Syihab Malik
Syihab Malik Mahasiswa

Bogor-Bandung

Selanjutnya

Tutup

Novel

Alam dan Raya [4. Konser Kolektif]

4 Juni 2018   23:58 Diperbarui: 6 Juni 2018   00:14 571 2 0
Alam dan Raya [4. Konser Kolektif]
ilustrasi (pribadi)

Bagian Sebelumnya

God save the queen

The fascist regime

They made you a moron

Potential H-bomb

Lirik lagu itu begitu terdengar jelas ketika aku dan Alam tiba. Konser musik yang berada di dalam ruangan gedung yang lumayan besar ini disesaki puluhan, bahkan ratusan penonton yang hadir. Bisa jadi juga mencapai ribuan. Aku tak tahu persis.

Rupanya, ada banyak orang yang Alam kenal di sini. Sementara, aku masih terus mencari teman-temanku sambil sesekali bersalaman dengan orang-orang yang dikenalkan oleh Alam. Hingga pada akhirnya, aku memutuskan untuk mencari seorang diri karena Alam begitu sibuk menyalami teman-temannya.

"Lam, gua cari sendiri aja deh."

"Yakin?"

"Iya enggak apa-apa gua cari sendiri aja. Lagian masih di dalam ruangan ini."

"Oke deh kalau begitu. Kalau masih enggak ketemu juga, berarti benar kamu lupa nyimpannya."

"Alam ih! Orang lagi panik juga," aku dibuat kesal lagi. Bisa-bisanya ia berbuat begitu di tengah kepanikanku. Kalau mereka benar-benar tidak ada bagaimana?!

"Enggak usah panik. Santai aja. Masak nonton konser panik sih?!"

"Ya...habisnya lu begitu."

"Iya deh maaf. Mendingan kamu cari senang daripada cari orang. Tujuan nonton konser kan begitu."

"Tuh kan ngeledekin terus!"

"He he he. Yaudah kalau mau cari sendiri. Nanti kalau saya ketemu sama mereka saya bilangin dicariin kamu."

"Memangnya lu kenal sama teman-teman gua?!"

"Belum, baru mau kenalan nanti kalau udah ketemu."

Aku tidak menjawab lalu pergi meninggalkannya. Sebelum benar-benar melangkah jauh, ia berbisik kepadaku dari arah belakang ketika aku sudah membalikkan badan, "Saya mau minta tolong. Kalau ada yang macam-macam sama kamu, kamu hajar sendiri aja. Tolong gantiin peran saya."

Aku tak menghiraukan bisikannya dan pura-pura tak mendengar. Padahal aku senyum-senyum sendiri.

Aku berjalan ke sana ke mari di tengah banyaknya massa yang hadir. Rasa khawatir terhadap mereka dan teramat dalam ini membuatku tak lelah untuk terus berusaha mencari dan menemukan mereka. Karena biar bagaimanapun, mereka adalah teman-temanku yang selama ini selalu bersamaku. Rasanya ada yang hilang ketika mereka tidak lagi di sampingku. Apalagi ini di Yogyakarta, tempat yang sangat asing buatku karena baru pertama kali ke sini.

Sekian lama mencari dan tak kunjung ketemu, aku mulai berpikir yang tidak-tidak. Jangan-jangan mereka ditangkap polisi. Jangan-jangan mereka dipukuli warga. Jangan-jangan mereka...ah sudahlah mungkin ini hanya kekhawatiranku yang berlebih. Mereka pasti baik-baik saja.

Di atas panggung, band-band terus melantunkan musiknya secara bergiliran. Para penonton asyik ber-pogo ria persis di depan panggung itu, sebuah upacara wajib bagi para anak punk ketika menghadiri konser-konser musik. Suasana di sini sangat tidak kondusif dan begitu bising. Menjadikan aku semakin sulit untuk mencari dan menemukan mereka. Aku mulai merasa ingin menyerah. Kesepian begitu terasa di tengah hingar-bingar ini. Aku payah sekali.

Namun, betapa terkejutnya aku ketika melihat Pras muncul di atas panggung sambil memegang sebuah gitar. Aku senang bukan kepalang melihat ia ada di sana dan baik-baik saja. Tapi bagaimana dengan yang lain? Aku masih belum melihat wajah Mika, Tejo, Dudi, dan Bang Pegy. Kupanggil Pras dari bawah panggung, tetapi ia tetap tidak melihatku karena sedang fokus dengan gitarnya dan hanyut terbawa suasana. Lagi pula posisi panggungnya juga cukup tinggi. Ditambah aku berada di antara banyaknya penonton yang hadir. Ia pasti tidak akan melihatku.

Tiba-tiba, seonggok tangan mendarat di bahuku. Aku siaga, khawatir seseorang mau berbuat yang tidak-tidak padaku.

"Woi...ke mana aja lu?!" kata orang yang meletakkan tangannya di atas bahuku itu. Suaranya sangat aku kenal.

"Kita semua khawatir sama lu. Kirain kecemplung dan kebawa arus di sungai," katanya sambil tertawa. Ternyata dia adalah Dudi. Aku memeluknya begitu tahu bahwa dia adalah si anak punk yang sering kentut bukan pada tempatnya. Aku harap dia tidak melakukan itu di sini karena pasti akan sangat tidak menyenangkan buat kami semua yang hadir di ruangan ini. Walaupun pasti akan kalah harum oleh aroma tubuh para penonton yang berkeringat dan kepulan asap rokok yang menyengat.

"Sialan lu, gua baik-baik aja. Yang lain mana?" tanyaku pada Dudi.

Dudi menunjuk ke arah belakang. Tak lama yang ditunjuk datang menghampiri kami berdua. Aku bersyukur Tejo, Mika dan Bang Pegy juga baik-baik saja. Akhirnya kami berkumpul kembali di sini, di dalam gedung ini. Aku memeluk mereka bergantian.

"Syukur lu enggak kenapa-kenapa, Ray," kata Bang Pegy sambil menepuk-nepuk bahuku.

"Iya, Bang. Lu juga. Si Mika tadi pagi lu gendong?" tanyaku.

Bang Pegy mengangguk, "Lu tahu enggak? Dia baru bangun pas polisinya udah pada pergi. Gila memang dia kalau udah tidur."

"Gua kan udah pernah bilang, Bang, ibunya Mika tuh ngidam liang kubur waktu ngelahirin dia, jadi kaya orang mati," sergah Dudi yang membuat kami semua menjadi tertawa tergelak-gelak.

"Biarin, tidur kan bikin sehat!" ucap Mika sambil menjulurkan lidahnya ke arah Dudi.

"Orang sehat mana yang hidupnya di alam bawah sadar melulu?" jawab Dudi lagi dan Mika hanya membalas dengan pukulan kecil di dada Dudi.

Aku mulai bisa merasakan ketenangan setelah mengetahui bahwa keadaan mereka baik-baik saja. Selanjutnya, aku, Dudi, Tejo, Mika dan Bang Pegy tenggelam ke dalam euforia musik yang ada. Sambil menyaksikan Pras sedang beraksi di atas panggung, kami masuk ke dalam lingkaran orang-orang yang sedang melakukan pogo.

Kami baru keluar dari lingkaran ketika Pras sudah berhenti memainkan musik bersama bandnya setelah membawakan kira-kira enam lagu yang membuat kami semua menjadi mandi keringat. Kemudian Pras turun dari atas panggung dan menghampiri kami yang cukup kelelahan setelah melakukan aksi itu. Posisi kami berenam kini berada di sudut ruangan gedung dan agak menjauh dari letak panggung. Kami akan beristirahat sejenak.

Tak lama setelah kehadiran Pras, kemudian aku meminta izin kepada mereka untuk keluar sebentar karena dadaku mulai terasa sesak dan butuh udara segar. Aku tidak mungkin mengajak mereka semua untuk keluar ruangan karena mereka sedang asyik menyaksikan band-band penampil lainnya. Jadi, lebih baik aku sendiri yang keluar. Mereka juga sudah paham bagaimana kondisiku.

Di luar gedung, ada dua buah kursi panjang yang posisinya menghadap langsung ke arah pintu masuk. Letaknya berada persis di tengah-tengah halaman depan gedung itu yang juga dipenuhi rumput dan terlihat seperti taman kecil dengan beberapa pencahayaan yang cukup. Aku melihat seseorang sedang duduk di salah satu kursi panjang itu. Aku melihat Alam di sana. Seorang diri.

"Ngapain di sini sendirian?" tanyaku.

Dia langsung menyeka pipinya ketika aku datang menghampiri. "Eh, Raya. Enggak, enggak ngapa-ngapain, lagi pengen di sini aja, nemanin nyamuk," jawabnya spontan.

"Hah?! Nemanin nyamuk?"

"Iya nemanin. Kasihan, badannya kecil."

"Ha ha ha. Kan memang semua nyamuk begitu? Kecil, kurus, tapi bisa terbang."

"Makanya saya temanin. Habis, saya suruh mereka ke PMI enggak pada mau, katanya harus bayar. Dan mahal. Nih saya lagi donorin darah buat mereka, gratis. Kamu mau juga?" katanya menawarkan.

Aku terkekeh-kekeh, "Enggak. Terima kasih."

"Ya udah kalau enggak mau."

"Lu nangis?" tanyaku.

"Hah?! Nangis? Enggak kok," ia menggelengkan kepala.

"Itu!" tudingku sambil menunjuk matanya yang masih berkaca-kaca.

"Oh...ini..." katanya dengan penuh ketenangan, "ini bukan nangis, bola mata saya cuma lagi keringatan, abis ikut pogo tadi di dalam. Capek!"

Aku selalu dibuat tersenyum dan tertawa oleh kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya. Aku tak tahu apa yang ada di pikirannya, kata-kata yang keluar dari mulutnya itu selalu terdengar nyeleneh dan tidak begitu penting, tetapi setelah aku pikir-pikir, ternyata dia benar juga. Walaupun kadang jawaban-jawabannya itu seolah mengalihkan pertanyaan.

"Gua juga tadi ikutan tapi enggak keringatan matanya?!" kataku menyangkal.

Alam tidak menjawab dan pura-pura sedang berbincang dengan nyamuk yang hinggap di tangannya.

Tak berapa lama, Bang Pegy, Pras, Mika, Tejo dan Dudi keluar dari dalam gedung. Aku memerhatikannya dari kejauhan. Namun, raut wajah mereka berbeda sekali ketika itu. Aku lihat Mika mengelus-elus rambut Dudi. Yang dielus sedang menutupi mukanya dengan kedua tangannya. Melihat adegan yang tak biasa itu, aku kemudian menghampiri mereka. Alam mengikutiku dari belakang.

"Ada apa ini, Bang?" tanyaku pada Bang Pegy.

Ia tidak menjawab dan hanya menundukkan kepalanya. Begitu pun yang lain hanya berdiam diri tak bersuara.

"Dudi, lu kenapa? Ayo jawab!" aku bertanya lagi, kali ini kepada Dudi.

Bang Pegy kemudian menunjukkan HP milik Dudi yang digenggamnya. Ia menyuruhku untuk membaca SMS masuk yang ada di HP itu. Aku menitikkan air mata setelah membacanya. Aku lihat kesedihan yang begitu dalam di wajah teman-temanku, terutama Dudi. Aku mengerti apa yang Dudi rasakan.

Ibunda Dudi meninggal dunia! Berita kematian itu begitu membuat kami semua terpukul. Pasalnya, kematian itu sendiri terjadi secara tidak wajar dan sangat mengejutkan. Dari SMS itu dikatakan bahwa ibunda Dudi meninggal akibat disiksa secara sadis oleh majikannya di tempatnya bekerja. Ibunda Dudi adalah seorang TKI yang sudah sekian tahun tidak pulang ke Indonesia.

Malam itu, sebuah penantian panjang yang dilakukan oleh Dudi juga keluarganya di Bandung terjawab, meski pada akhirnya yang datang itu adalah kabar kedukaan yang amat sangat mengagetkan. Kerinduan Dudi terhadap ibundanya terbalas oleh kabar pilu yang benar-benar menyakitkan. Siapa yang bisa terima dengan kejadian seperti itu?!

Jenazah ibunda Dudi rencananya tiba di Indonesia besok pagi dan akan dimakamkan pada siang harinya. Namun, Dudi masih di sini, di Yogyakarta, sebuah kota yang berjarak ratusan kilometer dengan Bandung. Adalah sebuah kemustahilan bisa sampai di Bandung besok pagi dengan cara menumpangi truk-truk secara bertahap dari satu truk ke truk lainnya sebagaimana kami biasa melakukannya. Butuh berhari-hari agar bisa sampai ke sana dengan cara seperti itu.

Sebenarnya, ada cara lain agar bisa sampai ke Bandung tepat pada pagi hari yaitu dengan naik bis, kereta atau paling cepat dengan pesawat terbang. Dari ketiga cara itu, semuanya mustahil karena nyatanya kami semua tidak punya cukup uang untuk itu. Tejo yang biasanya selalu memiliki uang lebih juga kebetulan sedang bernasib sama dengan kami semua. Kami menjadi bingung sekaligus sedih.

Dudi berusaha tegar dengan mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja dan tidak perlu merepotkan kami semua di sini. Kami jelas merasa bahwa itu adalah sebuah kepalsuan belaka di mana raut muka juga gestur tubuhnya tidak mencerminkan hal itu sama sekali. Kami paling paham bagaimana dirinya, seseorang yang di balik keceriaannya menyimpan sejuta kesedihan. Kemudian kami berpikir untuk mencari jalan keluar dan berdiam lama.

"Tunggu di sini! Jangan ke mana-mana!" Tiba-tiba suara Alam memecah kebisuan kami semua. Ia lalu masuk ke gedung itu lagi. Kami semua bingung dengan apa yang akan dilakukan olehnya. Tak lama kemudian, riuh suara musik yang ada di dalam gedung pun hening seketika. Lamat-lamat, terdengar suara seorang lelaki sedang berbicara dengan mikrofon yang sama yang digunakan oleh para penyanyi di atas panggung.

Beberapa menit kemudian, suara itu hilang lagi dan suasana kembali sepi. Kami masih tak tahu apa yang dilakukan oleh Alam di dalam gedung itu. Konser musik sepertinya sudah selesai, padahal belum waktunya. Kemudian dari dalam gedung, Alam muncul kembali sambil membawa sebuah kantong plastik. Lalu memberikannya pada Dudi.

Kami terperangah ketika mengetahui bahwa kantong plastik yang dibawa oleh Alam itu berisi sejumlah uang yang didominasi oleh uang recehan. Selanjutnya kami berusaha membantu Dudi untuk menghitung uang yang sepertinya didapatkan Alam dengan cara kolektif tersebut. Musik kembali terdengar dari dalam gedung. Dan Dudi, tak henti-hentinya berterima kasih kepada pria yang dengan senang hati mau mengumpulkan uang untuk seseorang yang bahkan tidak dikenalnya sama sekali. Senyum mulai kembali mengembang di wajah Dudi.

Dudi akhirnya bisa pulang ke Bandung dengan menaiki bis sendirian. Sementara, laki-laki itu, yang dengan segala kepeduliannya yang begitu tinggi, kembali membuatku terenyuh. Tak percaya dengan apa yang ia perbuat. Kami semua berterima kasih padanya.

Bagian Selanjutnya