Syifa Ann
Syifa Ann pelajar/mahasiswa

Alumni Sosiologi, Penyuka Puisi | Pecinta Buku Nonfiksi & Kisah Inspirasi. | Pengagum B.J Habibie. | Pengguna K'- Mobilian. | Addicted With Joe Sacco's Books. | Risk Taker. ¦ A Warrior Princess on Your Ground. | Feel The Fear, and Do It Anyway :)

Selanjutnya

Tutup

Muda Artikel Utama

Skripsimu Mandek? Hindari 6 Macam Pikiran Ini!

9 Mei 2018   00:41 Diperbarui: 9 Mei 2018   03:44 2169 22 12
Skripsimu Mandek? Hindari 6 Macam Pikiran Ini!
Pixabay.com

Skripsi. Sebuah kata yang terdiri dari 7 huruf, tapi butuh jutaan huruf untuk menyusunnya menjadi sesuatu yang utuh. Tugas akhir yang harus ditempuh mahasiswa di Indonesia untuk meraih gelar sarjana ini pasti punya cerita dan perjuangannya sendiri bagi setiap orang yang pernah atau sedang menjalani.

Bersyukurlah kalau skripsimu lancar dan baik-baik saja, tapi ada kalanya sebagian orang, mandek alias mengalami kebuntuan dalam proses menyusun perang akhir itu, sehingga skripsi terbengkalai lama dan diselingi dengan berbagai hal.  Satu tahun 11 bulan penulis pernah mengalami fase skripsi mandek tersebut, sampai akhirnya selesai juga dan berhasil wisuda bulan Maret 2018. Sebuah perjalanan yang memberi banyak pelajaran buat saya. Prosesnya akan dituliskan dalam artikel terpisah.

Skripsi mandek dan telat lulus memang menguras waktu, tenaga, pikiran, dan air mata, saya paham rasanya kesedihan itu, tapi dunia belum berakhir meski kamu mahasiswa tingkat akhir. Mahasiswa, Saat skripsimu mandek, hindari 6 macam pikiran ini ya:

1. "Aku Gak Bisa Selesaikan"

Memang ada saatnya ketika skripsi sedang sulit-sulitnya, entah soal data, dosen pembimbing, banyak coretan atau hal lainnya, pasti ada satu titik dimana kepercayaan dirimu drop ke titik terendah, beragam ketakutan mampir dibenakmu. Pernah berpikir gak sanggup? Kalau mungkin pernah, sesekali memang manusiawi, tapi pikiran ini jangan dibiarkan lama-lama, bahaya! 

Semakin kamu biarkan pikiran ini lama-lama di benakmu, semakin banyak waktu yang akan terbuang. Berdoa, dan segeralah cari cara. Gimana caranya, cuma kamu dan dosen pembimbingmu yang tahu, karena ini perang akhirmu, optimis dong kamu bisa menang!

Ilustrasi: Shutterstock
Ilustrasi: Shutterstock
2. Malas atau Malu Ah ketemu Dosen pembimbing!

Ada yang pernah berpikir begini? Penulis juga pernah kok. Kalau saya saat itu malu lebih tepatnya. Malu karena data-data yang waktu itu beliau minta belum saya dapat semuanya, data skripsi saya waktu itu memang agak sulit dikeluarkan oleh tempat yang jadi obyek penelitian saya. Rasanya malu kalau menghadap dosen pembimbing tanpa progres dalam skripsi, begitu pikiran saya saat itu. Dan itu berlangsung selama 7 bulan, sampai akhirnya salah satu dosen yang mengenal saya menggandeng tangan saya ke ruangan DP 1 saya, ketika saya cerita tentang skripsi yang mandek cukup lama. 

Respon dosen tersebut adalah menjawab dengan tegas, "Ayo! Ketemu Bu (....) Sekarang!" Sambil menggandeng tangan saya ke ruangan dosen pembimbing saya, di luar dugaan, dosen pembimbing saya gak marah dan gak banyak tanya, setelah saya ceritakan tentang 7 bulan ajaib saat saya "hilang" dari kampus itu, dosen pembimbing saya malah memaklumi dan memberikan banyak saran.

Nah! Bodoh dan bikin repot ya saya waktu itu? Kalau sekarang saya bisa jawab IYA. Ketemu dosen pembimbing itu proses penting dari skripsi, yang baru saya sadari setelah 7 bulan "lenyap" dari peredaran. Duh! Hey mahasiswa yang lagi skripsi, jangan pernah kayak saya untuk hal ini. Temui aja dosen pembimbingmu, karena diskusi dua kepala selalu lebih baik dari satu kepala, beban Skripsi jangan disimpan sendiri.

3. Semuanya "Gakpapa."

Data Skripsi lama keluar "gak apa-apa"

Kena 'lempar-lempar' "gak apa-apa"

Proposalmu lama gak ada kabar "gak apa-apa"

**

Kalau ini yang terjadi, kamu sudah mati rasa sama dirimu sendiri, saking letihnya.

Syifa pernah gitu? Pernah! dan itu salah. Kenapa? Hemm.. Yang saya bisa bilang cuma Skripsi itu salah satu gerbang masa depanmu. Stop bilang "gak apa-apa" kalau ternyata ada yang gak beres dengan perang akhirmu. Jangan semuanya "gak apa-apa karena takut bikin orang lain gak nyaman, tapi justru kamu nangis sendirian,  jangan begitu! Kalau ada yang gak beres dengan skripsimu, bilanglah. Setidaknya setelah berbagi cerita akan ada pertimbanganmu untuk menentukan langkah selanjutnya. 

Karena mungkin skripsimu bisa jadi hal yang sepele bagi orang lain, dan biar saja jika ada orang yang beranggapan begitu, tapi tugas akhir itu salah satu tahap terpenting dalam hidupmu, percaya deh.

Guys, you don't need to be okay all the time and don't let people Invalidate your feeling, your feelling is valid and real, cause you are a human.

**
Bilanglah kalau ada yang mengganjal, jangan takut dibilang "Ah, gitu doang" dimana pun tempatnya, Dari 100 orang di tempat tersebut, pasti ada minimal 1 orang kok yang peduli dan akan bertindak membantumu sebisanya :)

4. "Ganti Judul Ah" atau "Pokoknya Aku Tetap Mau Topik Ini"

Terlalu cepat mengganti judul skripsimu karena kesulitan di suatu fase akan membuat kamu selalu stag di bab-bab awal dan tidak pernah fokus, sementara terlalu lama bertahan di judul skripsi yang sudah lama tanpa progres akan memperlama kelulusan kuliahmu. Gimana dong?

Saran saya, kalau kesulitannya cuma di perizinan atau teknis sih pertahankan judul skripsimu, tapi kalau kamu kesulitan mendapatkan narasumber, kesulitan dapat data atau yang lebih parah skripsimu kena "lempar-lempar" alias oper sana-oper sini di suatu tempat, mungkin ada baiknya kamu ganti judul, tapi jangan lupa konsultasi dulu ke dosen pembimbingmu, karena suka atau tidak, kamu dan dosen pembimbingmu adalah satu tim. 

Syifa pernah skripsi kena "lempar-lempar?" Pernah! Dan saya masih menangis sampai hari ini kalau ingat itu, karena saya pikir mungkin penelitian saya tentang topik itu cuma ganggu dan bikin repot orang saja, tapi tahap itu memang harus dan sudah saya jalani, Thanks God! :) Dan Syifa ganti judul? Anehnya waktu itu tidak, alasannya akan saya tulis di artikel lain. Namun saran saya, jika sudah ketemu tanda-tanda "kena lempar" ganti aja. "Kena lempar" (dalam tanda kutip) itu saakiiit!  Meski gak berdarah, Percaya deh.

5. Capek Ah! Di DO Juga Gakpapa

Hindari berpikir seperti itu ya, Drop out (DO) itu ngeri sekali! Memangnya Syifa pernah berpikir begitu? Jujur, ada saat-saat saya berpikir begitu ketika semangat saya merosot ke titik terendah rasanya capek, tapi dalam hitungan hari, saya buru-buru menepis pikiran gila itu, dan setelah titik itu sepenuhnya bisa saya lewati sekarang, rasanya seram sekali dulu saya pernah berpikir begitu meski sebentar, gak lagi-lagi. 

Bersyukur, akhirnya saya tidak pernah di DO. Hey mahasiswa,  jangan pernah berpikir ingin di DO ya... Itu ngeri sekali meskipun baru tahap pikiran. Ingat orang tuamu dan ke siapa saja kamu berjanji akan sarjana, dan penuhi itu. Jika kamu keluar dari kampus untuk selamanya, maka itu harus dengan ijazah asli, resmi. Tanamkan itu dalam pikiranmu.

6. Mau Bunuh Diri

Ini sengaja saya letakan di poin terakhir. Saya belum pernah berpikir seperti itu, membayangkannya saja ngeri sekali. Jangan pernah berpikir seperti itu, percaya deh untuk yang skripsi, momen pakai toga dan cium tangan orang-orang tersayang saat wisuda itu terlalu indah untuk gak dijalani, dan hanya orang yang masih hidup yang bisa pakai toga. :)

**
Setiap proses skripsi memiliki cerita dan kenangannya sendiri untuk diingat sebagai pengalaman dan pelajaran. Nah, jika saat ini skripsimu mandek, hindari berpikir seperti 6 hal di atas ya.

Percaya deh, skripsi akan berakhir indah bagi mereka yang tidak mudah menyerah, dan setiap mahasiswa tingkat akhir adalah pejuang!

dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi
Salam Kreatif!