kalaupun mungkin ada kesamaan pasti itu hanya terletak pada sama-sama ingin melihat ombak dan matahari sore yang keindahannya tidak bisa ditolak oleh siapa pun yang datang berkunjung.

Terus terang, sejak kecil aku sangat senang sekali jika diajak pergi ke pantai. Ada sesuatu yang membuatku merasakan hal lain jika sudah berada di sini. Sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan karena aku juga tak tahu pasti apa yang aku rasakan itu. 

Kalau sudah di pantai, aku bisa berlama-lama menatap laut dan ombak-ombaknya yang tak pernah alpa. Apalagi kalau petang tiba, aku bisa seperti orang yang tidak memiliki IQ sama sekali.

Sekitar jam dua siang kami tiba di pantai. Di atas batang pohon kelapa yang sudah tumbang dan jatuh memanjang di pasir, kami duduk dan mengistirahatkan badan sambil menatap langit dan laut di hadapan kami.

"Musisi, musisi apa yang jualan roti?" kata Alam.

Kami semua terdiam dan baru menyadari kalau ternyata Alam sedang main tebak-tebakan.

"Joey Ramone," jawabku.

"Joey Ramone jualan roti memang, Ray?" tanya Mika.

"Enggak tahu juga sih, jawab aja."

"Ye...ngaco!" Mika sedikit kesal.

"Jadi, tahu enggak siapa musisi yang jualan roti?" tanya Alam lagi.

Kami semua menggelengkan kepala.

"Travis Bakery," jawab Alam yang membuat kami semua menjadi cekikikan.

"Ada lagi nih. Siapa musisi China yang sekarang tinggal di Mesir dan sering dikunjungi?"

Kami semua berpikir keras dan mencoba menjawab pertanyaan dari Alam.

"Enggak tahu ah, gua bukan orang China, apalagi Mesir!" kata Mika menyerah.

"Gua juga nyerah, Lam, enggak tahu," kata bang Peggy.

"Yang lain?" Alam menawarkan.

"Sama!" aku dan Pras serentak menjawab.

"Cici Piramida."

Kami semua saling berpandangan. Aku dan Mika, Pras dan Bang Pegy.

"Dari mana Chinanya, Lam? Dia kan orang Indonesia?" Pras penasaran.

"Ya...itu Cici. Kan orang China sering dipanggil Cici?" Alam menjelaskan.

"Tapi dia kan penyanyi dangdut?!" sergah Mika.

"Memangnya penyanyi dangdut bukan musisi?" Alam terkekeh-kekeh.

"Oh iya ya, kirain gua musisi punk doang yang lu maksud," Mika mengamini.

"Ha ha ha ha ha."

"Gua juga punya nih," kali ini Mika sepertinya yang akan mengajukan pertanyaan.

"Apa, Mik?" kata Bang Pegy.

"Siapa gitaris band punk yang sekarang jadi kapitalis?"

"Ucup Sorban?!" ucap Alam.

"Salah!"

"Joko Swallow?!"

"Salah!"

"Heri Takbir?!"

"Masih salah!"

"Yudi Merah Muda?!"

"Ngaco ih!"

"Mereka itu siapa, Lam?" tanyaku pada Alam.

"Teman main di rumah saya dulu, saya sering panggil mereka begitu," Alam menjawab.

"Mereka memang gitaris?"

"Bukan. Tapi dulu sih cita-citanya begitu."

"Jadi, tahu enggak siapa gitaris band punk yang sekarang jadi kapitalis?" Mika bertanya lagi.

Aku, Pras dan Bang Pegy menggelengkan kepala. Sementara Alam sepertinya akan menjawab lagi tapi kemudian dilarang oleh Mika, "Udah lu diam aja deh enggak usah jawab lagi!"

Aku tertawa melihat Mika dibuat kesal oleh Alam.

"Siapa memang, Mik?" kali ini Bang Pegy yang penasaran.

"Hmmmm...Steve Jones."

"Hah...Steve Jones?"

"Iya Steve Jones. Dia sekarang udah keluar dari Sex Pistols dan bikin Apple di Amerika."

Sore itu kami tertawa dan terus tertawa. Aku, Alam, Mika, Pras dan Bang Pegy sudah sangat larut dalam obrolan ringan dan tak penting itu. Sementara, sejak tadi tiba, Tejo memilih untuk menyendiri dan sedikit menjauh dari kami. Ia hanya duduk-duduk sendirian di sekitaran pantai tak jauh dari posisi kami berkumpul. Sepertinya, Tejo sedang kangen terhadap Dudi. Benar-benar kangen. Barangkali begitu.

Bagian Selanjutnya