Mohon tunggu...
Syauqina Effendy
Syauqina Effendy Mohon Tunggu... Pelajar Sekolah - Pemimpi

Jangan tanya siapa aku karena aku juga belum tahu.

Selanjutnya

Tutup

Roman Pilihan

Sang Wanita dan Si Pria

4 Mei 2024   13:50 Diperbarui: 4 Mei 2024   13:52 68
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Roman. Sumber ilustrasi: pixabay.com/qrzt

"Kau mengkhianatiku." Ucap seorang wanita dengan gaun satin berumbai merah di ujung koridor berkarpet merah. Nadanya getir. "Aku tidak pernah mengkhianatimu. Memang sedari awal aku tidak cinta kau," dan yang diajak bicara membalas perkataanya. "Tapi aku selalu mencintaimu!" Wanita itu berteriak, rambutnya acak-acakan, mungkin jika orang yang lalu-lalang melihatnya, mereka akan memanggilnya 'wanita gila'. Berteriak-teriak di gedung yang penuh hiruk-pikuk.

"Jangan bicara di sini. Ayo ke kantorku saja. Kau membuatku malu." Pria itu menggenggam paksa tangan sang Wanita. Tapi wanita itu gesit, ia menggigit tangan si Pria. Lalu menarik dirinya sekuat tenaga hingga jatuh ke lantai. Menyedihkan. Kata orang.

"Aku mencintaimu!" Sekali lagi, wanita itu membentak. "Aku tidak, Sienna. Hentikan drama murahan ini. Atau aku akan semakin membencimu," Si Pria melontarkan ujaran kebencian dengan wajah datar. Rajutan kalimat itu halus, tapi di sela-sela setiap rajutannya, ada beribu-ribu jarum berukuran kurang dari satu milimeter. Ribuan jarum itu sekarang menghunus, melukai sang Wanita--dan membuatnya terdiam sambil menunduk.

"Kalau begitu, urusannya akan gampang. Ceraikan aku," wanita itu mengubah nadanya, menjadi tenang. "Tidak boleh, tidak bisa. Tidak akan pernah bisa," ujar pria.

 "Kenapa?! Aku sudah tidak berguna untukmu. Tidak ada lagi yang bisa kau ambil dariku," maju selangkah demi selangkah, mendekati si Pria. Menatap matanya dengan garang dan penuh kesumat. "Kau tidak boleh bahagia sendiri! Kau harus hidup dan tersiksa denganku!"

Oh, wahai, dialog menyakitkan berpuluh tahun lalu. Kuharap mereka berdua tersiksa. Kuharap mereka berdua berakhir di neraka. Mereka telah merusakku, yang hanya gaun satin biasa. Aku diinjak, dibakar, dianggap terkutuk hanya karena aku menyimpan kenangan Sang Wanita, Tuanku. 

Mohon tunggu...

Lihat Konten Roman Selengkapnya
Lihat Roman Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun