Mohon tunggu...
syarif ridwan
syarif ridwan Mohon Tunggu...

Lahir di Makassar 1969. Pest. Darul Arqam 88, LIPIA 93, Tinggal di Utan Kayu, Matraman. Mengelola Yayasan Almanar, Jakarta.

Selanjutnya

Tutup

Politik

Golkar Jadi Bumper dan Bungker Koruptor?

11 Oktober 2009   11:19 Diperbarui: 26 Juni 2015   19:36 1099 0 0 Mohon Tunggu...

Tergelitik juga membaca komentar seorang tokoh Golkar, Zainal Bintang yang dilansir Harian Kompas, Jum’at (10/10) menanggapi format kepengurusan baru DPP Golkar dibawah kepemimpinan Aburizal Bakri yang menempatkan orang-orang yang dianggap dapat terkait dengan masalah hukum khususnya korupsi. Bung ZB berkata, “Saya khawatir Partai Golkar akan dijadikan bungker dan bumper para koruptor,” Kompas, Komentar tersebut sebenarnya telah saya kutipkan pada postingan sebelumnya disini: http://public.kompasiana.com/2009/10/10/mungkinkah-arb-bumihanguskan-golkar/ . Walau komentar bung ZB tersebut tidak mengarah kepada sosok tertentu, namun pernyataan itu setidaknya menjelaskan kepada kita Partai Politik di tanah air lazim dijadikan sebagai bungker atau tempat berlindung dan tameng bagi para politisi yang terlibat kasus korupsi.

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa pada tahun 2007 Transparancy International (TI) menempatkan Indonesia dalam 10 negara paling korup di samping Nigeria, Pakistan, Kenya, Bangladesh, China, Kamerun, Venezuela, Rusia, dan India. Apakah peringkat tersebut telah mengalami perubahan atau belum, saya sendiri belum mendapat data paling aktual. Namun usaha KPK dua tahun terakhir dengan menangkap dan memenjarakan sejumlah tokoh terkenal karena kasus korupsi bisa saja mengubah peringkat Indonesia keluar dari 10 besar. Walau banyak kalangan melihat bahwa upaya pemberantasan korupsi masih tebang pilih. Apalagi kasus paling anyar adalah bailout Bank Century yang senilai Rp 6,7 triliun, hingga saat ini kasus tersebut belum menyentuh pihak-pihak yang harus bertanggungjawab yang mengakibatkan kerugian negara yang sangat besar.

Pada tahun 2005 lalu, hasil survei Transparency International Indonesia (TII) menunjukkan bahwa DPR dan partai-partai politik merupakan lembaga yang paling banyak melahirkan koruptor. Hasil survey ini tentu saja membuat DPR gerah dan memanggil TII untuk menjelaskan kepada mereka hasil survey tersebut. Kemungkinan besar hasil survey itu belum mengalami perubaha signifikan bila kita menyaksikan bahwa memang tidak sedikit kader sebuah partai yang akhirnya jadi pesakitan dan dijebloskan ke dalam jeruji besi karena terlibat kasus korupsi. Bahkan prilaku tersebut kerap dilakukan secara berjama'ah dengan menjadikan partai sebagai bumper.

Para pembaca mungkin tidak asing lagi dengan nama-nama anggota partai yang pernah malang melintang di layar kaca karena terlibat kasus korupsi; Al-Amin Nur Nasution (PPP), Bulyan Royan (PBR), Sarjan Taher (Partai Demokrat), Yusuf Erwin Fasial (PKB), Abdul Hadi Jamal (PAN), dan mungkin masih banyak yang lain yang sedang dalam proses pengadilan atau bahkan sudah berada di dalam penjara. Banyaknya kader partai yang terlibat dalam kasus korupsi dengan sendirinya membenarkan statemen bung ZB di atas, bahwa partai begitu mudah dijadikan sebagai bungker dan bumper untuk melakukan tindak kejahatan. Dan juga tak dapat disalahkan cibiran masyarakat bahwa partai politik adalah wadah yang  paling cepat dan tepat untuk memperkaya diri walau dengan cara yang sangat kotor betapapun ia duduk sebagai anggota dewan yang terhormat.

Defisit moral dan hilangnya rasa malu adalah virus paling mematikan yang bila menjangkiti para kader partai, anggota legislatif dan eksekutif, maka perbuatan kotor dan keji pun menjadi tampak wajar dilakukan. Seperti itulah wajah para politisi dan pejabat negeri ini yang dahulu kita pilih dengan harapan dapat membawa kebaikan bagi bangsa dan negara. Ternyata jauh panggang dari api. Dan konsekwensinya, kita masih akan menyaksikan para politisi tanah air yang akan mementaskan lakon “Para Koruptor Yang Tiada Habisnya”.

Utan Kayu, 11.10.2009

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x